JAKARTA - Fluktuasi pasar saham yang terjadi sepanjang 2025 mendorong emiten perbankan besar untuk mengambil langkah strategis guna menjaga kepercayaan investor.
Di tengah tekanan global, ketidakpastian geopolitik, serta tantangan likuiditas domestik, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyiapkan kebijakan korporasi yang dinilai krusial, yakni pembelian kembali saham atau buyback.
Langkah ini diproyeksikan menjadi sinyal optimisme manajemen terhadap kekuatan fundamental perusahaan sekaligus respons atas dinamika pasar yang belum sepenuhnya stabil.
BBNI pun mengajukan rencana buyback saham dengan nilai maksimal Rp 1,5 triliun. Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Maret 2026. Melalui aksi ini, BBNI berharap dapat menjaga stabilitas harga saham serta mencerminkan nilai wajar perusahaan di mata pelaku pasar.
Rencana Buyback Saham Jadi Langkah Strategis
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan 29 Januari 2026, manajemen BNI menjelaskan bahwa aksi pembelian kembali saham dirancang fleksibel, baik dilakukan secara bertahap maupun sekaligus.
Proses buyback ini direncanakan berlangsung paling lama dua belas bulan sejak RUPS digelar. Dengan demikian, batas akhir penyelesaian aksi tersebut ditetapkan paling lambat pada 8 Maret 2027.
Manajemen menegaskan bahwa pelaksanaan buyback akan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi pasar modal, likuiditas perusahaan, harga saham, hingga ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Langkah kehati-hatian ini dilakukan agar buyback tidak mengganggu stabilitas keuangan dan operasional perseroan.
Nilai buyback saham diperkirakan maksimal mencapai Rp 1,5 triliun. Angka ini tidak melebihi 10% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor perseroan. Dana buyback bersumber dari arus kas bebas atau free cash flow, berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.
Sumber Dana Dan Perhitungan Biaya Transaksi
BBNI memastikan bahwa sumber pendanaan buyback berasal sepenuhnya dari arus kas bebas. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak akan menggunakan dana eksternal ataupun mengganggu alokasi dana untuk kegiatan bisnis utama.
Dengan memanfaatkan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya, manajemen menilai langkah ini tetap selaras dengan prinsip pengelolaan keuangan yang prudent.
Selain nilai pokok buyback, manajemen juga memaparkan perkiraan biaya transaksi yang akan timbul. Biaya tersebut meliputi biaya transaksi bursa, biaya penyimpanan saham, hingga commitment fee. Secara keseluruhan, biaya transaksi diperkirakan sekitar 0,32% dari nilai eksekusi buyback, dengan asumsi buyback dilaksanakan secara penuh.
Perhitungan yang transparan ini menjadi bagian dari upaya manajemen untuk memberikan gambaran menyeluruh kepada pemegang saham terkait dampak finansial dari aksi korporasi tersebut.
Pertimbangan Kondisi Pasar Dan Tantangan Global
Manajemen BNI mengungkapkan bahwa salah satu latar belakang utama rencana buyback adalah tekanan yang melanda pasar saham Indonesia sepanjang 2025. Ketidakpastian global menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan indeks dan harga saham, termasuk saham perbankan nasional.
Selain itu, tantangan likuiditas serta perlambatan permintaan kredit di dalam negeri turut memberikan tekanan terhadap kinerja saham sektor perbankan. Kondisi ini mendorong manajemen untuk mengambil langkah antisipatif agar harga saham perseroan tetap mencerminkan fundamental yang dimiliki.
Dalam keterbukaan informasi, manajemen menyatakan bahwa buyback dipandang sebagai bentuk kepercayaan diri terhadap prospek jangka panjang perusahaan, sekaligus sebagai upaya menjaga nilai pemegang saham di tengah volatilitas pasar.
Fundamental BNI Tetap Kuat Di Tengah Tekanan
Meski pasar menghadapi berbagai tantangan, manajemen BNI menegaskan bahwa kinerja fundamental perusahaan masih berada pada jalur positif. Perseroan memproyeksikan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan dukungan permodalan yang solid serta kualitas aset yang terjaga.
“Permodalan BNI masih kuat, kualitas aset terjaga, pertumbuhan kredit yang imbang di semua segmen, dan pertumbuhan dana murah yang solid didukung oleh transformasi digital dan jaringan,” tulis manajemen.
Transformasi digital yang terus diperkuat menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga daya saing dan efisiensi operasional. Di sisi lain, jaringan bisnis yang luas dinilai mampu menopang pertumbuhan dana murah dan penyaluran kredit secara berimbang di seluruh segmen.
Namun demikian, manajemen juga mencermati potensi risiko yang masih membayangi pasar. Eskalasi konflik geopolitik dan perang tarif perdagangan yang belum mereda berpotensi menimbulkan tekanan inflasi melalui pergerakan nilai tukar. Kondisi tersebut dapat berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), termasuk saham-saham perbankan nasional.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, buyback saham diposisikan sebagai langkah strategis yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mencerminkan optimisme BNI terhadap prospek usaha dan ketahanan fundamental perusahaan dalam menghadapi dinamika ekonomi global.