Harga Minyak Meroket Akibat Badai Musim Dingin dan Ketegangan Geopolitik

Rabu, 28 Januari 2026 | 10:08:09 WIB
Harga Minyak Meroket Akibat Badai Musim Dingin dan Ketegangan Geopolitik

JAKARTA - Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan pada 28 Januari 2026, seiring dengan gangguan besar pada produksi minyak yang terjadi di Amerika Serikat akibat badai musim dingin yang parah.

 Dampak cuaca ekstrem ini mengakibatkan penurunan drastis dalam produksi minyak mentah dan melumpuhkan ekspor dari Pelabuhan Pantai Teluk AS. 

Selain itu, ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran turut memberikan tekanan pada pasar minyak global. Kenaikan harga minyak ini menunjukkan betapa rentannya pasar energi terhadap gangguan cuaca dan ketidakpastian politik global.

Badai Musim Dingin Mengganggu Produksi Minyak AS

Pada hari Selasa, 27 Januari 2026, harga minyak Brent naik sebesar USD 1,98 atau 3,02%, menutup perdagangan di angka USD 67,57 per barel.

 Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan yang signifikan, yakni sebesar USD 1,76 atau 2,9%, dan ditutup pada USD 62,39 per barel. 

Kenaikan harga ini sebagian besar dipicu oleh cuaca buruk yang melanda Amerika Serikat, di mana badai musim dingin menyebabkan gangguan pada produksi minyak mentah dan infrastruktur energi di kawasan Pantai Teluk.

Sejumlah analis memperkirakan bahwa produksi minyak AS turun drastis hingga 2 juta barel per hari atau sekitar 15% dari total produksi nasional. 

Ekspor minyak mentah dari pelabuhan-pelabuhan utama di Pantai Teluk AS juga terhenti total pada akhir pekan lalu karena kondisi cuaca yang ekstrem.

 Ekspor mulai pulih kembali pada hari Senin setelah pelabuhan dibuka kembali, namun gangguan tersebut telah memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan dalam jangka pendek.

Peningkatan Ketegangan Geopolitik Mengguncang Pasar Energi

Selain gangguan cuaca, ketegangan geopolitik juga memberikan dampak yang signifikan pada harga minyak. Pada pekan lalu, sebuah kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, beserta kapal perang pendukungnya tiba di Timur Tengah. 

Kehadiran armada ini memperpanjang kemampuan Presiden Donald Trump untuk membela pasukan AS atau berpotensi melakukan tindakan militer terhadap Iran. 

Peningkatan ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkatkan ketidakpastian pasar energi global, yang pada gilirannya mendorong harga minyak untuk tetap stabil dalam jangka pendek.

Menurut Fawad Razaqzada, analis pasar dari City Index, ketegangan ini memberikan dampak langsung pada harga minyak. “Pernyataan Trump bahwa AS memiliki ‘armada’ yang menuju ke Iran memperburuk ketegangan geopolitik, yang akan mempengaruhi kestabilan harga minyak dalam waktu dekat,” jelasnya. 

Selain itu, ketegangan yang tak kunjung mereda antara Ukraina dan Rusia juga menambah ketidakpastian pasar, di mana tidak ada kabar terbaru mengenai upaya perdamaian antara kedua negara tersebut.

Kondisi Produksi Minyak di Kazakhstan Juga Memberikan Dampak

Selain gangguan produksi di Amerika Serikat, masalah produksi juga terjadi di ladang minyak terbesar Kazakhstan, Tengiz. Kebakaran dan pemadaman listrik di ladang minyak ini menghambat produksi yang diperkirakan akan pulih hanya sebagian pada awal Februari 2026. 

Giovanni Staunovo, analis UBS, mencatat bahwa pemulihan produksi di Tengiz berlangsung lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya, yang membuat pasar minyak tetap ketat.

Meskipun ada sedikit dukungan dari pelemahan dolar AS, yang membuat harga minyak lebih murah bagi negara-negara yang menggunakan mata uang selain dolar, masalah produksi di Kazakhstan semakin memperburuk ketidakstabilan pasokan minyak global. 

Pasokan minyak yang terganggu ini menyebabkan investor semakin khawatir tentang potensi kelangkaan, mendorong harga minyak untuk terus mengalami kenaikan.

OPEC+ Mempertahankan Kebijakan Produksi yang Ketat

Ketegangan geopolitik dan gangguan produksi di berbagai negara turut mempengaruhi keputusan organisasi produsen minyak terbesar, OPEC+. 

Sebagai respons terhadap kondisi pasar yang tidak stabil, OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan kebijakan penundaan peningkatan produksi pada pertemuan 1 Februari mendatang. Keputusan ini didorong oleh kekhawatiran akan ketatnya pasokan dan ketidakpastian yang terus menghantui pasar minyak global.

Dengan OPEC+ yang terus membatasi peningkatan produksi, pasokan minyak global diprediksi akan tetap ketat, meskipun permintaan terus meningkat. 

Kebijakan ini menambah ketegangan dalam pasar energi, di mana produsen dan konsumen berjuang untuk mendapatkan pasokan yang memadai di tengah gangguan dan ketidakpastian.

Terkini