Gibran dan Selvi Hadiri Kenaikan Takhta Mangkunegara X

Selasa, 27 Januari 2026 | 14:43:01 WIB
Gibran dan Selvi Hadiri Kenaikan Takhta Mangkunegara X

JAKARTA - Solo kembali menjadi saksi peringatan kenaikan takhta KGPAA Mangkunegara X yang digelar di Pura Mangkunegaran, 27 Januari 2026.

Momen istimewa ini diramaikan oleh kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama sang istri, Selvi Ananda. Gibran tampil anggun dengan beskap, sementara Selvi memukau dalam balutan kebaya. 

Pasangan ini terlihat hangat menyapa tamu undangan di barisan depan Pendapi Ageng sebelum menempati kursi VIP di Bangsal Pringgitan, tak jauh dari posisi KGPAA Mangkunegara X. Kehadiran mereka menambah semarak acara yang sarat makna sejarah dan budaya tersebut.

Selain Gibran dan Selvi, sejumlah tokoh nasional dan lokal hadir memberikan penghormatan. Selebritas Sinna Sherina Munaf duduk rapi di barisan kedua, menghadap ke arah barat. 

Tak ketinggalan Wali Kota Solo Respati Ardi, Wakil Wali Kota Astrid Widayani, Sekda Provinsi Jawa Tengah Sumarno, serta politisi PDIP Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul turut hadir. Kehadiran tokoh-tokoh ini menunjukkan pentingnya acara yang bukan sekadar seremonial, tetapi juga simbol persatuan dan budaya.

Makna Peringatan Tingalan Jumenengan

Peringatan kenaikan takhta, atau tingalan jumenengan, merupakan tradisi yang sarat makna bagi Pura Mangkunegaran. 

Berdasarkan keterangan tertulis dari Kawedanan Manggala Pranaya Pura Mangkunegaran, acara ini menjadi momen syukur atas satu tahun kepemimpinan KGPAA Mangkunegara X sekaligus pembuka tahun kelima masa pemerintahannya.

Humas Kawedanan Manggala Pranaya Pura Mangkunegaran menjelaskan, "Tingalan Wiyosan Jumenengan Dalem dibuka dengan penampilan bergodo prajurit atau royal defile, Bedhaya Anglir Mendhung, hingga klenengan gamelan." 

Penekanan pada tradisi ini menunjukkan bagaimana Mangkunegaran tetap mempertahankan akar budaya meski menghadapi perkembangan zaman.

Pesona Tari Bedhaya Anglir Mendhung

Salah satu momen paling sakral dalam peringatan ini adalah tarian Bedhaya Anglir Mendhung. Tarian yang dibawakan tujuh penari selama 45 menit ini mengisahkan perjuangan RM Said atau Mangkunegara I bersama dua sahabatnya, Kudono Warso dan Ronggo Panambang, melawan Belanda di Trowulan, Jawa Timur.

Kendati banyak tamu undangan yang ingin mengabadikan momen ini, pengambilan gambar dilarang karena Bedhaya Anglir Mendhung adalah tarian sakral Puro Mangkunegaran. Larangan ini menegaskan betapa pentingnya menjaga nilai spiritual dan budaya yang melekat pada setiap gerak tarian.

Tiap tahun, tema tingalan jumenengan berbeda, namun selalu mencerminkan visi Mangkunegaran yang sejalan dengan perkembangan zaman. Hal ini terlihat dari sabda dalem KGPAA Mangkunegara X, yang secara rutin menekankan hubungan antara tradisi dan dinamika modern dalam kepemimpinannya.

Kehadiran Para Pejabat dan Kerabat Keraton

Selain tamu undangan resmi, acara ini juga dihadiri oleh keluarga kerajaan dan perwakilan pemerintah. Permaisuri KGPAA Paku Alam X, Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam, hadir bersama PB XIV Hangabehi serta putra-putri PB XII. 

Forkopimda Kota Surakarta turut memberikan penghormatan mereka, menegaskan pentingnya acara ini sebagai ajang silaturahmi antara kerajaan dan pemerintah daerah.

Keberagaman tamu undangan, mulai dari pejabat negara, selebritas, hingga keluarga kerajaan, menjadikan peringatan ini sebagai simbol integrasi budaya, politik, dan sosial. Suasana khidmat terasa dari awal hingga akhir acara, diwarnai oleh penampilan gamelan tradisional dan ritual sakral yang tetap dijaga sesuai adat.

Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan juga pengingat bahwa kepemimpinan Mangkunegara X mengedepankan nilai sejarah, budaya, dan harmoni sosial, menjadikannya contoh konkret bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga tradisi sambil tetap beradaptasi dengan zaman.

Terkini