Bulog Maksimalkan Penyerapan Gabah dan Beras untuk Stabilkan Pasokan Nasional

Selasa, 27 Januari 2026 | 14:09:55 WIB
Bulog Maksimalkan Penyerapan Gabah dan Beras untuk Stabilkan Pasokan Nasional

JAKARTA - Perum Bulog memulai penyerapan gabah dan beras hasil produksi petani di seluruh Indonesia sejak awal tahun 2026. 

Langkah ini menjadi bagian dari tugas pemerintah untuk melindungi petani dan menjaga stabilitas harga. Penyerapan serentak diharapkan memperkuat cadangan beras pemerintah sekaligus memastikan ketersediaan stok nasional.

Direktur Utama Bulog menegaskan kehadiran negara di sektor pangan penting bagi kesejahteraan petani. Program ini memungkinkan petani menerima harga yang layak sesuai Harga Pembelian Pemerintah. Selain itu, langkah ini menjaga ketahanan pangan nasional dari fluktuasi pasokan dan harga.

Bulog juga menekankan pentingnya koordinasi antar pihak terkait agar proses penyerapan berjalan lancar. Kerja sama melibatkan mitra penggilingan, pemerintah daerah, serta unsur TNI dan Polri di beberapa wilayah. Sinergi ini memastikan efisiensi dan transparansi selama pelaksanaan program.

Wilayah Penyerapan Gabah dan Beras

Penyerapan di Pulau Sumatra telah dimulai sejak Januari, mengikuti masa panen awal tahun. Kegiatan mencakup Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Babel, Bengkulu, dan Lampung. Setiap wilayah menjadi fokus untuk mendukung petani lokal sekaligus menjaga pasokan beras regional.

Di Pulau Jawa, Bulog bergerak cepat di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Penyerapan dilakukan langsung di titik panen dan penggilingan padi untuk memastikan kualitas gabah dan beras. Hal ini sekaligus memperkuat mekanisme pengawasan terhadap harga dan distribusi.

Selain itu, wilayah Indonesia Tengah dan Timur juga mulai terserap gabah dan berasnya. Pulau Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Maluku, hingga Papua menjadi bagian dari program nasional ini. Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan di seluruh wilayah Indonesia.

Pola Penyerapan dan Harga Pembelian

Bulog menerapkan pola jemput bola, turun langsung ke sawah, titik panen, hingga penggilingan. Pendekatan ini memudahkan petani menjual hasil panennya tanpa harus menanggung biaya logistik tinggi. Sistem ini juga membantu Bulog memperoleh gabah dan beras dengan kualitas baik sesuai standar nasional.

Harga Pembelian Pemerintah tetap menjadi acuan dalam proses penyerapan. Gabah Kering Panen ditetapkan Rp6.500 per kilogram, sementara beras Rp12.000 per kilogram. Penetapan harga ini memberikan kepastian bagi petani sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar.

Pola penyerapan ini juga mendukung efisiensi operasional Bulog. Dengan koordinasi yang baik, proses pengadaan dapat berlangsung cepat dan transparan. Langkah ini menunjukkan kesiapan Bulog dalam memenuhi target pengadaan gabah dan beras di tahun 2026.

Tujuan dan Manfaat Penyerapan

Penyerapan gabah dan beras bertujuan menjaga harga di tingkat petani dan ketersediaan stok nasional. Bulog memastikan stok cukup menghadapi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun. Termasuk persiapan menjelang momen Ramadhan dan Idulfitri yang biasanya meningkatkan konsumsi beras.

Selain itu, program ini memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. Dengan cadangan beras yang cukup, pemerintah dapat menghadapi fluktuasi pasokan akibat musim panen atau cuaca ekstrem. Langkah ini juga mendukung stabilitas ekonomi melalui pengendalian harga pangan.

Program ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung pertanian lokal. Petani mendapatkan kepastian harga dan Bulog memperoleh stok beras untuk kebutuhan nasional. Sinergi ini menjadi model pengelolaan pangan yang efektif dan berkelanjutan.

Target dan Optimisme Bulog

Bulog menargetkan menyerap 4 juta ton setara beras sepanjang 2026. Optimisme tercipta karena penyerapan telah berjalan di berbagai sentra produksi di seluruh Indonesia. Dengan kerja sama semua pihak, Bulog yakin target pengadaan dapat tercapai sesuai rencana.

Proses penyerapan dilakukan secara transparan, cepat, dan sesuai ketentuan yang berlaku. Keterlibatan pemerintah daerah dan aparat keamanan mendukung kelancaran distribusi serta pengawasan harga. Strategi ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Keberhasilan program penyerapan gabah dan beras menjadi indikator penting bagi stabilitas pangan. Dengan stok yang cukup, harga beras dapat dikendalikan dan pasokan mencukupi kebutuhan masyarakat. Bulog optimistis, langkah ini akan berdampak positif bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Terkini