Kredit Nganggur yang Masih Tinggi, Begini Respons OJK

Senin, 26 Januari 2026 | 10:29:21 WIB
Kredit Nganggur yang Masih Tinggi, Begini Respons OJK

JAKARTA - Pada Desember 2025, jumlah kredit nganggur atau undisbursed loan di Indonesia tercatat cukup tinggi, mencapai Rp 2.439,2 triliun. 

Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, jumlahnya tetap dianggap signifikan dan mencerminkan potensi besar dalam dunia perbankan. 

Mengapa jumlah kredit yang belum disalurkan ini masih begitu tinggi, dan apa saja dampaknya bagi sektor perbankan serta perekonomian Indonesia? Mari kita telusuri lebih jauh penyebab, respons, serta proyeksi ke depan terkait fenomena ini.

Kredit Nganggur: Indikasi Potensi Pertumbuhan Ekonomi

Kredit nganggur, atau kredit yang telah disetujui oleh bank namun belum disalurkan kepada peminjam, merupakan hal yang cukup menarik untuk dibahas. 

Meski terlihat seolah ada dana yang menganggur, Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya potensi besar dalam ekspansi usaha. 

"Kredit nganggur yang relatif tinggi saat ini menunjukkan potensi pemanfaatan ekspansi usaha sesuai dengan timeline yang dimiliki, sehingga berpotensi untuk meningkatkan pertumbuhan kredit di masa mendatang," ujar Dian.

Dian juga menambahkan bahwa angka tersebut mencerminkan prospek pertumbuhan sektor riil yang positif. Meskipun ada sejumlah dana yang belum tersalurkan, hal ini bisa menjadi indikasi bahwa sektor perbankan tengah mempersiapkan diri untuk mendukung ekspansi bisnis yang lebih besar di masa depan. Dengan kata lain, meskipun kredit tersebut belum cair, potensi perekonomian ke depan tetap terlihat optimis.

Pertumbuhan Kredit yang Menjaga Stabilitas Sektor Perbankan

Penting untuk dicatat bahwa meskipun ada kredit yang belum tersalurkan, sektor perbankan Indonesia secara keseluruhan masih menunjukkan kinerja yang positif. 

Pertumbuhan kredit per tahun (year on year) pada Desember 2025 tercatat mencapai 7,74%, yang sedikit meningkat dibandingkan dengan bulan Oktober 2025 yang hanya mencatatkan angka 7,36%. 

Hal ini menunjukkan bahwa bank-bank di Indonesia tetap mampu menyalurkan kredit secara produktif, meski ada tantangan dalam hal pengelolaan kredit nganggur.

Kualitas kredit juga tetap terjaga dengan baik, seperti yang tercermin dari NPL (Non Performing Loan) yang tetap berada di level aman, yaitu 2,21%. 

Penyaluran kredit yang produktif juga mengalami pertumbuhan, terutama dalam sektor Kredit Investasi (KI) yang tercatat tumbuh signifikan sebesar 17,98%.

 Oleh karena itu, meskipun ada kredit yang belum disalurkan, perbankan di Indonesia masih berfungsi sebagai penggerak utama perekonomian, terutama di sektor produktif.

Fokus pada Sektor UMKM yang Tertinggal

Namun, meskipun secara keseluruhan perbankan menunjukkan kinerja yang baik, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menunjukkan tren yang sedikit berbeda. 

Menurut Dian, penyaluran kredit kepada UMKM dalam setahun terakhir memang cenderung melambat. Per November 2025, total kredit yang disalurkan ke sektor UMKM mencapai Rp 1.494,07 triliun, namun tren pertumbuhannya mengalami pelambatan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan melambatnya penyaluran kredit untuk UMKM, di antaranya adalah dinamika perekonomian global dan domestik, perubahan pola konsumsi masyarakat akibat tekanan daya beli, serta risiko kredit UMKM yang lebih tinggi dibandingkan dengan segmen lainnya. 

Pemulihan pasca-pandemi juga dirasa lebih lambat untuk UMKM, terutama yang bergerak di sektor-sektor yang terdampak besar selama masa krisis kesehatan global tersebut.

Namun demikian, meskipun ada pelambatan, optimisme terhadap UMKM tetap tinggi. Banyak perbankan yang masih berharap sektor ini bisa kembali tumbuh secara positif pada tahun 2026, berkat program pemerintah dan kebijakan yang mendorong ekspansi usaha UMKM. 

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada hambatan dalam jangka pendek, sektor UMKM memiliki prospek yang cukup cerah di masa mendatang.

Respons OJK dan Optimisme Ke Depan

Melihat fenomena kredit nganggur yang relatif tinggi, OJK menilai bahwa ini bukanlah masalah yang bersifat permanen, melainkan bagian dari dinamika bisnis perbankan. 

Dian Ediana Rae menegaskan bahwa penyaluran kredit akan semakin meningkat, terutama dengan dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang ada. Selain itu, penguatan sektor riil dan pemulihan ekonomi akan mempercepat penyaluran kredit yang lebih sehat dan kontributif.

OJK juga menambahkan bahwa meskipun ada sejumlah kendala, sektor perbankan Indonesia memiliki ruang yang cukup besar untuk mendukung pembiayaan produktif.

 Dengan tingkat kepercayaan pelaku usaha yang terjaga dan kondisi pasar yang stabil, OJK optimis bahwa tren pertumbuhan kredit akan terus berlanjut pada 2026, bahkan dapat melebihi target yang ditetapkan sebelumnya, yaitu 9%-11%. 

Di sisi lain, OJK juga mengharapkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang diprediksi dapat mencapai angka double digit, memberikan ruang lebih bagi sektor perbankan untuk mendukung sektor riil.

Dengan proyeksi ini, OJK bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor perbankan dan pemerintah akan terus bersinergi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang sehat, agar kredit yang disalurkan dapat benar-benar memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.

Terkini