Panas Bumi Indonesia Buka Peluang Investasi Besar, PGE Diminta Bergerak Cepat

Senin, 26 Januari 2026 | 10:21:02 WIB
Panas Bumi Indonesia Buka Peluang Investasi Besar, PGE Diminta Bergerak Cepat

JAKARTA - Minat investor asing terhadap sektor panas bumi di Indonesia terus meningkat seiring dorongan transisi energi nasional. 

Energi baru dan terbarukan diposisikan sebagai pilar penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Kondisi ini membuka peluang besar bagi pengembangan panas bumi sebagai sumber energi berkelanjutan.

Dorongan Transisi Energi Nasional

Pemerintah semakin agresif mendorong transformasi bauran energi nasional. Upaya tersebut dijalankan melalui perencanaan jangka panjang penyediaan tenaga listrik. Dalam periode 2025 hingga 2034, perluasan kapasitas pembangkit energi baru dan terbarukan ditargetkan mencapai 76 persen.

Kebijakan tersebut membuat sektor EBT semakin menarik perhatian investor. Masuknya penyertaan modal asing mencerminkan optimisme terhadap prospek energi bersih di Indonesia. Perusahaan besar juga mulai aktif menempatkan investasi pada sektor ini.

Energi panas bumi menjadi salah satu fokus utama pengembangan. Sumber energi ini dinilai stabil dan berkelanjutan. Pemerintah menilai panas bumi mampu menopang kebutuhan energi jangka panjang.

Kepercayaan Investor Terhadap Potensi Panas Bumi

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof. Dr. Telisa Aulia Falianty menyebut minat investor global menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap sektor EBT. Menurutnya, potensi ekonomi energi terbarukan di Indonesia sangat besar. Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai tantangan.

Salah satu sumber EBT yang memiliki potensi besar adalah panas bumi. Indonesia tercatat memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia. Total kapasitasnya diperkirakan mencapai sekitar 24 gigawatt.

“Salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang memiliki potensi sangat besar di Indonesia adalah panas bumi atau geothermal. Potensi panas bumi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar kedua di dunia dengan kapasitas mencapai sekitar 24 gigawatt,” ungkap Telisa. 

Potensi tersebut dinilai mampu menjadi tulang punggung transisi energi nasional.

Tantangan Pengembangan Panas Bumi

Meski potensinya besar, pengembangan panas bumi masih menghadapi berbagai hambatan. Tantangan muncul dari aspek teknis, regulasi, hingga pembiayaan. Kondisi ini membuat realisasi proyek sering berjalan lebih lambat dari rencana.

“Tantangan-tantangan ini perlu diselesaikan secara bertahap agar pengembangan panas bumi dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan,” ujar Telisa. Ia menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki banyak kajian dan pemetaan potensi panas bumi. Hasil kajian tersebut perlu ditindaklanjuti secara konkret.

Penyelesaian tantangan dinilai membutuhkan koordinasi lintas sektor. Dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan. Regulasi yang adaptif juga dinilai krusial bagi keberlanjutan proyek.

Peran Pembiayaan dan Danantara

Dari sisi pembiayaan, pembentukan Danantara dinilai berpotensi menjadi katalis penting. Lembaga ini diharapkan mampu mempercepat akselerasi pemanfaatan panas bumi. Dukungan pembiayaan dinilai dapat mengurangi risiko investasi.

Telisa menilai keterlibatan Danantara dapat memperkuat kepercayaan investor. Skema pendanaan yang jelas dinilai mampu mendorong realisasi proyek. Hal ini penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks ini, peran perusahaan pengembang menjadi sangat strategis. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk dipandang sebagai aktor kunci. Perusahaan ini diharapkan mampu mengorkestrasi solusi atas berbagai tantangan.

Harapan pada Kepemimpinan Baru PGE

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk baru saja melakukan pergantian kepemimpinan. Ahmad Yani resmi menjabat sebagai Direktur Utama menggantikan Julfi Hadi. Pergantian ini diharapkan membawa percepatan pengembangan panas bumi.

Menurut Telisa, perubahan kepemimpinan dapat menjawab berbagai kendala operasional. Penyesuaian ini dinilai selaras dengan ekosistem yang sedang dibangun. Kepemimpinan baru diharapkan mampu memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan.

“Pergantian kepemimpinan Pertamina Geothermal Energy saya pikir dilakukan untuk menyesuaikan agar ekosistem yang sedang dibangun sesuai dengan ekspektasi dari Danantara,” ujar Telisa. Ia berharap berbagai kendala dapat segera diselesaikan secara menyeluruh.

Penguatan Struktur Manajemen PGE

Pergantian kepemimpinan dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa. Dalam rapat tersebut, PGE juga menunjuk Andi Joko Nugroho sebagai Direktur Operasi. Posisi tersebut sebelumnya dijabat oleh Ahmad Yani.

Ahmad Yani diketahui telah lama berkiprah di industri panas bumi. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Direktur Operasi sejak 2023. Pengalamannya dinilai mendukung kesinambungan operasional perusahaan.

Selama masa jabatannya, Ahmad Yani berkontribusi menjaga keandalan operasi. Ia juga berperan dalam meningkatkan efisiensi pembangkitan. Rekam jejak tersebut diharapkan menjadi modal penting dalam memimpin PGE.

Arah Pengembangan Panas Bumi ke Depan

Dengan kepemimpinan baru, PGE diharapkan lebih agresif mengakselerasi proyek panas bumi. Sinergi antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan investor menjadi kunci keberhasilan. Pengembangan panas bumi dinilai strategis bagi transisi energi nasional.

Ketertarikan investor asing menunjukkan peluang yang semakin terbuka. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang konsisten. Kepastian regulasi dan dukungan pembiayaan menjadi faktor utama.

Panas bumi diharapkan mampu berkontribusi signifikan terhadap bauran energi nasional. Pengembangannya juga dinilai mampu mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dengan langkah yang tepat, sektor ini berpotensi menjadi andalan energi masa depan Indonesia.

Terkini