Rambut Rontok

Ciri Rambut Rontok Karena Penyakit yang Wajib Diwaspadai

Ciri Rambut Rontok Karena Penyakit yang Wajib Diwaspadai
Ciri Rambut Rontok Karena Penyakit yang Wajib Diwaspadai

JAKARTA - Rambut yang rontok saat mandi atau tersangkut di sisir sering kali dianggap hal biasa. Namun, ketika jumlahnya terasa lebih banyak dari biasanya, kondisi ini tidak boleh langsung disepelekan. 

Sebab, rambut rontok bukan hanya dipicu oleh faktor perawatan atau usia, tetapi juga bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan tertentu yang perlu diwaspadai sejak dini.

Dalam dunia medis, rambut rontok dikenal sebagai alopecia, yakni kondisi saat rambut menipis, rontok secara bertahap, atau bahkan lepas dalam jumlah banyak. Pada beberapa kasus, kerontokan dapat bersifat sementara akibat stres, perubahan hormon, pengobatan, atau faktor lingkungan. 

Namun pada kondisi lain, rambut rontok bisa menjadi permanen tergantung penyebab dan seberapa besar gangguan tersebut memengaruhi siklus pertumbuhan rambut.

Memahami Siklus Alami Pertumbuhan Rambut

Pertumbuhan rambut normal berjalan dalam tiga fase utama yang saling berkesinambungan. Fase pertama adalah anagen atau fase pertumbuhan, ketika rambut aktif tumbuh di folikel dan muncul menembus kulit kepala. 

Selanjutnya ada katagen, yaitu fase transisi saat folikel mulai menyusut dan pertumbuhan rambut melambat hingga rambut terlepas dari folikel. Setelah itu masuk ke fase telogen atau fase istirahat, ketika folikel tidak lagi aktif dan rambut akhirnya rontok.

Dalam kondisi normal, seseorang bisa kehilangan sekitar 50 hingga 100 helai rambut setiap hari. Jumlah ini masih dianggap wajar karena merupakan bagian dari siklus alami rambut. Namun, bila rambut menipis secara nyata atau rontok dalam bentuk gumpalan, itu bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh.

Penyebab Rambut Rontok yang Perlu Diwaspadai

Rambut rontok dapat disebabkan oleh banyak hal. Penyebab ini akan menentukan apakah rambut rontok secara bertahap atau mendadak, menipis, bisa tumbuh kembali dengan sendirinya, membutuhkan perawatan, atau bahkan memerlukan penanganan cepat agar tidak berujung permanen.

1. Rambut rontok karena faktor keturunan
Alopecia androgenik merupakan penyebab paling umum yang dapat terjadi pada perempuan maupun laki-laki. Kondisi ini disebabkan oleh gen bawaan yang membuat folikel rambut menyusut hingga akhirnya berhenti memproduksi rambut.

2. Usia
Seiring bertambahnya usia, pertumbuhan rambut melambat. Pada titik tertentu, folikel berhenti menumbuhkan rambut sehingga rambut di kulit kepala menipis dan mulai kehilangan warna.

3. Alopecia areata
Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut. Rambut bisa rontok di kulit kepala, alis, bulu mata, hingga area tubuh lain.

4. Lupus
Lupus dapat memengaruhi kulit dan rambut. Sebagian penderita mengalami penipisan rambut, sementara lainnya mengalami kerontokan disertai ruam tebal, bersisik, merah, atau cokelat.

5. Perawatan kanker
Kemoterapi atau radiasi di area kepala dan leher dapat menyebabkan hilangnya sebagian besar rambut dalam beberapa minggu setelah terapi dimulai.

6. Melahirkan, sakit, atau pemicu stres lainnya
Beberapa bulan setelah melahirkan, sakit, operasi, atau mengalami stres berat, rambut bisa rontok lebih banyak. Biasanya kondisi ini membaik setelah tubuh kembali stabil.

7. Perawatan rambut
Mewarnai, mengeriting, atau meluruskan rambut terlalu sering dapat merusak batang dan folikel rambut sehingga memicu kerontokan.

8. Styling rambut yang menarik kulit kepala
Mengikat rambut terlalu kencang dapat menyebabkan traction alopecia, yakni kerontokan akibat tarikan terus-menerus yang bisa menjadi permanen.

9. Ketidakseimbangan hormon
PCOS dan perubahan hormon setelah menghentikan pil KB dapat memicu penipisan rambut, terutama pada perempuan.

10. Infeksi kulit kepala
Infeksi dapat menyebabkan kulit kepala bersisik, meradang, muncul bintik hitam, bahkan kebotakan di area tertentu.

11. Efek samping obat
Beberapa obat memiliki efek samping berupa rambut rontok. Karena itu, penting berkonsultasi dengan dokter sebelum menghentikan penggunaan obat.

12. Psoriasis kulit kepala
Psoriasis di kulit kepala bisa menyebabkan kerontokan. Rambut biasanya tumbuh kembali setelah kondisi kulit membaik.

13. Menarik atau mencabut rambut
Trikotilomania adalah kondisi ketika seseorang mencabut rambutnya sendiri, sering kali sebagai respons terhadap stres.

14. Scarring alopecia
Peradangan yang merusak folikel rambut dapat membuat rambut tidak bisa tumbuh kembali. Karena itu, deteksi dini sangat penting.

15. Infeksi menular seksual (IMS)
Sifilis dan beberapa IMS lain dapat menyebabkan rambut rontok bila tidak segera diobati.

16. Penyakit tiroid
Gangguan tiroid dapat menyebabkan rambut menipis atau rontok dalam jumlah banyak, terutama saat menyisir.

17. Kekurangan biotin, zat besi, protein, atau zink
Kurangnya asupan nutrisi penting dapat menyebabkan kerontokan yang nyata.

18. Gesekan
Gesekan dari penutup kepala, bantal, atau pakaian ketat dapat memicu alopecia gesekan.

19. Racun
Paparan arsenik, talium, merkuri, litium, serta kelebihan vitamin A atau selenium dapat menyebabkan rambut rontok.

Tanda Rambut Rontok Tidak Normal

Sebagian besar rambut rontok memang berkaitan dengan usia atau faktor genetik. Meski begitu, ada kalanya kerontokan menjadi penanda masalah medis yang lebih serius. Kamu perlu lebih waspada bila rambut rontok disertai ruam merah atau cokelat bersisik di wajah atau tubuh yang bisa mengarah pada lupus.

Selain itu, rasa kedinginan terus-menerus, mudah lelah, atau penurunan berat badan yang tidak terduga juga bisa berkaitan dengan gangguan tiroid atau kekurangan nutrisi. Gejala-gejala seperti ini tidak boleh diabaikan karena dapat membantu dokter menemukan akar masalah dari kerontokan yang terjadi.

Kapan Harus Segera Periksa ke Dokter

Segera buat janji temu dengan dokter jika rambut rontok terasa lebih banyak dari biasanya. 

Saat konsultasi, penting untuk menyampaikan gejala lain yang menyertai, seperti kelelahan, demam, perubahan buang air besar, penurunan berat badan tanpa sebab, ruam, perubahan kulit kepala, riwayat operasi, perubahan pola makan, hingga pengobatan atau imunisasi baru.

Informasi tentang seberapa cepat rambut rontok terjadi, serta riwayat kebotakan dalam keluarga, juga sangat membantu proses diagnosis. Dengan mengetahui penyebab sejak awal, penanganan bisa dilakukan lebih tepat dan peluang rambut tumbuh kembali pun menjadi lebih besar. 

Jadi, jangan anggap remeh rambut rontok berlebihan, karena bisa jadi tubuh sedang memberi tanda bahwa ada kondisi kesehatan yang perlu segera ditangani.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index