JAKARTA - Setelah momen Lebaran yang biasanya diiringi peningkatan konsumsi, kondisi pasar ayam hidup justru bergerak ke arah sebaliknya
Alih-alih stabil atau meningkat, harga ayam hidup di tingkat peternak mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan yang tidak terserap secara optimal.
Situasi ini mendorong para peternak untuk mengambil langkah hati-hati, termasuk menunda pemeliharaan ayam guna menghindari kerugian yang lebih dalam.
Fenomena ini terlihat jelas di sejumlah wilayah sentra produksi, khususnya di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Harga ayam hidup yang sebelumnya sempat berada di level yang menguntungkan, kini turun cukup signifikan.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada margin keuntungan, tetapi juga memengaruhi keberlanjutan usaha para peternak yang harus menanggung biaya produksi yang tidak sedikit.
Tekanan Harga Akibat Kelebihan Pasokan
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam (Gopan) Sugeng Wahyudi mengungkapkan bahwa harga ayam hidup di Jawa Barat saat ini berada di kisaran Rp 19.000 per kilogram (kg), sementara di Jawa Tengah tercatat sedikit lebih rendah. Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
"Harga ayam hidup di kandang (sebagai perbandingan) pernah mencapai kisaran Rp 25.000 per kg," ungkapnya.
Penurunan harga ini terutama disebabkan oleh kondisi oversupply atau kelebihan pasokan di pasar. Setelah Lebaran, permintaan tidak mampu mengimbangi jumlah produksi yang sudah terlanjur tinggi, sehingga harga pun tertekan.
Dalam situasi seperti ini, peternak berada pada posisi yang sulit karena harus tetap menjual hasil ternaknya meskipun harga tidak menguntungkan.
Biaya Produksi Lebih Tinggi dari Harga Jual
Lebih lanjut, Sugeng menjelaskan bahwa biaya pokok produksi untuk ayam berukuran besar saat ini mencapai sekitar Rp 21.000 per kg. Dengan harga jual yang hanya berada di kisaran Rp 19.000 per kg, peternak harus menanggung kerugian sekitar Rp 2.000 per kg dalam sepekan terakhir.
Kondisi ini tentu menjadi beban berat bagi pelaku usaha di sektor peternakan ayam. Selisih antara biaya produksi dan harga jual yang negatif membuat arus kas peternak terganggu. Jika situasi ini berlangsung dalam waktu lama, bukan tidak mungkin akan berdampak pada penurunan kapasitas produksi secara keseluruhan.
Dalam praktiknya, peternak tidak memiliki banyak pilihan selain tetap menjual ayam yang sudah siap panen. Menahan penjualan justru akan menambah biaya pemeliharaan dan berisiko menurunkan kualitas ayam. Oleh karena itu, kerugian menjadi konsekuensi yang sulit dihindari dalam kondisi pasar yang tidak ideal.
Penundaan Pemeliharaan Sebagai Strategi Bertahan
Menghadapi situasi ini, para peternak memilih untuk menunda pemeliharaan ayam sebagai langkah antisipatif. Keputusan ini diambil bukan untuk mengurangi produksi secara langsung, melainkan sebagai upaya menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang sedang lesu.
"Hal ini disebabkan oleh kesiapan kandang yang belum maksimal, efek dari perlambatan serapan ayam hidup di kandang," jelas Sugeng.
Penundaan pemeliharaan ini juga berkaitan dengan kondisi kandang yang belum sepenuhnya siap akibat siklus produksi sebelumnya yang terganggu. Ketika penyerapan ayam melambat, siklus pergantian ternak di kandang ikut terhambat.
Akibatnya, peternak tidak dapat segera memulai periode pemeliharaan berikutnya.
Langkah ini dinilai sebagai strategi jangka pendek untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Dengan menunda pemeliharaan, peternak berharap dapat menunggu hingga kondisi pasar kembali stabil sebelum kembali meningkatkan produksi.
Koordinasi Pelaku Usaha Jadi Kunci Pemulihan
Perlambatan serapan ayam hidup sendiri dipicu oleh libur pasca-Lebaran yang menyebabkan aktivitas pedagang dan rumah potong ayam (RPA) menurun. Situasi ini mengakibatkan penumpukan pasokan di tingkat kandang, yang pada akhirnya menekan harga di pasar.
Melihat dinamika tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian berencana mempertemukan para pelaku usaha dalam waktu dekat. Pertemuan ini akan difasilitasi oleh Direktur Jenderal Peternakan bersama Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak untuk membahas kondisi supply-demand yang terjadi dalam 10 hari terakhir.
Sugeng menekankan pentingnya koordinasi antar pelaku usaha untuk mengatasi persoalan ini. "Rekomendasi dari Gopan adalah agar secepatnya koordinasi antarpelaku, agar tidak terjadi penurunan harga ke level lebih rendah lagi," pungkas dia.
Upaya koordinasi ini diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Dengan adanya sinergi antara peternak, distributor, dan pemerintah, stabilitas harga diharapkan dapat segera pulih.
Dalam jangka panjang, pengelolaan produksi yang lebih terencana serta sistem distribusi yang efisien menjadi kunci untuk mencegah terulangnya kondisi serupa.
Pasar ayam yang sehat tidak hanya bergantung pada tingginya produksi, tetapi juga pada kemampuan menyerap hasil produksi tersebut secara optimal.