Menteri LH

Menteri LH Tegaskan PSEL Makassar Tingkatkan Energi Terbarukan Nasional

Menteri LH Tegaskan PSEL Makassar Tingkatkan Energi Terbarukan Nasional
Menteri LH Tegaskan PSEL Makassar Tingkatkan Energi Terbarukan Nasional

JAKARTA - Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) akan dibangun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, Kecamatan Manggala, Makassar. 

Investasi proyek ini mencapai Rp 3 triliun dan menjadi langkah strategis mengatasi penumpukan sampah. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menekankan bahwa penyelesaian sampah tidak hanya di hilir, tetapi juga menyasar manajemen pengelolaan dari hulu hingga hilir.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pembangunan PSEL melibatkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintah Kabupaten Gowa, Pemerintah Kabupaten Maros, dan Danantara. 

Menteri Hanif menyebut koordinasi lintas daerah ini penting untuk menjamin pasokan sampah ke fasilitas PSEL. “Ini suatu langkah panjang yang telah dilakukan perjalanan yang tidak pendek, jadi hampir setahun lebih di bawah koordinasi Bapak Gubernur Sulawesi Selatan. Atas saran Bapak Presiden, kami semua mendukung pembangunan waste to energy,” ujar Menteri Hanif.

Dengan kehadiran PSEL, diharapkan timbunan sampah yang hampir mencapai 2.000 ton per hari dari tiga kabupaten-kota dapat terselesaikan lebih cepat. Proses ini memanfaatkan sistem pengolahan berbasis energi listrik yang ramah lingkungan. 

“Selama ini sampah lama cukup banyak, maka penyelesaian yang paling cepat tentu waste to energy, kemudian telah dikeluarkan melalui Peraturan Presiden nomor 109,” ungkapnya.

Strategi Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Menteri Hanif menegaskan bahwa penyelesaian sampah tidak hanya berfokus pada hilir. Presiden telah menekankan urgensi masalah sampah dalam Rakornas, mengingat TPA rata-rata telah berumur 17 tahun. “Artinya waktu dari TPA ini, umur TPA tinggal 3 tahunan ke depan,” jelasnya.

Untuk itu, strategi pengelolaan sampah melibatkan kolaborasi antara pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten. Fokus utama adalah mereduksi timbunan sampah agar tidak menumpuk di hilir. “Meskipun nanti dibangun waste to energy, kami tetap meminta seluruh jajaran bupati, wali kota, untuk benar-benar mendorong penyelesaian sampah di hilir,” tegasnya.

Pendekatan hulu-hilir ini mencakup pengelolaan sampah sejak sumbernya hingga proses pengolahan akhir. Pemerintah berharap masyarakat juga dapat terlibat melalui edukasi dan pembiasaan budaya adaptif terhadap sistem pengelolaan sampah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keberlanjutan lingkungan di Sulawesi Selatan.

Dukungan Penuh Pemerintah Daerah

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan kunjungan Menteri Hanif merupakan langkah yang sangat dibutuhkan masyarakat. Program ini menjadi amanah Presiden untuk memastikan pengelolaan sampah di Sulsel berjalan optimal. “Alhamdulillah, ini tidak mudah dan hari ini Bapak Menteri telah hadir untuk penandatanganan komitmen memastikan jumlah supply persampahan masuk ke pabrik pengolahan nanti cukup,” katanya.

Gubernur menekankan koordinasi antara provinsi, kabupaten, dan kota agar pasokan sampah ke fasilitas PSEL terjamin. Keberadaan PSEL juga mendukung program Gerakan Indonesia ASRI. “Kami tinggal bagaimana sama-sama mensupport dengan mengedukasi serta menghidupkan kultur atau budaya adaptif terhadap sistem pengelolaan persampahan,” ujarnya.

Langkah ini diharapkan menciptakan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola fasilitas. Dukungan semua pihak menjadi kunci keberhasilan PSEL dalam mengatasi permasalahan sampah yang kompleks. Gubernur juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden dan Menteri atas perhatian dan arahan terkait proyek ini.

Manfaat PSEL bagi Lingkungan dan Energi

PSEL bukan hanya solusi mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan energi listrik. Sistem ini memanfaatkan teknologi ramah lingkungan yang efisien. Dengan energi listrik dari sampah, kebutuhan energi lokal dapat terdukung sekaligus mengurangi beban TPA.

Selain manfaat energi, proyek ini memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Pengurangan timbunan sampah mengurangi risiko pencemaran dan mengontrol bau dari TPA. Menteri Hanif menekankan bahwa pengelolaan sampah yang tepat adalah bagian dari strategi nasional menjaga kualitas lingkungan.

Selain itu, PSEL menjadi model pembangunan berkelanjutan yang dapat direplikasi di daerah lain. Kolaborasi lintas pemerintah daerah, dukungan presiden, serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan. Proyek ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memecahkan masalah persampahan nasional secara sistematis.

Komitmen Semua Pihak untuk Keberlanjutan

Menteri Hanif menegaskan, kesuksesan PSEL bergantung pada partisipasi aktif seluruh jajaran pemerintah. Komitmen bupati, wali kota, dan masyarakat diperlukan agar pengelolaan sampah dari sumber hingga hilir berjalan efektif. “Ini bukan hanya soal membangun pabrik, tapi juga membangun sistem yang bisa berkelanjutan,” tegasnya.

Gubernur Andi Sudirman menambahkan bahwa keberhasilan proyek ini akan menjadi contoh bagi pengelolaan sampah di Indonesia. Dengan kolaborasi antara pusat, provinsi, kabupaten, dan kota, tantangan sampah dapat diatasi lebih cepat. “Terima kasih banyak Bapak Menteri, Bapak Presiden yang telah hadir dalam program ini,” pungkasnya.

PSEL Makassar diharapkan menjadi pionir sistem pengelolaan sampah yang mengutamakan energi terbarukan. Langkah ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya urusan hilir, tetapi juga strategi lingkungan jangka panjang. Keberhasilan proyek ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, ekonomi lokal, dan kualitas lingkungan Sulawesi Selatan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index