Bayan Resources

Bayan Resources Catat Laba Bersih US$767,91 Juta di 2025

Bayan Resources Catat Laba Bersih US$767,91 Juta di 2025
Bayan Resources Catat Laba Bersih US$767,91 Juta di 2025

JAKARTA - PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), emiten batu bara yang dimiliki oleh Low Tuck Kwong, mencatatkan laba bersih sebesar US$767,91 juta sepanjang tahun 2025. 

Meskipun mengalami penurunan laba, perusahaan ini tetap menunjukkan performa yang signifikan dengan volume penjualan batu bara yang melonjak. 

Laba bersih yang tercatat pada 2025 mengalami penurunan sebesar 16,77% dibandingkan dengan laba bersih yang diraih pada tahun sebelumnya, yakni US$922,64 juta pada 2024. Penurunan ini terjadi meskipun pendapatan BYAN hanya turun sedikit pada tahun 2025.

Laporan keuangan yang dirilis pada akhir Desember 2025 menunjukkan bahwa pendapatan BYAN tercatat sebesar US$3,42 miliar, sedikit lebih rendah 0,55% dibandingkan dengan pendapatan di 2024 yang mencapai US$3,44 miliar. 

Walaupun pendapatan perusahaan mengalami penurunan tipis, volumen penjualan batu bara BYAN justru mengalami kenaikan yang signifikan, yakni sebesar 25,97% YoY (year on year), dari 56,2 juta ton pada 2024 menjadi 70,8 juta ton pada 2025. 

Dengan demikian, meskipun harga jual rata-rata batu bara BYAN turun, volume penjualannya memberikan kontribusi besar terhadap total pendapatan perusahaan.

Penurunan Harga Jual Batu Bara Menjadi Tantangan

Salah satu faktor yang memengaruhi penurunan laba BYAN pada 2025 adalah penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara. Harga jual rata-rata batu bara BYAN turun signifikan, dari US$61,3 per ton pada 2024 menjadi hanya US$48,4 per ton pada 2025. Hal ini berimbas pada pendapatan yang lebih rendah meski volume penjualan meningkat. 

Penurunan harga jual batu bara ini tidak hanya terjadi pada BYAN, tetapi juga merupakan tren yang memengaruhi pasar batu bara secara global pada tahun 2025.

Di tengah penurunan harga jual batu bara tersebut, pangsa pasar BYAN tetap didominasi oleh beberapa negara besar yang menjadi tujuan utama ekspor perusahaan. 

China tetap menjadi pasar terbesar untuk batu bara BYAN dengan kontribusi sebesar 32%. Diikuti oleh Indonesia (26%), Filipina (19%), India (8%), Malaysia, dan Vietnam yang masing-masing menyumbang 4% terhadap total penjualan batu bara BYAN.

Meningkatnya Volume Produksi untuk Mendukung Penjualan

Salah satu aspek yang mengimbangi penurunan harga jual batu bara adalah peningkatan volume produksi yang signifikan. Produksi batu bara BYAN meningkat sebesar 19,5% YoY, dari 56,9 juta ton pada 2024 menjadi 68 juta ton pada 2025. 

Peningkatan volume produksi ini berperan penting dalam mendongkrak jumlah penjualan, meskipun harga jual batu bara mengalami penurunan. 

Dengan meningkatkan kapasitas produksi, BYAN mampu mempertahankan daya saing di pasar global meskipun menghadapi tantangan harga yang lebih rendah.

Selain itu, beban pokok pendapatan perusahaan pada 2025 tercatat sebesar US$2,32 miliar, mengalami sedikit kenaikan dibandingkan dengan angka pada 2024 yang tercatat sebesar US$2,11 miliar. 

Kenaikan ini terutama disebabkan oleh biaya operasional yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan volume produksi dan penjualan batu bara. 

Meskipun ada peningkatan dalam beban pokok pendapatan, perusahaan berhasil mempertahankan struktur biaya yang efisien untuk memastikan tetap menghasilkan laba meskipun pendapatannya sedikit lebih rendah.

Keuangan yang Sehat Meski Laba Menurun

Dari sisi keuangan, PT Bayan Resources tetap menunjukkan kondisi yang cukup solid. Total aset BYAN pada akhir 2025 tercatat sebesar US$3,37 miliar, yang didukung oleh total liabilitas sebesar US$680,46 juta dan ekuitas yang mencapai US$2,69 miliar. 

Meskipun laba bersih perusahaan menurun, struktur neraca yang sehat ini menunjukkan bahwa perusahaan masih berada dalam posisi yang baik untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Beban keuangan BYAN pada 2025 tercatat sebesar US$8,69 juta, sedangkan beban penjualan mencapai US$31,12 juta dan beban umum dan administrasi mencapai US$72,8 juta. 

Beban lain-lain neto tercatat sebesar US$9,6 juta, sementara beban pajak penghasilan yang dibayar oleh perusahaan mencapai US$227,96 juta. 

Meski menghadapi beberapa beban biaya yang lebih tinggi, perusahaan berhasil mempertahankan profitabilitas yang cukup baik dengan laba yang tetap signifikan di tengah penurunan harga batu bara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index