Obligasi Ritel

ORI029 Terjual Rp14,44 Triliun, Wiraswasta Jadi Investor Utama

ORI029 Terjual Rp14,44 Triliun, Wiraswasta Jadi Investor Utama
ORI029 Terjual Rp14,44 Triliun, Wiraswasta Jadi Investor Utama

JAKARTA - Penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI) ORI029 pada 2026 mencatatkan realisasi penjualan sebesar Rp14,44 triliun. 

Menariknya, mayoritas pemesanan datang dari kelompok wiraswasta, meski secara jumlah investor didominasi pekerja swasta. Data ini menunjukkan pola investasi baru di kalangan investor ritel Indonesia yang lebih beragam secara profesi dan demografi.

Berdasarkan laporan resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, ORI029 seri tiga tahun (ORI029-T3) paling diminati, dengan penjualan mencapai Rp10,95 triliun. Sementara itu, seri enam tahun (ORI029-T6) terjual Rp3,48 triliun. 

Total investor mencapai 42.612 orang, dengan 33.240 investor membeli ORI029-T3, 11.928 investor pada ORI029-T6, dan 2.556 investor membeli kedua tenor. Dari total investor, 13,13% melakukan pemesanan minimal Rp1 juta.

Profil Investor dan Dominasi Wiraswasta

Mayoritas investor ORI029 berasal dari kalangan pekerja swasta sebesar 35,06%. Namun, secara nominal, pemesanan terbesar datang dari wiraswasta yang menyerap 39,84% dari total pemesanan.

Hal ini menandakan bahwa meski jumlahnya lebih sedikit dibanding pekerja swasta, daya beli wiraswasta relatif lebih besar dan memiliki kemampuan investasi signifikan.

“Berdasarkan gender, jumlah investor ORI029T3 dan ORI029T6 didominasi investor perempuan sebesar 57,86%. Secara nominal, investor perempuan juga kembali mendominasi sebesar 51,85%,” tulis pengumuman DJPPR.

Investor dari pelajar/mahasiswa tercatat 10,50%, ibu rumah tangga 8,34%, PNS/TNI/Polri 7,48%, profesional 3,99%, dan pensiunan 2,98%.

Dari sisi generasi, kelompok lahir 1980—2000 mendominasi jumlah investor dengan besaran 46,82%. Selain Generasi Milenial, Generasi X mencatat 31,93%, Baby Boomers 14,40%, Generasi Z 6,07%, dan Generasi Tradisionalis 0,78%. Data ini menunjukkan bahwa ORI029 berhasil menarik minat investor produktif usia muda hingga menengah.

Faktor Penjualan dan Pilihan Tenor

ORI029-T3 ditawarkan dengan kupon 5,45% dan ORI029-T6 sebesar 5,80%. DJPPR menjelaskan bahwa penetapan kupon masing-masing seri memperhatikan kondisi pasar sekunder dan tren suku bunga domestik. Keputusan investor memilih ORI029-T3 menegaskan preferensi pada tenor lebih pendek yang dinilai lebih aman dan likuid.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Suminto, menyoroti dua faktor utama yang mempengaruhi realisasi penjualan ORI029. Pertama, tidak adanya SBN Ritel yang jatuh tempo selama masa penawaran menyebabkan dana yang masuk merupakan fresh money. 

“Hasil penjualan ORI029 dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, tidak adanya SBN Ritel yang jatuh tempo selama masa penawaran menyebabkan tidak terjadi reinvestment oleh existing investor,” kata Suminto.

Faktor kedua adalah musiman. Periode penawaran ORI029 bertepatan dengan long weekend serta mendekati Ramadan dan Imlek, yang membuat kebutuhan likuiditas rumah tangga meningkat. Hal ini membuat ORI029 bukan pilihan utama bagi sebagian investor yang lebih membutuhkan uang tunai.

Peran Mitra Distribusi dan Instrumen Finansial

Dalam distribusi ORI029, bank sebagai Mitra Distribusi (Midis) masih mendominasi baik dari sisi jumlah investor maupun nominal penjualan. 

Namun, perusahaan fintech dan sekuritas mulai memainkan peran penting, terutama dalam menjangkau investor ritel yang lebih muda dan memprioritaskan transaksi digital.

Keberhasilan distribusi ini menunjukkan kombinasi tradisional dan modern dalam pemasaran instrumen keuangan ritel. Meskipun jumlah investor individual besar, kontribusi nominal tetap dipimpin kelompok wiraswasta, menegaskan pergeseran tren investasi ke kalangan pengusaha yang mencari instrumen aman dengan pengembalian stabil.

Tren Penjualan Obligasi Ritel dan Dampaknya

Realisasi ORI029 sebesar Rp14,44 triliun relatif lebih rendah dibanding ORI027 yang mencapai Rp37,35 triliun pada 2025. Sejumlah faktor, termasuk tidak adanya reinvestment dan kebutuhan likuiditas menjelang hari raya, menjadi penyebabnya. Tren ini memperlihatkan fluktuasi penjualan SBN ritel dipengaruhi oleh kalender ekonomi dan perilaku investor domestik.

Sejarah penjualan ORI dari 2020 hingga 2026 menunjukkan variasi signifikan, dari Rp12,97 triliun pada ORI018 hingga Rp37,35 triliun pada ORI027. Data ini menjadi acuan pemerintah untuk merencanakan strategi penawaran ORI berikutnya agar lebih optimal, termasuk penyesuaian kupon, tenor, dan waktu penawaran.

ORI029 membuktikan bahwa instrumen SBN ritel masih diminati berbagai kalangan, terutama wiraswasta dan investor perempuan, meski kondisi pasar dan faktor musiman memengaruhi hasil total. 

Pola investasi ini menunjukkan diversifikasi investor yang lebih modern dan beragam, menandai dinamika pasar keuangan domestik yang terus berkembang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index