Industri Manufaktur

Penguatan Industri Manufaktur dan Inflasi Terkendali Dorong Optimisme Ekonomi Nasional

Penguatan Industri Manufaktur dan Inflasi Terkendali Dorong Optimisme Ekonomi Nasional
Penguatan Industri Manufaktur dan Inflasi Terkendali Dorong Optimisme Ekonomi Nasional

JAKARTA - Industri manufaktur Indonesia membuka awal 2026 dengan penguatan yang signifikan. 

PMI Manufaktur naik menjadi 52,6 dari bulan sebelumnya 51,2, mencerminkan ekspansi sektor industri. Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya permintaan domestik serta kenaikan output produksi, meskipun tantangan rantai pasok global masih membayangi.

Optimisme pelaku usaha melonjak ke level tertinggi sepuluh bulan terakhir. Hal ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan ekspansi ekonomi nasional. “Perkembangan ini menjadi sinyal optimis, sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia,” ungkap Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.

Langkah pemerintah terus mendorong iklim usaha melalui percepatan penyelesaian hambatan operasional. Debottlenecking menjadi strategi untuk memperkuat daya saing industri dan investasi. Upaya ini diharapkan meningkatkan efisiensi dan kecepatan pertumbuhan manufaktur nasional.

Optimisme Didukung Indikator Eksternal dan Regional

Perbaikan permintaan eksternal juga mendukung prospek manufaktur domestik. PMI India tetap ekspansif di 56,8, sementara Amerika Serikat bertahan pada 51,9. Di ASEAN, PMI agregat tercatat 52,8, didorong oleh kinerja Filipina 52,9 dan Vietnam 52,5.

Kondisi ini menunjukkan industri manufaktur Indonesia mampu bersaing dengan mitra dagang utama. Indikator ini juga memperkuat keyakinan pelaku usaha dalam menghadapi fluktuasi pasar global. Optimisme sektor ini diyakini berimbas positif pada investasi dan produksi domestik.

Selain itu, perbaikan ekspor nonmigas mencerminkan kontribusi manufaktur terhadap nilai tambah nasional. Ekspor industri pengolahan naik 19,26% yoy, menjadi motor penggerak surplus neraca perdagangan. Pertumbuhan ini menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah tantangan global dan domestik.

Perkembangan Ekonomi Domestik dan Aktivitas Konsumsi

Tren positif sektor manufaktur selaras dengan indikator ekonomi domestik. Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,4% yoy, didorong meningkatnya penjualan makanan, minuman, dan mobilitas masyarakat. Aktivitas konsumsi terlihat dari penjualan kendaraan bermotor yang meningkat signifikan.

Penjualan sepeda motor naik 14,5% dan mobil tumbuh 17,9% yoy pada akhir 2025. Peningkatan konsumsi ini juga tercermin dari pertumbuhan penjualan listrik 4,8%, terutama pada segmen bisnis. Aktivitas ekonomi yang menguat mendorong Indeks Keyakinan Konsumen tetap optimis pada 123,5.

Kinerja perdagangan luar negeri juga memperkuat prospek domestik. Surplus neraca perdagangan Desember 2025 tercatat US$2,51 miliar, naik US$0,42 miliar dibanding tahun sebelumnya. Kinerja ekspor yang meningkat menjadi salah satu indikator fundamental ekonomi yang sehat.

Inflasi Terkendali dan Stabilitas Harga

Stabilitas harga tetap terjaga di awal 2026 dengan inflasi Januari 3,55% yoy, naik dari 2,92% yoy. Kenaikan ini dipengaruhi basis rendah tahun sebelumnya akibat kebijakan diskon listrik. Tekanan inflasi bersifat temporer dan diperkirakan normal pada Maret mendatang.

Secara bulanan, terjadi deflasi -0,15%, terutama pada harga cabai, bawang, daging ayam, telur, dan sayuran. Inflasi harga bergejolak turun tajam menjadi 1,14% yoy dari 6,21% yoy bulan sebelumnya. Sementara inflasi inti naik menjadi 2,45% yoy, dipicu oleh kenaikan harga emas 76,5% yoy.

Pemerintah terus memantau dinamika global dan dampaknya terhadap inflasi. Penguatan pasokan dan kelancaran distribusi diharapkan menjaga inflasi pangan tetap pada sasaran 3–5%. Stimulus diskon transportasi dan bantuan pangan turut menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

Dukungan Kebijakan untuk Pertumbuhan Berkelanjutan

Pemerintah menegaskan komitmen memperkuat hilirisasi sumber daya alam dan daya saing ekspor. Diversifikasi mitra dagang dan perjanjian internasional menjadi strategi untuk meningkatkan ketahanan ekonomi. Hal ini diharapkan memperkuat fundamental industri di tengah ketidakpastian global.

Koordinasi pusat dan daerah diperkuat untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat. Pemulihan daerah terdampak bencana juga terus dipercepat. “Koordinasi ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkas Febrio.

Dengan berbagai indikator positif, mulai dari manufaktur hingga inflasi terkendali, awal 2026 menunjukkan tren optimis. Ekonomi Indonesia diperkirakan tetap ekspansif dan stabil, meskipun tantangan global dan domestik terus hadir. Momentum ini memberikan dasar kuat bagi keberlanjutan pertumbuhan nasional sepanjang tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index