Mengenal Pengertian Instrumen Utang, Jenis, dan Contohnya

Kamis, 26 Juni 2025 | 15:12:43 WIB
pengertian instrumen utang

JAKARTA - Pengertian instrumen utang merujuk pada berbagai jenis alat finansial yang digunakan oleh individu atau perusahaan untuk meminjam dana. 

Peminjam kemudian berkewajiban untuk mengembalikan dana tersebut dalam jangka waktu tertentu beserta bunga yang telah disepakati.

Bagi mereka yang sudah lama bergelut di dunia bisnis dan keuangan, tentunya sudah lebih familiar dengan berbagai istilah terkait, termasuk instrumen utang. 

Namun, bagi pemula, pengertian instrumen utang mungkin masih terdengar asing dan membingungkan.

Artikel ini akan mengulas secara lebih rinci tentang apa yang dimaksud dengan instrumen utang, beserta contoh-contoh yang sering ditemui dalam praktik keuangan.

Pengertian Instrumen Utang

Pengertian instrumen utang merujuk pada aset yang mengharuskan pembayaran tetap kepada pemegangnya, biasanya dengan bunga. 

Instrumen ini juga mencakup kewajiban yang terdokumentasi dan mengikat, di mana entitas yang meminjam dana berjanji untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan ketentuan yang ada dalam kontrak yang telah disepakati.

Kontrak instrumen utang memuat rincian mengenai kesepakatan, seperti agunan, tingkat bunga, jadwal pembayaran bunga, dan jangka waktu hingga jatuh tempo. 

Instrumen ini memberikan modal kepada entitas yang wajib mengembalikan dana tersebut seiring berjalannya waktu. Jenis instrumen utang meliputi kartu kredit, jalur kredit, pinjaman, dan obligasi.

Instrumen utang terutama berfokus pada pengumpulan modal utang oleh entitas institusional, yang bisa mencakup pemerintah, perusahaan swasta, atau publik. 

Kartu kredit dan jalur kredit adalah bentuk instrumen utang yang digunakan lembaga untuk memperoleh modal, umumnya dengan struktur yang lebih sederhana dan hanya melibatkan satu pemberi pinjaman.

Sebaliknya, sekuritas utang merupakan instrumen yang lebih kompleks dan melibatkan penataan lebih luas. 

Ketika entitas institusional mengumpulkan modal dari banyak pemberi pinjaman atau investor melalui pasar terorganisir, ini biasanya disebut instrumen keamanan utang. Instrumen ini lebih canggih dan terstruktur, serta melibatkan banyak pihak dalam proses investasi melalui pasar yang terorganisir.

Siapa yang Menggunakan Instrumen Utang?

Istilah instrumen utang biasanya lebih menitikberatkan pada modal utang yang diterbitkan oleh entitas institusional, yang bisa mencakup berbagai lembaga seperti pemerintah, perusahaan swasta, atau entitas publik. 

Instrumen ini memberikan dana kepada entitas yang kemudian berkewajiban untuk mengembalikan modal tersebut dalam periode waktu tertentu. 

Karena struktur penerbitannya memungkinkan entitas untuk menarik modal dari banyak investor, maka mereka menerbitkan instrumen yang dikenal sebagai sekuritas utang. 

Sekuritas utang ini dapat diterbitkan dengan berbagai jangka waktu, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Sekuritas utang jangka panjang mengharuskan pembayaran kepada investor dalam periode lebih dari satu tahun, sementara sekuritas utang jangka pendek biasanya dibayar kembali dalam waktu kurang dari satu tahun. 

Secara umum, entitas yang menerbitkan instrumen ini dapat menawarkan pembayaran yang dimulai dari satu bulan hingga 30 tahun.

Garis utang bergulir, yang seringkali memiliki struktur yang lebih sederhana, umumnya hanya melibatkan satu pemberi pinjaman dan tidak terhubung dengan pasar sekunder atau primer untuk sekuritisasi. 

Sebaliknya, instrumen utang yang lebih kompleks seringkali melibatkan struktur kontrak yang lebih rumit, dengan banyak investor atau pemberi pinjaman yang berpartisipasi, biasanya melalui pasar terorganisir.

Jenis Instrumen Utang

Berdasarkan jangka waktu pelunasannya, instrumen utang dibagi menjadi dua kategori, yaitu:

Utang jangka pendek

Utang jangka pendek biasanya memiliki periode pelunasan yang relatif singkat, yaitu kurang dari satu tahun.

Utang jangka panjang

Utang jangka panjang memiliki jangka waktu jatuh tempo yang lebih lama, umumnya lebih dari satu periode akuntansi (lebih dari satu tahun), dan bisa saja memiliki durasi yang lebih panjang lagi.

Contoh Instrumen Utang di Indonesia

Berdasarkan jenis utang, pasar penerbitan untuk entitas yang dilembagakan sangat beragam. 

Lembaga dapat menggunakan berbagai jenis instrumen utang untuk memperoleh modal, seperti kartu kredit, jalur kredit, pinjaman, dan obligasi, yang semuanya termasuk dalam kategori instrumen utang.

Beberapa jenis yang sering digunakan sebagai instrumen utang antara lain:

Surat Utang Negara

Surat Utang Negara (SUN) adalah surat berharga yang berfungsi sebagai pengakuan utang dalam bentuk mata uang Rupiah atau valuta asing, yang pembayaran pokok dan bunganya dijamin oleh negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya.

Pengelolaan Surat Utang Negara ini diatur oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, yang memastikan beberapa hal, antara lain:

  • Penerbitan SUN hanya dilakukan untuk tujuan tertentu.
  • Pemerintah wajib membayar bunga dan pokok SUN yang sudah jatuh tempo.
  • Jumlah penerbitan SUN setiap tahunnya harus mendapat persetujuan dari DPR dan dikonsultasikan dengan Bank Indonesia.
  • Perdagangan SUN diawasi dan diatur oleh instansi yang berwenang.
  • Penerbitan oleh pihak yang tidak memiliki wewenang atau pemalsuan SUN akan dikenakan sanksi hukum yang tegas.

Tujuan Penerbitan Surat Utang Negara

Surat Utang Negara (SUN) tidak diterbitkan sembarangan, melainkan dengan tujuan yang jelas, antara lain:

  • Untuk membiayai defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
  • Untuk menutupi kekurangan kas jangka pendek.
  • Untuk mengelola portofolio utang negara.

 

Pemerintah pusat memiliki kewenangan untuk menerbitkan SUN setelah mendapatkan persetujuan dari DPR yang disahkan dalam rangka pengesahan APBN, serta setelah berkonsultasi dengan Bank Indonesia.

Istilah dalam SUN

Setiap jenis instrumen investasi memiliki istilah yang berbeda-beda dan terkait dengan karakteristik masing-masing. 

Dalam konteks Surat Utang Negara (SUN), terdapat dua istilah yang sering digunakan, yaitu jatuh tempo (maturity) dan bunga atau kupon.

Perlu diketahui bahwa SUN memiliki masa berlaku tertentu, yang berarti pemerintah akan mengembalikan dana pokok kepada investor setelah masa jatuh tempo berakhir. 

Masa jatuh tempo sendiri bervariasi, mulai dari 3 bulan hingga mencapai 30 tahun. Bunga atau kupon merupakan imbalan yang diberikan kepada investor atau pembeli SUN. 

Kupon ini dihitung sebagai persentase dari jumlah pokok utang dan diperhitungkan berdasarkan waktu setahun. Pembayaran kupon bisa dilakukan dengan cara diskonto atau setiap tiga bulan sekali.

Sebagai contoh, jika seorang investor membeli SUN senilai Rp100 juta dengan kupon 8 persen per tahun, maka dalam setahun investor akan menerima bunga sebesar Rp8 juta. 

Namun, karena pembayaran bunga dilakukan setiap tiga bulan sekali, investor akan menerima bunga sebesar 3/12 x Rp8 juta = Rp2 juta setiap kali pembayaran kupon dilakukan.

Jenis-jenis SUN

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2002, terdapat dua jenis Surat Utang Negara (SUN), yaitu:

Surat Perbendaharaan Negara (SPN)

SPN merupakan jenis SUN yang memiliki jangka waktu maksimal 12 bulan dan pembayaran bunganya dilakukan secara diskonto. 

Di beberapa negara, SPN dikenal dengan sebutan Treasury Bills atau T-Bills. SUN tipe ini umumnya ditujukan untuk investor besar.

Obligasi Negara (ON)

Obligasi Negara adalah SUN yang memiliki jangka waktu lebih dari 12 bulan, dengan bunga yang dibayarkan melalui diskonto. 

Obligasi Negara dengan kupon memiliki jadwal pembayaran bunga yang bersifat periodik, seperti setiap satu, tiga, atau enam bulan sekali. 

Sementara itu, ON tanpa kupon tidak memiliki jadwal pembayaran bunga. Di Indonesia, terdapat tiga jenis obligasi negara yang dijual melalui saluran ritel, yaitu:

  • ORI (Obligasi Ritel Indonesia)

ORI adalah obligasi ritel yang pertama kali diterbitkan oleh pemerintah Indonesia, dengan seri ORI001 pada Juli 2006. 

Setiap tahun, pemerintah biasanya menerbitkan 1-2 seri ORI. Pada Oktober 2022, pemerintah berencana menerbitkan ORI011, yang diperkirakan menawarkan kupon antara 7%-8,75% per tahun. 

Imbal hasilnya sedikit lebih tinggi dibandingkan bunga deposito, yang rata-rata berada di angka 7,11% (untuk deposito 1 bulan) dan 6,8% (untuk deposito 12 bulan). 

Pemerintah menargetkan penerbitan ORI011 dapat menyerap dana hingga Rp20 triliun, yang sebanding dengan target penerbitan ORI010 sebesar Rp20,21 triliun.

  • SBR (Saving Bond Ritel)

SBR adalah obligasi negara yang dijual kepada individu Warga Negara Indonesia melalui Mitra Distribusi di Pasar Perdana domestik dan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. 

Karakteristik SBR mencakup adanya floating minimum rate dan fasilitas early redemption.

  • Sukuk Ritel (SR)

SR adalah obligasi negara yang dijual kepada individu Warga Negara Indonesia melalui Mitra Distribusi pada Pasar Perdana domestik dan memiliki prinsip syariah. 

SR bisa menjadi pilihan investasi bagi mereka yang mencari produk investasi sesuai dengan syariah karena telah dijamin oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

SR memiliki karakteristik yang mirip dengan ORI, termasuk fixed rate setiap tahun dan keberadaan pasar sekunder.

Hipotek

Hipotek, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah kredit yang diberikan dengan jaminan berupa benda tidak bergerak, seperti tanah, bangunan, rumah, atau apartemen. 

Menurut Otoritas Jasa Keuangan, hipotek adalah instrumen utang yang melibatkan hak tanggungan atas properti yang diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman sebagai jaminan. 

Pemilik properti masih dapat memanfaatkan properti tersebut selama masa pinjaman, namun hak tanggungan atas properti tersebut akan gugur setelah kewajiban pinjaman dilunasi. 

Dengan kata lain, hipotek merupakan pinjaman jangka panjang untuk membeli properti yang dijamin oleh properti itu sendiri, di mana peminjam bisa tetap menggunakan properti tersebut. 

Jika peminjam gagal melunasi utang, properti yang dijaminkan menjadi milik pemberi pinjaman.

Obligasi

Obligasi adalah surat pernyataan utang yang diterbitkan oleh pihak yang membutuhkan dana kepada pemegang obligasi. 

Dalam pasar modal, obligasi memungkinkan penerbit utang dan pemegang obligasi berperan sebagai pihak yang berutang dan pihak yang berpiutang. 

Biasanya, obligasi mencantumkan tanggal jatuh tempo dan tingkat bunga (kupon) yang menjadi kewajiban pemegang obligasi. 

Di Indonesia, obligasi umumnya memiliki jangka waktu antara 1 hingga 10 tahun, dan diterbitkan untuk menghimpun dana dari masyarakat. 

Salah satu alasan obligasi masih diminati adalah karena obligasi dapat diperdagangkan kembali dan memiliki tingkat keamanan yang cukup tinggi, berhubung obligasi sering kali terkait dengan pemerintah, sehingga lebih aman dan terjamin.

Sebagai penutup, pengertian instrumen utang mencakup berbagai alat finansial yang digunakan untuk meminjam dana, di mana peminjam wajib mengembalikan dana tersebut beserta bunga yang telah disepakati.

Terkini