JAKARTA - Menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tak cuma menjaga ketersediaan air pada Bendungan Tapin, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, melainkan turut mengatur pemanfaatannya berpatokan pada skala prioritas.
Pengaturan tersebut diterapkan supaya pasokan air yang tersedia tetap sanggup mencukupi bermacam kebutuhan, mulai dari air baku dan irigasi hingga keperluan industri, energi listrik, serta pariwisata.
Menteri PU Dody Hanggodo mengungkapkan, optimalisasi operasional bendungan maupun infrastruktur sumber daya air menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memelihara ketersediaan air selama musim kemarau sekaligus menyokong target swasembada pangan.
"Kementerian PU terus mengoptimalkan operasi bendungan dan infrastruktur sumber daya air agar kebutuhan air baku, irigasi dan pengendalian banjir tetap terjaga. Dengan pengelolaan optimal, kami memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap aman dan berkelanjutan," ucap Dody dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 10 Agustus.
Bendungan Tapin yang dikelola Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III kini mempunyai volume tampungan mencapai 35.957.287 meter kubik atau kisaran 68,12 persen dari kapasitas tampungan muka air normal.
Di tengah ancaman El Nino, ketersediaan air tersebut mesti dikelola secara presisi.Pengelola mengaplikasikan pola operasi lewat cara mempertahankan ketersediaan air sesuai Rencana Tahunan Operasi Waduk atau menjaga elevasi muka air pada batas operasi normal.
Melalui pola tersebut, Bendungan Tapin bukan sekadar berfungsi sebagai lokasi penyimpanan air, melainkan juga sebagai infrastruktur yang mengatur jadwal dan peruntukan air dilepaskan.
Mengenai pemanfaatannya di area hilir, terdapat urutan prioritas yang menjadi acuan pengelola.
Kebutuhan air baku diposisikan sebagai prioritas utama.Seusai itu, pemanfaatan air diarahkan bagi irigasi, kebutuhan industri, energi listrik, dan pariwisata.
Pengaturan tersebut menjadi vital ketika pasokan air berpotensi terdampak kondisi cuaca ekstrem.
Lantaran adanya skala prioritas, pemanfaatan air dapat disesuaikan menurut kebutuhan paling mendasar.
Di samping itu, Bendungan Tapin mempunyai potensi penyediaan air baku sebesar 500 liter per detik.Pasokan tersebut sekaligus membantu memelihara debit pemeliharaan sungai.
Pengelolaan air pada Bendungan Tapin turut mempertimbangkan kondisi hidrologi secara berkala.
Pengeluaran air atau outflow release disesuaikan secara dinamis dengan memperhitungkan aliran air yang masuk dari wilayah hulu atau inflow.
Pengelola pun memakai pemodelan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Mempertimbangkan data tersebut, volume air yang dikeluarkan dapat disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air beserta kebutuhan di area hilir.
Optimalisasi Bendungan Tapin juga berkaitan erat dengan upaya memelihara kondisi lingkungan di sekitar wilayah hilir.