Gandeng OJK, Danamon Edukasi Siswa SMA Soal Pengelolaan Keuangan

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:06:59 WIB
Ilustrasi Logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK).(Sumber:NET)

JAKARTA - Minimnya pemahaman mengenai manajemen keuangan di kalangan pelajar dianggap masih menjadi tantangan mendasar di Indonesia.

Guna memperkokoh pemahaman finansial para generasi muda, PT Bank Danamon Indonesia Tbk menyelenggarakan program edukasi literasi keuangan bagi murid SMA sekaligus menyokong penguatan budaya membaca di lingkungan sekolah.

“Literasi keuangan merupakan bekal penting yang dapat membantu generasi muda mengambil keputusan finansial yang bijak dan tepat di masa depan,” ujar Regional Corporate Officer Danamon Sumatera Wilayah 2, Thamrin Tambunan dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).

Pada sebuah agenda literasi keuangan di salah satu SMA di Jambi, Thamrin menjelaskan bahwa instansinya berikhtiar menyajikan langkah edukasi demi mendorong lahirnya masyarakat yang paham finansial.

“Inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen Danamon untuk tumbuh bersama masyarakat dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan komunitas tempat kami beroperasi,” kata dia.

Program bertajuk “Belajar Mengelola Keuangan Sejak Dini untuk Masa Depan yang Lebih Baik” tersebut ditujukan kepada para murid jenjang SMA supaya mengerti pentingnya tata kelola uang, perencanaan keuangan, serta kewaspadaan atas beraneka risiko keuangan berbasis digital.

Deputi Kepala OJK Provinsi Jambi, Helmiyani, menuturkan masih ada selisih yang lumayan lebar antara tingkat literasi dan akses inklusi keuangan masyarakat di tanah air.

“Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), masih terdapat gap sebesar 14,02 persen antara tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia,” kata Helmiyani.

Untuk menjawab persoalan tersebut, OJK secara konsisten memacu pelbagai program edukasi serta peningkatan pemahaman keuangan, termasuk bagi kelompok pelajar yang tergolong segmen prioritas dalam SNLIK.

“Kami mendukung peran aktif perbankan dalam mendukung upaya peningkatan literasi keuangan melalui kegiatan edukasi yang menyasar generasi muda,” ujar dia.

“Kolaborasi antara regulator, industri jasa keuangan, dan institusi pendidikan seperti ini penting untuk membekali pelajar dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijak sejak dini, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko seperti investasi ilegal, pinjaman online (pinjol) ilegal, dan praktik judi online (judol),” tegas Helmiyani.

Di samping memberikan edukasi keuangan, pihak Danamon turut menyerahkan bantuan pembenahan interior ruang perpustakaan sekolah berupa sarana rak buku, meja membaca, serta alat penunjang lainnya.

Upaya tersebut diharapkan mampu menghadirkan suasana belajar yang makin nyaman sekaligus memacu daya tarik membaca para siswa.

Thamrin menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan wajib berjalan seiring dengan peningkatan budaya membaca di sekolah supaya generasi muda tidak sebatas mahir memutar uang, namun juga mengantongi pola pikir kritis serta sanggup merancang masa depan secara lebih matang.

“Kami berharap program literasi ini tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang baik, tetapi juga mendorong generasi muda yang semangat belajar, berpikir kritis dan siap merencanakan masa depan yang lebih baik,” tegas Thamrin.

Berdasarkan pencatatan hasil SNLIK 2025, angka literasi keuangan masyarakat Indonesia telah menembus 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan sudah menyentuh 80,51 persen.

Raihan ini menandakan kian banyaknya masyarakat yang memahami sekaligus memakai fasilitas layanan keuangan resmi.

Walau begitu, tantangan yang dihadapi masih tergolong besar, khususnya dalam hal pemerataan pemahaman keuangan serta peningkatan literasi pada produk jasa keuangan di luar sektor perbankan.

Sampai saat ini, pemahaman serta pemanfaatan produk keuangan masih didominasi oleh industri perbankan.

Sementara itu, pemahaman masyarakat atas produk nonbank layaknya asuransi, pasar modal, serta industri keuangan lainnya terhitung masih relatif rendah.

Dilihat dari cakupan demografi, kelompok rentang usia 18–35 tahun mencatatkan tingkat literasi paling tinggi, sedangkan kelompok umur 15–17 tahun dan masyarakat di atas usia 50 tahun masih menjadi segmen yang memerlukan perhatian ekstra.

Di lain sisi, pesatnya laju pertumbuhan layanan keuangan digital turut menghadirkan tantangan baru.

Maraknya marak kasus investasi bodong serta pinjaman online ilegal mengindikasikan bahwa sebagian masyarakat belum mengantongi pemahaman keuangan yang memadai sehingga rawan menjadi korban tindak penipuan.

Terkini