Arus Peti Kemas Nasional Semester I 2026 Tumbuh 5,51 Persen

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59:27 WIB
Ilustrasi Arus Peti Kemas Nasional.(Sumber:NET)

SURABAYA - Tren positif terus diperlihatkan oleh arus peti kemas nasional sepanjang semester I 2026.Capaian throughput PT Pelindo Terminal Petikemas menorehkan angka 6,63 juta TEUs atau naik 5,51 % ketimbang periode serupa tahun lalu.

Lonjakan ini ditopang oleh perluasan layanan pelayaran lewat pembukaan rute baru, penambahan kunjungan kapal (extra call), hingga naiknya volume perdagangan.

Widyaswendra selaku Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas menyatakan bahwa kenaikan berlanjut pada segmen peti kemas domestik serta internasional.

Trafik peti kemas luar negeri menembus 2,27 juta TEUs atau melesat 9,13%, sementara sektor domestik menyentuh 4,36 juta TEUs alias naik 3,72%.

Pada ranah perdagangan internasional, volume impor mencatatkan 1,11 juta TEUs (naik 11,67%) dan ekspor menempati angka 1,13 juta TEUs (naik 6,70%).

Capaian tersebut menegaskan bahwa pergerakan perdagangan Indonesia tetap berada di jalur positif kendati dibayangi dinamika ekonomi global.

"Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas pelayaran, pembukaan layanan (service) baru, penambahan kunjungan kapal, direct call internasional di kawasan Indonesia Timur, hingga meningkatnya kebutuhan logistik untuk mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN)," ujar Widyaswendra, Senin (27/07).

Di samping itu, modernisasi terminal, pembenahan konektivitas antarpelabuhan, dan penguatan mutu layanan menjadi kunci penting guna menjaga kelancaran rantai pasok nasional sekaligus memacu daya saing logistik Tanah Air.

Harry Sutanto selaku Wakil Ketua Umum Bidang Maritim dan Pelabuhan DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menilai bahwa kenaikan arus peti kemas merupakan indikator vital untuk mengukur dinamika ekonomi nasional.

Peningkatan ini memperlihatkan ketahanan ekonomi domestik dalam menghadapi ketidakpastian global.

Kendati performa ekspor sedikit tertekan dibanding impor, kondisi tersebut tetap membawa dampak positif sebab mayoritas impor atau sekitar 78 persen berupa bahan baku serta mesin untuk kebutuhan industri manufaktur.

"Kalau impor naik, sekitar 78 % di antaranya merupakan bahan baku dan mesin. Artinya prospek ekonomi, terutama sektor manufaktur, masih tumbuh," ucapnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2026).

Maraknya aktivitas transaksi perdagangan juga memicu dibukanya rute pelayaran baru dan bertambahnya frekuensi kapal yang bersandar di beberapa pelabuhan.

Salah satu pelabuhan dengan lonjakan performa yang mencolok yakni Pelabuhan Panjang di Lampung, di mana arus peti kemasnya melonjak hingga 17,4 %.

"Hampir semua pelabuhan menunjukkan pertumbuhan positif, meskipun tidak sama besar. Di Sumatra misalnya, Pelabuhan Panjang tumbuh cukup tinggi. Pelabuhan-pelabuhan Pelindo sendiri mewakili sekitar 90 persen aktivitas perdagangan nasional," tambahnya.

Menurut pertimbangan Harry, lini pelayaran tetap bersikap cermat dan berhati-hati sebelum mengoperasikan trayek baru.

Langkah ekspansi jalur pelayaran baru dieksekusi usai memastikan kecukupan volume muatan demi menjaga keberlanjutan operasional.

"Perusahaan pelayaran sangat berhitung dalam membuka rute baru. Mereka harus memastikan muatannya tersedia dan berkelanjutan sebelum memutuskan membuka layanan secara rutin," terangnya.

Di sisi lain, Harry memperingatkan bahwa industri pelayaran dunia masih terimbas tekanan akibat gejolak geopolitik.

Adanya pengalihan rute kapal memicu lonjakan biaya logistik laut, khususnya pada rute Asia-Eropa yang mencatat kenaikan tarif freight berkisar 30–70 %.

Selain itu, tekanan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menjadi tantangan yang mendongkrak beban biaya impor.

Indikator Positif

Carmelita Hartoto selaku Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA) memandang naiknya volume peti kemas sepanjang Semester I 2026 sebagai cerminan positif perekonomian nasional.

"Pertumbuhan arus peti kemas nasional pada Semester I 2026 merupakan sinyal yang positif bagi ekonomi kami (Indonesia). Ini tentu sinyal (positif) bahwa pertumbuhan ekonomi dan arus barang di pelabuhan tetap terjaga, meski di tengah tekanan ekonomi global," jelas Carmelita ketika dihubungi, Kamis (23/7/2026).

Ia mengimbau agar tren baik ini mampu dipertahankan lewat optimalisasi ekosistem logistik nasional, yang mencakup efisiensi pelabuhan, penguatan jalur antardaerah, hingga kelancaran aktivitas pelayaran.

"Kami harap ini dapat terus terjaga dengan menjaga iklim usaha yang baik di dalam ekosistem logistik nasional, seperti efisiensi pelabuhan, peningkatan konektivitas nasional, kelancaran operasional pelayaran dan lainnya. Jadi pertumbuhan ini terus berkelanjutan," tegasnya.

Raja Oloan Saut Gurning, pakar logistik maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berpendapat lonjakan throughput peti kemas adalah dampak logis dari geliat aktivitas ekonomi serta perdagangan.

“Urutannya dimulai dari pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika ekonomi tumbuh, interaksi perdagangan secara keseluruhan juga meningkat. Dari situ perdagangan melalui laut ikut bertumbuh, kemudian aktivitas ekonomi maritim yang mencakup logistik dan pelayaran juga meningkat, hingga akhirnya mendorong permintaan layanan terminal peti kemas,” urainya saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).

Berdasarkan pandangan Saut Gurning, sektor maritim mengenal prinsip ships follow the trade, yang bermakna dinamika pelayaran berjalan beriringan dengan volume perdagangan.

“Dalam industri maritim ada istilah ships follow the trade. Jadi kapal dan aktivitas terminal peti kemas mengikuti pertumbuhan perdagangan. Perdagangan sendiri merupakan turunan dari pertumbuhan ekonomi. Itu urutannya,” paparnya.

Ia menguraikan bahwa beragam kajian empiris mengindikasikan lonjakan throughput peti kemas memberi efek pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian.

Kendati demikian, besaran dampak tersebut tetap bergantung pada mutu sistem logistik nasional secara menyeluruh.

Dampak tersebut juga belum memperhitungkan potensi hambatan lain, seperti keterbatasan sarana, kendala konektivitas antarmoda, kemacetan jalur distribusi, persoalan regulasi, hingga alur customs, immigration, and quarantine (CIQ).

Kualitas Layanan

Penguatan daya saing perdagangan nasional sangat ditentukan oleh kualitas performa layanan terminal peti kemas.Layanan terminal yang tangguh dan andal bakal memangkas ongkos logistik maritim menjadi lebih efisien.

Seiring turunnya biaya logistik, daya saing transaksi dagang akan terangkat, volume perdagangan meningkat, serta minat pelaku usaha memilih terminal tersebut bakal kian tinggi.

Di sisi lain, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio memaparkan bahwa jalur peti kemas merupakan fondasi utama logistik domestik maupun ekspor-impor.

Meski demikian, dirinya mengingatkan sejumlah persoalan mendasar yang patut dibenahi, seperti ketimpangan arus logistik antardaerah, keterbatasan kapasitas pelabuhan, hingga kendala pendangkalan alur pelayaran yang menghambat efisiensi angkutan.

“Kalau alur pelayaran mengalami pendangkalan, kapal tidak bisa beroperasi secara optimal. Kapal akhirnya mengurangi muatan agar tetap aman berlayar, sehingga kapasitas angkut berkurang dan distribusi barang menjadi kurang efisien,” tuturnya sewaktu dihubungi, Rabu (22/7/2026).

Menurut Agus, aktivitas pengerukan alur pelayaran, pembaharuan fasilitas, serta alokasi investasi alat bongkar muat harus dirutinkan demi memacu produktivitas pelabuhan.

Investasi alat bongkar muat, modernisasi sarana, hingga ekspansi kapasitas terminal perlu dipacu agar efisiensi kerja pelabuhan kian optimal.

Ia pun mendesak percepatan penyediaan pelabuhan transhipment internasional guna mengurangi ketergantungan Indonesia pada pelabuhan negara tetangga.

“Saat ini sebagian arus peti kemas internasional masih harus melalui pelabuhan di negara tetangga sebelum menuju tujuan akhir. Jika Indonesia memiliki pelabuhan transhipment yang kuat, efisiensi logistik akan meningkat dan nilai tambahnya dapat dinikmati di dalam negeri,” tutupnya.

Terkini