Pakar Sarankan Hindari Jam Penerbangan Terakhir, Ini Alasannya

Jumat, 24 Juli 2026 | 15:19:07 WIB
Ilustrasi Naik pesawat.(Sumber:NET)

JAKARTA - Sebagian besar calon penumpang umumnya menentukan penerbangan berdasarkan harga tiket atau kesesuaian waktu dengan jadwal kegiatan mereka.

Padahal, menentukan jam penerbangan secara tepat dapat menekan risiko hambatan perjalanan, seperti keterlambatan jadwal, tertinggal pesawat sambungan, hingga harus menginap di area transit.

Pendiri sekaligus CEO maskapai swasta Blackjet, Dean Rotchin, menyampaikan bahwa menentukan waktu keberangkatan merupakan aspek penting yang patut dipertimbangkan sejak awal.

Ia mengimbau penumpang untuk menghindari jadwal penerbangan paling akhir pada hari tersebut jika menginginkan alur perjalanan yang lebih mulus.Berdasarkan penjelasannya, penerbangan di jam terakhir mempunyai potensi gangguan tertinggi.

"Penerbangan terburuk untuk dipesan adalah penerbangan terakhir dalam sehari. Penerbangan itu membawa semua dampak keterlambatan dari penerbangan-penerbangan sebelumnya," kata Rotchin.

Lebih detail Rotchin memaparkan, alur operasional penerbangan memiliki pola mirip efek domino.Armada pesawat, kru kabin, hingga penggunaan gerbang keberangkatan beroperasi secara berurutan sepanjang hari.

Saat ada penerbangan yang terlambat sejak pagi, dampaknya akan terus merembet ke penerbangan-penerbangan berikutnya hingga malam hari.

Ketika malam tiba, kesempatan untuk memulihkan jadwal sudah tidak ada lagi."Pada saat penumpang naik ke pesawat, awak kabin sudah bekerja seharian penuh dan kelelahan sudah mulai terasa di dalam kabin," imbuhnya.

Faktor lainnya, apabila penerbangan malam mengalami kendala atau penumpang tertinggal penerbangan sambungan, opsi penerbangan pengganti umumnya sangat terbatas lantaran tidak ada lagi jadwal tersisa pada hari yang sama.

"Tanpa banyak pilihan cadangan. Satu penerbangan lanjutan yang terlewat bisa membuat penumpang terdampar semalaman di kota yang tidak direncanakan," kata Rotchin.

Di sisi lain, opsi penerbangan paling pagi kerap dipandang sebagai pilihan terbaik karena belum terpengaruh oleh penumpukan keterlambatan dari jadwal sebelumnya.

Meski demikian, Rotchin menganggap penerbangan pagi hari juga tetap memiliki celah kekurangan.

"Keberangkatan pukul 05.00 pagi terdengar bagus sampai Anda menyadari bandara hanya beroperasi dengan jumlah petugas minimum dan nyaris belum ada yang buka. Penumpang naik ke pesawat dalam kondisi mengantuk, mudah kesal, dan tidak siap menghadapi gangguan apa pun," ujarnya.

Menurut penilaian Rotchin, pada jam-jam yang sangat pagi jumlah personel layanan pelanggan maupun tim teknis masih sangat terbatas.

Dampaknya, apabila terjadi kendala teknis, alur penanganannya dapat memakan durasi lebih lama ketimbang pada siang hari.

Selain jam keberangkatan, pemilikan hari perjalanan turut menentukan kelancaran penerbangan.Rotchin menguraikan bahwa Jumat sore termasuk salah satu waktu paling padat lantaran menjadi titik temu antara penumpang bisnis dan wisatawan akhir pekan.

"Penerbangan Jumat sore mempertemukan pelancong bisnis, wisatawan, dan kabin yang penuh karena kelebihan pemesanan. Mereka semua berebut ruang di bagasi kabin," ujarnya.

Ia memberi saran bagi penumpang yang memiliki fleksibilitas waktu agar memilih keberangkatan pada Kamis atau Sabtu pagi demi kenyamanan perjalanan.

Sementara itu, penerbangan pada waktu malam sebelum hari libur nasional juga sebaiknya dihindari lantaran area bandara umumnya dipadati penumpang dan kendala kecil, seperti cuaca buruk, bisa menyebabkan keterlambatan beruntun.

Secara umum, Rotchin menilai waktu penerbangan di pertengahan pagi (mid-morning departures) merupakan opsi paling ideal, yang biasanya dimulai sekitar pukul 09.00 waktu setempat.

Rentang waktu ini dinilai paling pas karena belum terimbas efek kumulatif keterlambatan, sementara seluruh operasional bandara sudah berjalan penuh.

Terkini