KLATEN - Masalah anemia akibat kekurangan zat besi masih kerap dijumpai di banyak negara, salah satunya di Indonesia.
Hingga kini, langkah pencegahan umumnya masih menitikberatkan pada pemenuhan konsumsi zat besi saja.
Namun sebenarnya, zat besi yang masuk ke dalam tubuh belum tentu bisa diserap seluruhnya secara maksimal.
Oleh karena itu, proses penyerapan zat besi yang maksimal serta kondisi kesehatan pencernaan turut memegang andil krusial dalam pencegahan anemia.
Laurent Clément selaku Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, memaparkan bahwa tantangan dalam menanggulangi anemia tidak sekadar tentang penyediaan asupan zat besi yang memadai, melainkan juga memastikan mineral tersebut terserap dengan maksimal tanpa mengganggu stabilitas mikrobiota pada usus.
"Zat besi memang harus tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana tubuh dapat menyerapnya dengan baik," ujar Laurent dalam talkshow di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).
Laurent menjabarkan bahwa masing-masing jenis makanan mempunyai tingkat penyerapan zat besi yang berbeda-beda.
Zat besi yang bersumber dari makanan nabati pada umumnya lebih sulit dicerna dan diserap tubuh ketimbang zat besi dari makanan hewani.
Kesenjangan penyerapan ini dipicu oleh beragam aspek, mulai dari zat penghambat hingga zat yang mendukung proses penyerapan mineral tersebut.
Menurut penjelasannya, kandungan fitat atau polifenol yang tinggi pada makanan nabati membuat zat besinya cuma bisa diserap berkisar 2 sampai 5 persen saja.
Sebaliknya, tingkat penyerapan zat besi dari sumber hewani seumpama daging justru mampu menyentuh angka 20 hingga 30 persen.
"Perbedaan penyerapannya bisa sangat besar, mulai sekitar 2 persen hingga mencapai 30 persen, tergantung sumber zat besinya," kata Laurent.
Bukan cuma dari jenis makanannya, penyerapan mineral ini juga dipengaruhi oleh zat gizi lain yang dikonsumsi secara bersamaan.
Keberadaan vitamin C terbukti mampu mendorong peningkatan penyerapan zat besi, khususnya yang berasal dari makanan nabati.
Di sisi lain, senyawa sejenis fitat serta polifenol justru dapat menghambat jalannya proses penyerapan tersebut.
Maka dari itu, formula taktik dalam mencegah anemia tidak melulu soal menaikkan kuantitas zat besi, melainkan juga harus mencermati perpaduan makanan agar penyerapannya makin maksimal.
Hal lain yang perlu diwaspadai adalah sisa zat besi yang gagal diserap tubuh bakal menetap di dalam saluran pencernaan.
Berdasarkan pemaparan Laurent, situasi ini dapat mengusik keseimbangan mikrobiota usus, tak terkecuali bakteri baik yang berfungsi merawat kesehatan pencernaan.
"Yang tidak terserap akan tetap berada di usus. Karena itu, kami perlu memastikan penyerapan zat besi berlangsung optimal sekaligus menjaga keseimbangan mikrobiota," jelas Laurent.
Dia menjabarkan bahwa keberadaan bakteri baik seperti Bifidobacteria turut memproteksi kesehatan organ usus.
Sebaliknya, bila ekosistem mikrobiota usus terganggu, bakteri patogen merugikan berisiko tumbuh lebih subur sehingga memicu kerentanan terhadap gangguan ataupun infeksi saluran pencernaan.
Laurent mengutarakan bahwa terobosan pada produk fortifikasi saat ini tidak lagi sekadar berpusat pada penambahan kandungan zat besi belaka.
Metode paling kontemporer yang diaplikasikan adalah memadukan zat besi, vitamin C, serta serat prebiotik (prebiotic fibers) dalam satu formula terintegrasi agar mampu mendongkrak volume zat besi yang masuk, memaksimalkan penyerapannya, sekaligus merawat kesehatan sistem pencernaan.
Komponen vitamin C memegang fungsi sebagai pendorong (enhancer) yang mengoptimalkan penyerapan zat besi, terutama jenis zat besi non-heme dari pangan nabati ataupun produk hasil fortifikasi.
Melalui proses serap yang lebih optimal, tubuh dapat memanfaatkan lebih banyak zat besi untuk memproduksi hemoglobin demi menangkal anemia defisiensi besi.
Fungsi krusial tersebut selanjutnya dilengkapi oleh kehadiran serat prebiotik.
Serat ini bertindak sebagai asupan nutrisi bagi perkembangan bakteri baik, khususnya Bifidobacteria, yang bertugas menstabilkan mikrobiota usus.
Kondisi mikrobiota usus yang prima akan menyokong fungsi proteksi organ pencernaan sekaligus menekan laju pertumbuhan bakteri merugikan yang berpotensi memicu infeksi.
Di samping memelihara stabilitas mikrobiota, komponen serat prebiotik ini juga ikut mendongkrak penyerapan zat besi.
Saat difermentasi oleh bakteri baik usus, serat prebiotik bakal memproduksi asam lemak rantai pendek yang mampu menurunkan tingkat pH pada usus.
Kondisi usus yang cenderung lebih asam ini membuat zat besi menjadi lebih gampang larut, sehingga bioavailabilitas serta daya serapnya ikut meningkat.
Berbagai riset pun membuktikan bahwa sistem kerja ini membantu tubuh dalam mengolah zat besi secara jauh lebih maksimal.
Strategi tersebut menjadi sangat fundamental karena zat besi yang gagal terserap bakal mengendap di saluran pencernaan.
Jika jumlahnya berlebihan, endapan zat besi tersebut dapat merusak struktur mikrobiota usus dengan memicu pertumbuhan bakteri patogen serta menggerus populasi bakteri baik.
Keadaan ini berisiko memicu gangguan kesehatan serta infeksi pada saluran cerna.
"Tujuan kami bukan hanya meningkatkan penyerapan zat besi, tetapi juga melindungi kesehatan saluran cerna melalui keseimbangan mikrobiota usus," ujar Laurent.
Oleh sebab itu, perpaduan zat besi, vitamin C, dan serat prebiotik dalam produk fortifikasi dipandang sebagai langkah paling mutakhir dalam menanggulangi problem anemia defisiensi besi.
Ketiga unsur tersebut bekerja secara sinergis dan saling melengkapi.
Zat besi menyuplai nutrisi utama yang diperlukan tubuh, vitamin C bertugas mengoptimalkan penyerapannya, sementara serat prebiotik mengawal proses penyerapan sekaligus menjaga stabilitas mikrobiota usus.