Spanyol vs Belgia: Ujian Sempurna La Roja di Perempat Final

Jumat, 10 Juli 2026 | 13:31:30 WIB
Pemain Spanyol merayakan gol dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol dan Austria di Los Angeles Stadium (SoFi Stadium) di Inglewood, California, Amerika Serikat.(FOTO:NET)

JAKARTA - Spanyol menjadi satu-satunya tim yang belum pernah kebobolan selama Piala Dunia 2026, namun hal itu terjadi bukan karena tim asuhan Luis de la Fuente mempunyai penjaga gawang dan lini pertahanan terbaik dalam turnamen ini.

Gawang La Roja masih suci dari gol lawan lebih karena tim rival kesulitan untuk menembus sepertiga pertama area Spanyol.

Artinya, musuh-musuh Spanyol lebih disibukkan untuk menghalau serangan para pemain La Roja, alih-alih berpikir untuk melancarkan serangan balik.

Indikator dari kondisi tersebut terlihat jelas dari jumlah peluang yang berhasil diciptakan oleh Spanyol bersama lima lawan terdahulu mereka.

Spanyol tercatat total mengemas 93 peluang dengan 32 di antaranya mengarah tepat ke sasaran, jumlah yang jauh mengungguli peluang milik lima lawan sebelumnya (Tanjung Verde, Arab Saudi, Uruguay, Austria, dan Portugal).

Kelima tim lawan tersebut secara akumulatif hanya memproduksi 29 peluang, angka yang bahkan masih kalah banyak jika dibandingkan dengan total 32 peluang tepat sasaran milik skuad Spanyol saja.

Spanyol bukanlah tipe tim yang pasif menunggu serangan dari musuh, melainkan kesebelasan yang aktif menghentikan lawan sebelum mereka sempat menyerang.

Bagi skuad Spanyol, taktik pertahanan terbaik yang bisa diterapkan adalah dengan cara menyerang.

Lewat skema yang proaktif, Spanyol berupaya untuk mengacaukan strategi lawan, mematikan inisiatif mereka, serta memaksa kubu musuh hanya bisa bereaksi akibat tekanan dari Spanyol.

Tim dengan daya ledak tinggi seperti Spanyol ini pada dasarnya hanya bisa diredam melalui dua metode utama.

Cara pertama yaitu bertahan secara total sembari mengandalkan skema serangan balik cepat, namun tim yang memakainya wajib mempunyai lini pertahanan kokoh serta kiper yang tangguh.

Cara kedua adalah dengan membalas memberikan tekanan, asalkan mempunyai barisan pemain dengan kualitas yang setara dengan Spanyol, khususnya di area lini tengah.

Tanjung Verde, Arab Saudi, dan juga Austria menerapkan metode yang pertama, namun hanya Tanjung Verde yang terbukti efektif karena mereka disokong oleh kiper serta lini belakang yang tangguh sekaligus disiplin.

Sementara itu, Uruguay dan Portugal memilih untuk menghadapi Spanyol dengan skema membalas tekanan.

Hasilnya, saat bertanding melawan Uruguay, Spanyol tercatat hanya mampu menciptakan total enam peluang saja.

Portugal yang bermain jauh lebih proaktif daripada Uruguay berhasil membuat peluang paling melimpah dengan total 10 peluang, yang mana 2 di antaranya mengarah tepat sasaran.

Belgia yang sukses melesakkan 12 dari keseluruhan 13 golnya ke gawang Selandia Baru, Senegal, dan Amerika Serikat, merupakan lawan yang mempunyai kualifikasi menyerang seperti Uruguay dan Portugal, namun juga dibekali pertahanan sekualitas Tanjung Verde yang sempat menahan Spanyol imbang 0-0.

Tim Setan Merah mempunyai kapasitas tinggi dalam mengendalikan sektor lapangan tengah sekaligus melancarkan tusukan ke wilayah sepertiga akhir dengan intensitas tinggi, ditambah sistem pertahanan serta penjaga gawang jempolan yang sanggup membendung gempuran musuh.

Belgia memang tercatat sudah kebobolan sebanyak lima kali, tetapi tim besutan Rudi Garcia ini merupakan tim yang paling agresif dalam menekan lawan di area pertahanan sendiri (defensive pressure) di antara delapan kontestan perempat final Piala Dunia 2026.

Spanyol sendiri kerap kali menemui kesulitan sewaktu berhadapan dengan tim yang menerapkan defensive pressure tinggi.

Portugal yang susah payah mereka tumbangkan serta Tanjung Verde yang sukses menahan imbang, merupakan dua tim dari peringkat lima besar pemilik defensive pressure tertinggi sepanjang Piala Dunia 2026, sedangkan Belgia bertengger tepat di bawah posisi Portugal dan Tanjung Verde dalam aspek tersebut.

Belgia juga dibekali kemampuan mumpuni dalam menguasai sektor lapangan tengah sehingga alur serangan bisa dioperasikan secara leluasa.

Kualifikasi yang dimiliki Belgia dalam urusan ini bahkan melampaui Uruguay, yang strategi menyerangnya sukses membuat lini serang Spanyol hanya bisa memproduksi 6 peluang walaupun pada akhirnya tetap menang 1-0.

Berbekal kapasitas mumpuni tersebut, Belgia merupakan paket lengkap yang siap menjadi lawan ideal bagi Spanyol.

Belgia diprediksi bakal mampu menjegal langkah La Roja menuju fase semifinal, atau setidaknya menguji secara menyeluruh sistem permainan Spanyol, khususnya sektor pertahanan mereka yang sejauh ini belum benar-benar mendapatkan ujian berat.

Didukung oleh sistem permainan yang seimbang di seluruh lini sehingga tampil sama agresifnya saat menyerang maupun bertahan, performa Belgia tercatat tidak kalah mentereng dari Prancis, bahkan sanggup memproduksi gol dan peluang yang jauh lebih banyak.

Koleksi 13 gol yang dimiliki Belgia sejauh ini hanya berada di bawah Prancis dan Argentina, namun mereka menjadi tim yang paling banyak menciptakan peluang gol.

Setan Merah secara total telah mengemas 107 peluang dengan 33 di antaranya tepat sasaran, sementara itu Spanyol mengoleksi 93 peluang dengan 32 yang on target.

Akan tetapi, meski kalah dalam hal kuantitas pembuatan peluang, La Roja mempunyai rasio yang lebih tinggi untuk perbandingan total peluang terhadap peluang on target, yakni sebesar 34% berbanding 30%.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Spanyol mengantongi catatan xG yang sedikit lebih tinggi, yaitu 10,56 berbanding 10,28.

Data statistik memperlihatkan bahwa Belgia mempunyai kemampuan memberikan perlawanan yang jauh lebih baik ketimbang lawan-lawan La Roja sebelumnya.

Namun demikian, hal tersebut diprediksi tidak akan mengubah status Spanyol sebagai tim yang mengendalikan jalannya laga, sebab kemampuan La Roja dalam melakukan manuver antarlini, membuka celah serangan, serta melepaskan sentuhan di sepertiga akhir masih berada di atas Belgia.

Dalam skema pertarungan ini, peran dari Rodri, Pedri, dan Lamine Yamal menjadi sangat krusial bagi kubu Spanyol.

Sebesar 17 persen dari total keseluruhan umpan milik Spanyol mengalir lewat kaki Rodri, sementara Pedri menjadi figur paling aktif dalam membuka ruang umpan sekaligus melakukan pressing dengan catatan frekuensi mencapai 195 kali.

Kondisi berbeda terlihat pada Yamal, yang menjadi pemain Spanyol yang paling sering dijadikan target operan, dengan koleksi menerima hingga 119 umpan.

Catatan angka milik Yamal tersebut berada di atas jumlah umpan yang diterima oleh Leandro Trossard di kubu Belgia.

Trossard juga menjadi pemain Belgia yang paling aktif dalam melancarkan pressing, walaupun tingkat frekuensinya masih berada di bawah Pedri.

Trossard serta Youri Tielemans, yang memegang peran sebagai pemain Belgia paling aktif dalam membuka ruang sekaligus bermanuver antarlini, merupakan dua dari sekian pilar Belgia yang wajib diwaspadai secara ekstra oleh Spanyol.

Kolaborasi Tielemans bersama Amadou Onana atau Nicolas Raskin atau Hans Vanaken di sektor lini tengah dalam formasi 4-2-3-1, berpotensi merusak dominasi Rodri yang menjadi poros permainan Spanyol dalam pola pakem 4-1-2-3.

Namun, Onana dipastikan harus absen dalam laga ini akibat menderita cedera.

Apabila Belgia berhasil mengimbangi dominasi Spanyol di lapangan tengah, maka Kevin de Bruyne, yang mengemas 23 umpan silang dan bergerak di belakang striker utama Romelu Lukaku atau Charles De Ketelaere, bakal menjadi lebih leluasa dalam mengkreasikan serangan Belgia.

Tidak sampai di situ, pertandingan ini juga dipastikan menjadi medan pertempuran sengit di area sayap, sektor di mana mayoritas gol dari kedua kesebelasan dalam lima laga terdahulu berawal dari skema di wilayah tersebut.

Apakah duet Maxim De Cuyper-Jeremy Doku di sektor sayap kiri Belgia yang mengemas 113 sentuhan di sepertiga akhir bakal tampil lebih impresif daripada Marc Cucurella-Alex Baena di sayap kiri Spanyol yang mengoleksi 114 sentuhan?

Apakah kemitraan Timothy Castagne-Leandro Trossard akan bermain lebih baik ketimbang sisi sayap kanan Spanyol yang dihuni oleh Pedro Porro dan Mikel Oyarzabal selaku pencetak gol terbanyak Spanyol?

Belgia mempunyai potensi yang jauh lebih besar untuk mengimbangi permainan Spanyol jika dibandingkan dengan Portugal dan Uruguay, sehingga mereka mengantongi modal besar untuk memenangi jalannya laga ini.

Meski begitu, rekam jejak pertemuan dari kedua tim tercatat masih lebih berpihak kepada skuad Spanyol.

La Roja sukses memenangi 12 dari total 22 bentrokan kompetitif melawan Belgia sebelum pertandingan ini digelar.

Bahkan dalam lima duel terakhir mereka, terhitung sejak Oktober 2004 hingga September 2016, Setan Merah selalu keluar sebagai pihak yang menelan kekalahan.

Catatan sejarah tersebut bisa menjadi indikator ke mana arah kemenangan bakal berlabuh, namun bisa juga menjadi momentum titik balik kebangkitan bagi skuad Belgia.

Terkini