Menjaga Hutan Sagu Demi Ketahanan Pangan Masyarakat Papua

Selasa, 30 Juni 2026 | 14:19:01 WIB
Seorang warga Kampung Skouw Yambe, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura menebang pohon sagu.(FOTO:NET)

JAYAPURA - Hutan sagu yang menjadi lahan produksi pangan lokal di Papua merupakan potensi besar bagi upaya pemerintah dan pemangku kepentingan guna mewujudkan swasembada serta ketahanan pangan berbasis lokalitas.

Oleh karena itu, berkurangnya area hutan sagu akibat peralihan fungsi lahan di sejumlah kabupaten atau kota mesti disikapi dengan menumbuhkan kesadaran setiap pihak.

Hal ini bertujuan agar mereka turut serta memelihara hutan sebagai pilar penyangga pangan masa depan bagi masyarakat Papua.

Menurunnya hamparan hutan sagu di berbagai kawasan di Papua tidak sekadar mendatangkan ancaman bagi ketahanan pangan masyarakat adat.

Kondisi ini juga berisiko melenyapkan jati diri budaya milik orang Papua yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.

Guru Besar Antropologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih (Uncen) Akhmad Kadir menuturkan bahwa sagu memiliki potensi yang teramat luas dibandingkan sekadar sumber asupan pokok.

Saat berbincang mengenai sagu, pembahasannya tidak terbatas hanya pada Papua Selatan, Papua Barat, maupun wilayah administratif yang lain.

Hal tersebut disebabkan oleh fakta bahwa sagu merupakan jati diri orang Papua.

Berdasarkan temuan riset lapangan seputar ketahanan pangan serta kearifan lokal warga Papua, sagu mengantongi ikatan yang sungguh erat dengan dimensi sosial, budaya, ekonomi, sampai ekologi masyarakat adat.

Papua itu sendiri termasyhur sebagai salah satu pusat keberagaman sagu paling besar di level global.

Berbagai spesies sagu tumbuh dan didayagunakan oleh warga berbekal wawasan tradisional yang diturunkan melintasi zaman.

Walau begitu, keadaan tersebut pada masa kini tengah berhadapan dengan ancaman membahayakan akibat makin masifnya alih fungsi lahan demi beragam keperluan dan perkebunan, contohnya di Merauke, Papua Selatan.

Area hutan sagu yang pada mulanya terhampar amat luas kini secara konstan terus menyusut.

Permasalahan tersebut tak dapat dinilai semata-mata dari segi lingkungan saja.

Ini tak hanya soal lenyapnya pasokan makanan.

Ini pun mengenai hilangnya jati diri, wawasan lokal, serta catatan sejarah masyarakat Papua.

Di balik tiap bentangan hutan sagu tersembunyi wawasan lokal yang terus berkembang sejak berabad-abad lamanya.

Warga adat mempunyai kecakapan dalam mengenali aneka ragam jenis sagu.

Mereka amat memahami bagaimana karakteristiknya.

Mereka pun bisa memutuskan kapan waktu panen yang pas.

Selain itu, mereka sangat terampil mengolahnya menjadi bermacam-macam kebutuhan hidup.

Wawasan tersebut sama sekali tak dibukukan ke dalam literatur akademik.

Akan tetapi, hal itu terus hidup di dalam praktik keseharian warga adat serta senantiasa diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Oleh sebab itu, saat hutan sagu musnah, bukan cuma pepohonannya saja yang raib.

Wawasan beserta nilai-nilai kebudayaan yang mengiringinya pun dipastikan ikut menguap.

Di samping menjadi sumber asupan makanan, sagu turut memegang fungsi sosial beserta kebudayaan yang teramat kukuh dalam eksistensi masyarakat adat Papua.

Pada beberapa kelompok masyarakat, yang mencakup Suku Marind di kawasan selatan Papua, sagu menjadi elemen krusial di dalam aneka ritual adat.

Rangkaian ritual itu dimulai dari agenda resolusi konflik, penyambutan para tamu, perayaan adat, sampai dengan prosesi kematian.

Bagi kelompok masyarakat adat, sagu tidaklah sekadar bahan untuk dikonsumsi belaka.

Sagu menjelma sebagai lambang keterikatan di antara manusia, alam semesta, dan para leluhur.

Hal tersebut bermakna bahwa sagu adalah wujud dari kehidupan itu sendiri.

Sagu merupakan bagian tak terpisahkan dari tata nilai yang eksis di dalam komunitas adat.

Di luar ancaman yang mengintai hutan sagu, pergeseran pola konsumsi masyarakat Papua yang makin bergeser pada beras serta makanan cepat saji menjadi sebuah tantangan baru.

Kondisi ini dipicu oleh kaum muda yang mulai kehilangan kedekatan dengan makanan lokal yang mana selama ini menjadi unsur pembentuk identitas budaya Papua.

Jika keadaan tersebut berlangsung terus-menerus tanpa ada upaya pelestarian yang memadai, Papua menanggung risiko akan musnahnya salah satu pilar vital di dalam kebudayaannya.

Perlindungan hutan sagu

Ancaman yang menyasar kelestarian sagu di Papua tak lagi hanya sebatas persoalan lingkungan.

Akan tetapi, hal itu telah menjelma sebagai permasalahan terkait jati diri, budaya, serta masa depan pangan warga.

Guna memecahkan permasalahan tersebut, dibutuhkan suatu tindakan kolektif dari pihak pemerintah, para akademisi, kelompok masyarakat adat, beserta seluruh pemangku kepentingan.

Oleh sebab itu, penjagaan area hutan sagu dari praktik alih fungsi lahan yang tak terkendali sangat dibutuhkan.

Langkah ini mesti diiringi penguatan edukasi tentang kebudayaan bagi generasi muda.

Selain itu, harus ada pula pengakuan penuh atas kearifan lokal warga adat sebagai bagian tak terpisahkan dari pusaka budaya yang mutlak harus dijaga.

Selain itu, sagu mesti diposisikan kembali sebagai elemen esensial di dalam kebijakan mengenai ketahanan pangan wilayah Papua.

Tujuannya tak lain agar komoditas ini tidak terus-menerus tergusur oleh bahan makanan yang didatangkan dari luar wilayah.

Merawat sagu tak semata-mata mengamankan sumber bahan pangan warga.

Tindakan tersebut juga menjadi upaya nyata guna merawat sistem ekologi, hak-hak komunitas adat, wawasan warisan leluhur, beserta identitas kebudayaan Papua.

Antropolog asal Universitas Cenderawasih yakni Abner Krey memberikan peringatan tegas bahwa merosotnya tingkat konsumsi sagu di Papua adalah masalah yang amat serius.

Hal tersebut tak semata berhubungan dengan pergeseran gaya makan sehari-hari.

Lebih dari itu, hal ini turut menyangkut tentang kelangsungan hidup budaya, roda perekonomian warga adat, serta ketahanan pangan tingkat wilayah.

Seminar Sagu Papua 2026 yang dihelat oleh suatu yayasan yang berdampingan dengan instansi Polres Jayapura Kota menjelma sebagai wadah diskusi terbuka.

Tujuannya adalah untuk kembali memacu sagu selaku bahan pangan strategis bagi masyarakat Papua di pusaran dinamika sosial serta rintangan pasokan pangan global.

Penduduk Papua pada detik ini kian merasakan pergeseran tren konsumsi dari bahan pangan lokal berbasis sagu ke arah asupan yang begitu bertumpu pada beras.

Transformasi itu banyak terjadi, terkhusus di sejumlah daerah bernuansa perkotaan.

Di area tersebut, kemudahan untuk memperoleh beras dirasa terlampau lebih gampang apabila dikomparasikan dengan sagu.

Sikap kebergantungan terhadap beras membikin Papua makin rentan tertimpa beragam jenis persoalan.

Ragam persoalan ini berawal dari kendala alur distribusi logistik, lonjakan harga beli, sampai dengan hambatan pasokan imbas faktor ekonomi serta kondisi geografis.

Papua memiliki karakter kewilayahan yang sungguh berlainan dari daerah-daerah lain di seantero Nusantara.

Terdapat begitu banyak kampung serta perkumpulan masyarakat adat yang hingga detik ini masih bersandar pada sumber-sumber pangan alami.

Dalam konteks seperti itu, eksistensi sagu memegang nilai yang begitu strategis lantaran ia sanggup bertumbuh secara alamiah.

Sagu pun dipastikan telah menjadi bagian yang merasuk ke dalam kehidupan para warga selama kurun waktu beratus-ratus tahun lamanya.

Papua sangat masyhur sebagai salah satu teritori yang mengantongi ekosistem sagu paling jempolan di muka bumi.

Bagi kelompok masyarakat adat, hutan sagu sama sekali bukanlah kawasan produksi pangan semata.

Kawasan itu juga menjadi ruang perikehidupan yang sarat akan nilai kebudayaan, urat nadi perekonomian, hingga interaksi sosial kemasyarakatan.

Hancurnya sistem ekosistem sagu dapat membawa imbas secara langsung pada masyarakat yang semenjak masa silam menggantungkan kelangsungan hidup dari kegiatan pengolahan sagu.

Mata rantai itu berawal dari aktivitas penebangan pohon, ekstraksi sari pati, sampai pada ranah perniagaan berbagai hasil olahannya.

Kondisi jaminan pangan global di masa kini kian menunjukkan betapa pentingnya upaya untuk terus memperkokoh kembali lumbung pangan lokal.

Sikap kebergantungan pada satu varian bahan asupan saja, umpamanya beras, dapat menjelma sebagai risiko rawan bilamana muncul rintangan alur distribusi logistik atau turbulensi ekonomi.

Risiko yang ada ini pastinya turut meliputi efek dari anomali cuaca ekstrem.

Oleh karena itu, wilayah Papua sangat perlu untuk membangun sebuah formula ketahanan pangan yang tidak cuma menitikberatkan pada persoalan tersedianya stok makanan.

Namun, hal tersebut juga mesti sanggup mempertahankan sumber makanan pokok yang selaras dengan situasi alam maupun corak tradisi warga di sana.

Pilihan komoditas yang dinilai paling akurat serta realistis tak lain adalah sagu.

“Karena itu, ketahanan pangan Papua tidak bisa hanya diukur dari banyaknya beras yang masuk. Kami harus melihat apakah masyarakat masih memiliki akses terhadap pangan yang berasal dari lingkungan mereka sendiri.”

Langkah yang bernilai strategis demi merawat keberlangsungan sagu yakni memperlebar akses jalan bagi masyarakat menuju komoditas pangan lokal yang bersumber dari sagu.

Terobosan ini paling patut untuk diprioritaskan di berbagai daerah perkotaan.

Upaya lainnya yakni mendorong roda kemajuan pada unit industri berukuran kecil serta UMKM yang berbahan dasar sagu agar sanggup mencetak daya jual ekonomi yang lebih menggiurkan.

Selain itu, sagu mesti dimasukkan sebagai elemen paling vital ke dalam penyusunan aturan ketahanan pangan skala kedaerahan.

Tindakan pengamanan serta upaya perbaikan zona hutan sagu mutlak harus digenjot sembari berangsur mengubah kerangka berpikir pembangunan sektor pangan yang selama ini cuma berorientasi di atas ketersediaan beras.

Melalui rangkaian ikhtiar semacam itu, sagu amat diharapkan agar tak cuma dilihat sebelah mata sebagai hidangan konvensional belaka.

Namun, sagu mutlak diakui sebagai penyangga utama bahan makanan di masa muka bagi Papua yang notabene memendam prospek ekonomi bernilai fantastis.

Festival sagu

Semenjak tahun 2023 sampai detik ini, kemeriahan Festival Colo Sagu secara kontinu rutin diadakan di wilayah Jayapura.

Manuver ini berguna sebagai langkah konkrit untuk menghadirkan ketahanan asupan makanan, mengangkat kearifan tradisi lokal, serta merawat kelestarian lingkungan hayati.

Gerakan ini juga sekaligus menjadi sebuah upaya teguh di dalam melanjutkan estafet perjuangan bagi setiap aktivis sagu yang konsisten mengawal serta melestarikan produk kuliner otentik dari tanah Papua ini.

Kapolresta Jayapura Kota yang sekaligus memegang predikat sebagai Founder Colo Sagu yaitu Kombes Pol Fredrickus WA Maclarimboen memberikan pandangannya bahwa festival tersebut sanggup menjadi momen penting guna memantik kesadaran kolektif demi mengamankan kelestarian hutan sagu.

Dalam waktu yang sama, agenda ini bisa menyokong percepatan perumusan regulasi hukum yang berpihak pada ekspansi sagu selaku lumbung pangan dan motor ekonomi bagi khalayak ramai.

Kegiatan festival itu diharap bisa menjelma sebagai sebuah pergerakan serentak dari seluruh lapisan publik.

Misi utamanya adalah untuk mengamankan warisan dari para leluhur Papua agar tetap bertahan demi menjamin kelangsungan hidup para penerus bangsa di periode masa yang akan datang.

“Kepedulian masyarakat Papua dalam mengembangkan potensi ekonomi sagu yang melimpah ini perlu terus kami dorong brrsama. Sagu memang menjadi identitas budaya dan kebanggaan masyarakat di Bumi Cenderawasih, namun masih perlu diperbanyak upaya yang menjadikan bahan pangan itu sebagai sumber usaha bernilai ekonomi.”

Berlandaskan dari aneka data yang berhasil diakses, perhitungan luas zona hutan sagu di daratan Papua dari yang pada awalnya sempat menyentuh angka satu juta hektare, pada saat ini telah mengalami penyusutan drastis ke kisaran 700 ribu hektare.

Lewat kehadiran festival inilah, sangat diharap dapat memantik kembali kobaran semangat untuk mengawal kearifan lokal sekaligus memastikan tingkat ketahanan pangan dengan bersandar penuh pada komoditas sagu di daratan Papua.

Terkini