Evaluasi Pasca-Insiden, Kemhan Ubah Fokus Latsarmil

Selasa, 30 Juni 2026 | 14:12:01 WIB
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.(FOTO:NET)

JAKARTA - Kementerian Pertahanan resmi menghentikan program latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi para Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang disiapkan sebagai pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta Koperasi Nelayan Merah Putih.

"Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil lagi," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Keputusan tersebut diambil usai Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengevaluasi sistem pembelajaran pascainsiden meninggalnya lima peserta latsarmil.

Rico menegaskan bahwa kegiatan fisik dan pelatihan yang bernuansa militer akan dikurangi secara signifikan.

"Dengan penyesuaian tersebut, kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini," kata Rico.

"Fokus kegiatan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi," ujar dia.

Rico menambahkan bahwa pihak Kemhan bakal lebih memperhatikan kesehatan peserta guna menjamin proses pendidikan berjalan aman dan tertib.

Sebelumnya, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program latihan tersebut.

"Atas arahan Menteri Pertahanan, penyelenggara telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan," kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia saat jumpa pers di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6).

Ketut menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan komprehensif diperlukan untuk memahami kondisi fisik tiap peserta.

TNI selaku pihak pelatih kini diwajibkan menyesuaikan porsi latihan fisik sesuai dengan kondisi fisik peserta masing-masing.

Kemhan juga menginstruksikan agar tindakan medis bagi peserta yang sakit dilakukan secara cepat dan maksimal.

Tidak sekadar kesehatan, Sjafrie juga memerintahkan evaluasi terhadap materi yang diberikan selama masa pendidikan.

"Kegiatan juga diarahkan agar lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta melalui metode pembelajaran yang membangun semangat kerja sama, problem solving, dan suasana yang lebih menggembirakan," kata dia.

Langkah ini diambil agar peserta tetap memperoleh esensi pendidikan berupa kedisiplinan dan jiwa kepemimpinan.

Terkini