Permintaan Protein Naik, Harga Bahan Baku Whey Dunia Melejit

Senin, 15 Juni 2026 | 13:26:21 WIB
Ilustrasi Whey Protein (FOTO: NET)

JAKARTA - Lonjakan permintaan global terhadap produk tinggi protein kini sedang berlangsung dengan sangat pesat.

Akan tetapi, industri susu saat ini mengalami kesulitan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan pasar tersebut.

Selama ini, minuman protein atau smoothie yang dicampur konsentrat protein whey menjadi andalan para atlet dan orang lanjut usia untuk menjaga serta membangun massa otot.

Whey itu sendiri didapatkan sebagai produk sampingan dari proses pengolahan keju.

Cairan tersebut kemudian dikeringkan hingga menjadi bubuk dan diaplikasikan ke dalam beragam produk suplemen.

Saat ini, pemanfaatan protein whey telah meluas dan tidak lagi terbatas pada minuman olahraga saja.

Banyak perusahaan makanan yang mulai mencampurkannya ke dalam sereal sarapan, Pop Tarts, keripik kentang, bagel, tortilla, hingga menu minuman Starbucks.

Strategi tersebut diterapkan guna merespons tingginya minat konsumen terhadap opsi makanan dan minuman kaya protein.

Berdasarkan data dari perusahaan riset pasar NielsenIQ, rata-rata supermarket di Amerika Serikat kini memajang sekitar 38.708 produk yang mencantumkan klaim kandungan protein pada label kemasannya.

Kendati demikian, tren popularitas ini mulai memicu persoalan baru di pasar.

Tingkat permintaan yang sangat masif mengakibatkan ketersediaan protein whey kualitas pangan kian menipis sehingga mengerek harganya ke level tertinggi.

"Permintaan sangat kuat dan tampaknya melampaui pasokan saat ini," kata Kathleen Wolfley, wakil presiden Ever.Ag Insights, penyedia data dan konsultan untuk industri pertanian.

Wolfley memaparkan bahwa pergerakan naik pada harga grosir protein whey sudah mulai terlihat sejak tahun 2024.

Akselerasi kenaikan harga tersebut berjalan semakin cepat pada tahun lalu dan trennya masih terus berlanjut di sepanjang tahun ini.

Di pasar komoditas susu Amerika Serikat, konsentrat protein whey dengan kadar protein 80 persen sekarang berada di angka perdagangan lebih dari 13 dollar AS per pon.

Varian jenis ini merupakan bahan yang paling sering diadopsi oleh para produsen suplemen dan makanan.

Jika dikonversi dengan kurs Rp 17.779 per dollar AS, nilai nominal tersebut setara dengan lebih dari Rp 231.127 per pon.

Merujuk pada data milik Ever.Ag, angka tersebut menunjukkan lonjakan harga hingga mencapai 250 persen jika dibandingkan dengan periode tahun lalu.

Sementara itu, isolat protein whey yang merupakan versi lebih murni dengan kadar protein minimal 90 persen juga mengalami kenaikan sebesar 150 persen dari tahun sebelumnya.

Efek domino dari kenaikan harga bahan baku ini pun perlahan mulai dirasakan langsung oleh konsumen ritel.

Menurut data dari perusahaan pelacak harga Datasembly, harga jual bubuk konsentrat protein whey di tingkat konsumen Amerika Serikat merangkak naik sekitar 15 persen dalam setahun terakhir.

Di sisi lain, bubuk whey isolat yang masuk kategori lebih premium mencatatkan lonjakan harga yang jauh lebih signifikan.

Fenomena kelangkaan dan kenaikan harga yang serupa kini juga tengah melanda wilayah Eropa.

Pada akhir Mei lalu, harga konsentrat protein whey 80 persen menyentuh rekor tertinggi baru di angka 26.450 euro atau setara 30.518 dollar AS per metrik ton.

Nilai komoditas tersebut setara dengan kisaran harga Rp 542,58 juta per metrik ton.

Berdasarkan laporan DCA Market Intelligence, sebuah perusahaan penentu harga komoditas asal Belanda, harga itu melesat lebih dari dua kali lipat dibanding kondisi kurang dari setahun sebelumnya.

Secara karakteristik, susu memiliki dua komponen protein utama, yaitu kasein dan whey.

Pada proses pembuatan produk keju, komponen kasein akan menggumpal membentuk dadih yang padat.

Sedangkan bagian whey yang berbentuk cairan dipisahkan untuk kemudian dikeringkan menjadi produk bubuk.

Departemen Pertanian Amerika Serikat mencatat bahwa dari setiap satu pon keju yang diproduksi akan menghasilkan sekitar sembilan pon whey.

Angka konsumsi susu di Amerika Serikat sebenarnya terus mengalami penurunan selama beberapa dekade terakhir karena masyarakat beralih ke alternatif minuman lain, seperti soda.

Meski begitu, angka konsumsi terhadap produk keju di negara tersebut terpantau tetap kuat.

Karakteristik negara dengan tingkat konsumsi keju yang masif otomatis akan menghasilkan pasokan protein whey dalam jumlah yang besar pula.

Sebelumnya, sebagian dari kelebihan pasokan whey ini biasanya dialokasikan untuk diekspor menuju China serta beberapa negara lainnya.

Namun sekarang, tingginya permintaan domestik terhadap camilan dan produk tinggi protein membuat pasokan whey lebih banyak ditahan untuk kebutuhan di dalam negeri Amerika Serikat.

Imbasnya, volume ekspor konsentrat protein whey 80 persen serta isolat protein whey dari Amerika Serikat ke China merosot tajam hingga 47 persen pada periode Januari sampai April jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Informasi pergerakan data tersebut dirilis oleh Vesper, sebuah perusahaan pelacak harga komoditas yang beroperasi dari Amsterdam.

"Tidak ada cukup produk untuk pelanggan AS, dan oleh karena itu ekspor telah dihentikan sebanyak mungkin," kata analis susu Vesper Jasper Endlich.

Situasi tersebut memaksa China untuk beralih mencari pasokan protein whey tambahan dari kawasan Eropa.

Sayangnya, Eropa sendiri juga sedang menghadapi situasi kelangkaan komoditas akibat berkurangnya pasokan dari Amerika Serikat.

Faktor lain yang ikut memengaruhi meroketnya permintaan whey adalah popularitas penggunaan obat penurun berat badan golongan GLP-1.

GLP-1 sendiri merupakan kategori obat yang jamak dimanfaatkan untuk membantu menekan nafsu makan pengguna, dengan contoh merek populer seperti Wegovy dan Zepbound.

Wolfley mengungkapkan bahwa adopsi obat obesitas ini menjadi salah satu katalis utama yang memicu lonjakan permintaan konsentrat protein whey di pasar.

Para pengguna obat GLP-1 pada umumnya diinstruksikan untuk memenuhi asupan protein yang cukup.

Langkah ini krusial agar mereka dapat merasakan kenyang dalam waktu lebih lama sekaligus menjaga massa otot tetap stabil saat terjadi penurunan berat badan.

Analisis dari Morgan Stanley memperkirakan ada sekitar 6 persen pasien obesitas dan diabetes di Amerika Serikat yang menggunakan obat GLP-1 pada tahun lalu.

Sementara untuk skala global, presentase pengguna berada di kisaran angka 2 persen.

Beberapa prediksi bahkan mengindikasikan bahwa penggunaan obat GLP-1 telah mencapai 12 persen dari keseluruhan populasi dewasa di Amerika Serikat.

Hal ini terjadi lantaran tidak semua orang yang mengonsumsi obat tersebut didiagnosis menderita penyakit diabetes atau obesitas.

Melihat fenomena ini, pelaku industri makanan dan nutrisi bergerak cepat memproduksi lebih banyak variasi produk dengan fortifikasi protein demi menggaet minat kelompok konsumen tersebut.

Produk tinggi protein ini juga menyasar kelompok individu yang menerapkan metode penggantian menu makan harian dengan shake protein untuk menurunkan berat badan.

Kombinasi antara menipisnya stok pasokan dan tingginya biaya bahan baku pada akhirnya memaksa sebagian produsen untuk menaikkan harga jual bubuk protein serta produk turunannya.

Now Foods, sebuah perusahaan suplemen dan makanan kesehatan asal Illinois, mengonfirmasi bahwa produk bubuk protein whey dalam wadah secara konsisten menjadi produk paling laris pada lini nutrisi olahraga mereka.

Akan tetapi, setelah melewati masa dua tahun menanggung beban biaya bahan baku yang mahal, pihak manajemen akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga jual produk protein whey mereka di awal tahun ini.

Bryan Morin selaku Manajer Merek Olahraga Now menyatakan bahwa pihak perusahaan tidak memproyeksikan adanya kebijakan kenaikan harga lanjutan untuk produk bubuk protein whey di sisa tahun ini.

Pihak Now saat ini sedang berupaya meredam imbas kenaikan biaya operasional tersebut dengan kebijakan pengurangan porsi diskon.

Di samping itu, pihak perusahaan juga tengah mengkaji rencana ekspansi portofolio produk menggunakan opsi konsentrat protein susu.

Varian bubuk tersebut diketahui memiliki kandungan komponen whey yang lebih rendah sehingga nilai harganya dipandang lebih terjangkau.

"Dari perspektif kami, dinamika pasar yang lebih luas terus menunjukkan lanskap protein yang ketat dan terus berkembang," kata Morin.

Merespons situasi ini, sejumlah produsen besar sebenarnya sudah mulai menanamkan investasi untuk memperluas kapasitas produksi protein whey mereka.

Walau demikian, tambahan pasokan baru dipastikan tidak akan bisa mengalir ke pasar dalam waktu dekat.

Perusahaan nutrisi asal Irlandia, Glanbia, sempat mengumumkan pada November lalu mengenai rencana peningkatan volume produksi isolat protein whey di fasilitas New Mexico mereka.

Namun, realisasinya memperlihatkan bahwa kapasitas tambahan tersebut baru bisa beroperasi penuh pada tahun 2027 mendatang.

Pada Februari, Agropur yang merupakan perusahaan susu asal Kanada juga mengutarakan komitmen serupa untuk mendongkrak produksi protein whey di jaringan pabrik mereka yang tersebar di Quebec, Nova Scotia, South Dakota, dan Wisconsin pada tahun 2029.

Di sisi lain, tingginya harga jual di pasar berpotensi memicu sebagian kelompok konsumen untuk mulai membatasi volume pembelian bubuk protein whey mereka.

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa harga bahan makanan secara umum di tingkat eceran juga terus merangkak naik akhir-akhir ini.

Wolfley memprediksi bahwa potensi penurunan tingkat permintaan di level ritel ini justru dapat menjadi sentimen positif yang membantu mengurai kelangkaan pasokan di tingkat grosir.

"Dinamika pasokan-permintaan dapat mulai membaik, tetapi kami tidak tahu apakah itu dinamika besok atau dalam setahun. Beberapa hal ini membutuhkan waktu," kata Wolfley.

Terkini