Efek BI Rate Naik ke 5,50 Persen, Saham Perbankan Raksasa Terapresiasi

Jumat, 12 Juni 2026 | 16:03:15 WIB
BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen (FOTO: NET)

JAKARTA - Sektor keuangan mencatatkan lonjakan harga saham setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026).

Meskipun demikian, kenaikan ini dinilai belum menjadi jaminan bahwa seluruh tantangan di sektor finansial telah benar-benar terlewati.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memaparkan bahwa apresiasi pada instrumen investasi perbankan ini menunjukkan respon positif pelaku pasar terhadap langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menekan risiko hengkangnya modal asing.

"Namun menurut saya masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tekanan pada saham perbankan sudah benar-benar selesai," kata Elandry kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan data transaksi dari RTI Business pada penutupan perdagangan hari Rabu lalu, jajaran emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar besar kompak bergerak di zona hijau.

Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melesat hingga 9,71 persen ke posisi 5.650.

Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turut menguat 5,50 persen menuju level 3.450.

Pertumbuhan positif ini juga diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang naik 4,16 persen ke angka 4.260, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang meningkat 3,23 persen ke level 2.880.

Walau begitu, Elandry mengingatkan bahwa pasar keuangan global masih diwarnai sejumlah agenda penting yang dapat memengaruhi pergerakan instrumen finansial dalam jangka pendek.

Menurutnya, fokus investor saat ini tertuju pada hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal Reserve (FOMC) di Amerika Serikat pada 16-17 Juni mendatang, yang diprediksi akan menentukan arah suku bunga global dan arus modal internasional.

Selain itu, pelaku pasar juga mengantisipasi momentum rebalancing portofolio indeks global MSCI pada akhir Juni nanti yang berpotensi memicu rotasi dana asing, baik arus masuk maupun keluar, sehingga dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan domestik.

"Jadi pandangan saya belum banyak berubah. Penguatan saat ini lebih mencerminkan perbaikan market sentiment dan relief rally setelah koreksi yang cukup dalam," ucapnya.

Elandry berpendapat bahwa peluang kelanjutan tren penguatan ini masih terbuka, asalkan stabilitas kurs rupiah tetap terjaga, aliran dana investor asing kembali mengalir deras ke pasar saham domestik, serta kebijakan bank sentral AS tidak terlampau agresif.

"Jika rupiah terus stabil, foreign flow mulai kembali masuk, dan hasil FOMC tidak terlalu hawkish, maka peluang rebound berlanjut akan semakin besar," ujarnya.

Kendati memiliki potensi tersebut, ia memproyeksikan pergerakan saham perbankan dalam beberapa pekan ke depan masih akan bergerak mendatar dengan tingkat volatilitas yang cukup tinggi.

Sebelumnya, Elandry juga sempat memperingatkan bahwa tekanan pada emiten keuangan masih membayangi selama investor asing terus melakukan aksi jual bersih, nilai tukar rupiah bergejolak, dan sentimen terhadap kondisi fiskal negara belum membaik.

Ia menilai bahwa penurunan harga saham yang terjadi beberapa waktu lalu lebih disebabkan oleh faktor dinamika sentimen serta perputaran modal eksternal, bukan karena penurunan performa fundamental dari bank-bank tersebut.

"Jadi ketika sentimen mulai stabil positif dan dana asing kembali masuk, biasanya saham-saham bank juga jadi salah satu sektor yang paling cepat pulih," tuturnya.

Sebagai informasi, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen ini di luar jadwal rutin Rapat Dewan Gubernur Bulanan.

Selaras dengan keputusan itu, suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 4,50 persen, dan suku bunga lending facility juga terkerek 25 basis poin ke posisi 6,25 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa penyesuaian suku bunga ini ditempuh untuk mengamankan stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak depresiasi yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"RDG Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).

Terkini