Harga Emas Pegadaian Anjlok, Produk UBS Turun Paling Tajam

Kamis, 11 Juni 2026 | 16:17:45 WIB
Emas batangan Galeri24 dengan ukuran 10 gram dan 25 gram.(Sumber:NET)

JAKARTA - Nilai jual logam mulia produksi UBS, Antam, serta Galeri24 terpantau merosot di Pegadaian pada Kamis, (11/6/2026) jam 06.15 WIB.

Penyusutan harga komoditas ini berada di rentang Rp 21.000 sampai Rp 54.000.

Berdasarkan data Antara, nilai emas batangan UBS merosot Rp 54.000 sehingga menjadi Rp 2.703.000 per gram dari posisi kemarin yang senilai Rp 2.757.000.

Sementara itu, produk emas Antam dibanderol lebih murah Rp 21.000 menjadi Rp 2.822.000 per gram dibanding perdagangan sebelumnya sebesar Rp 2.843.000.

Tren penurunan ini turut melanda emas cetakan Galeri24.

Harga produk Galeri24 menyusut Rp 44.000 menjadi Rp 2.690.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp 2.734.000.

Mengenai ketersediaan, Galeri24 menawarkan variasi ukuran mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram.

Di sisi lain, emas batangan UBS dipasarkan dalam ukuran 0,5 gram sampai 500 gram.

Sedangkan untuk produk Antam di Pegadaian, stok yang tersedia dibatasi hanya sampai ukuran 100 gram.

Berikut rincian lengkap harga emas di Pegadaian untuk tiap-tiap produsen:

Galeri24

0,5 gram: Rp 1.411.000

1 gram: Rp 2.690.000

2 gram: Rp 5.316.000

5 gram: Rp 13.192.000

10 gram: Rp 26.314.000

25 gram: Rp 65.431.000

50 gram: Rp 130.759.000

100 gram: Rp 261.388.000

250 gram: Rp 651.863.000

500 gram: Rp 1.303.725.000

1.000 gram: Rp 2.607.448.000

Antam

0,5 gram: Rp 1.464.000

1 gram: Rp 2.822.000

2 gram: Rp 5.581.000

3 gram: Rp 8.345.000

5 gram: Rp 13.874.000

10 gram: Rp 27.690.000

25 gram: Rp 69.095.000

50 gram: Rp 138.107.000

100 gram: Rp 276.133.000

UBS

0,5 gram: Rp 1.461.000

1 gram: Rp 2.703.000

2 gram: Rp 5.364.000

5 gram: Rp 13.257.000

10 gram: Rp 26.373.000

25 gram: Rp 65.803.000

50 gram: Rp 131.336.000

100 gram: Rp 262.568.000

250 gram: Rp 656.226.000

500 gram: Rp 1.310.910.000

Perkembangan Emas Global

Pada sesi sebelumnya, nilai emas di pasar internasional terpangkas pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026 lantaran gejolak baru di kawasan Timur Tengah mengaburkan peluang damai atas konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Kondisi tersebut turut memicu kecemasan terhadap lonjakan inflasi serta potensi kenaikan tingkat suku bunga.

Merujuk data CNBC, Kamis (11/6/2026), nilai kontrak emas berjangka AS untuk tenggat pengapalan Agustus anjlok 3,57% ke level US$ 4.133,30.

Angka penutupan tersebut merupakan rekor terendah sejak tanggal 24 November 2025.

Selaras dengan itu, harga emas spot juga melemah menuju posisi US$ 4.070,56.

Pelemahan harga komoditas ini merembet ke sektor perak.

Nilai perak di pasar spot menyusut hampir 3% ke level US$ 63,40 per ounce.

Kemudian platinum terpangkas 3,6% ke posisi US$ 1.664,48.

Sedangkan untuk paladium justru naik tipis 0,6% menuju US$ 1.213,75.

“Emas tetap menjadi korban meningkatnya risiko inflasi meskipun ketegangan geopolitik memicu penghindaran risiko. Konflik AS-Iran terbaru meredupkan upaya mengakhiri perang,” kata Analis Senior FXTM, Lukman Otunuga.

Garda Revolusi Iran mengonfirmasi telah meluncurkan gempuran roket dan pesawat tanpa awak ke basis militer milik AS di Yordania, Kuwait, serta Bahrain.

Tindakan itu diklaim sebagai balasan atas aksi penyerangan AS ke basis pertahanan Iran di kawasan Selat Hormuz.

Penurunan Harga Emas Mencapai 20% Sejak Konflik Iran

Nilai komoditas emas sudah terpangkas di atas 20% semenjak perang AS-Iran berkecamuk pada akhir bulan Februari 2026.

Pertikaian ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang kemudian menyulut kekhawatiran atas inflasi serta tingginya suku bunga perbankan.

Walaupun emas kerap dijadikan instrumen pelindung nilai dari inflasi, tingkat suku bunga yang tinggi biasanya menjadi beban bagi komoditas berharga yang tidak memberikan imbal hasil langsung ini.

Para pelaku industri finansial memproyeksikan ada peluang kenaikan suku bunga sebesar 67% pada Desember nanti, berdasarkan data CME FedWatch.

Data Consumer Price Index (CPI) atau indeks harga konsumen yang dirilis hari Rabu diprediksi bakal memengaruhi arah kebijakan yang akan diambil oleh the Federal Reserve (the Fed) di paruh kedua tahun 2026.

Melihat dari indikator teknikal, Otunuga menjelaskan bahwa penurunan harga emas di bawah garis simple moving average (SMA) 200 hari menjadi indikasi kuat adanya tren penurunan (bearish) yang berpotensi memicu tekanan aksi jual lanjutan akibat sokongan faktor fundamental.

Terkini