Rangkuman Ekonomi: Kenaikan BI-Rate hingga Sinergi RI-Singapura

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:47:04 WIB
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura Gan Kim Yong (kanan), bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto. (Sumber: NET)

JAKARTA - Sejumlah perkembangan di bidang ekonomi dilaporkan pada Selasa (9/6), dimulai dari keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen sampai percepatan kolaborasi investasi, ekonomi digital, serta energi terbarukan antara Indonesia dan Singapura.

Di bawah ini adalah deretan kabar ekonomi kemarin yang penting untuk dicermati pada hari Rabu ini.

Dalam rangka mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah, BI kembali menaikkan bunga acuan ke tingkat 5,5 persen.

Melalui agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada hari Selasa, Bank Indonesia kembali meningkatkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen demi memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah serta menjaga inflasi agar tetap terkendali.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangan yang terkonfirmasi di Jakarta, Selasa, menyatakan bahwa peningkatan suku bunga acuan ini juga dimaksudkan untuk memperbesar imbal hasil agar dapat menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke Indonesia.

Pada sisi yang lain, IHSG melonjak sebesar 7,5 persen yang dipicu oleh agenda aksi buyback korporasi BUMN serta peningkatan BI-Rate.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore resmi ditutup menguat lantaran didorong oleh rencana program pembelian kembali saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (big caps) kepunyaan BUMN serta disokong oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

IHSG ditutup menguat dengan penambahan sebesar 404,51 poin atau melonjak 7,57 persen ke level 5.746,65.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut terdongkrak sebesar 42,24 poin atau naik 8,01 persen ke level 569,32.

Selanjutnya, Kemenperin berkomitmen meningkatkan porsi pangsa pasar ekspor sektor industri menjadi 30 persen.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang mengupayakan agar porsi pasar ekspor bagi industri manufaktur naik dari yang semula berada di angka 20 persen menjadi 30 persen, tanpa menurunkan kapasitas dalam memenuhi kebutuhan domestik.

Melalui keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memaparkan bahwa komposisi penjualan produk manufaktur saat ini masih dikuasai oleh pasar domestik, dengan rincian sekitar 80 persen untuk kebutuhan dalam negeri dan 20 persen untuk ekspor.

Pemerintah turut menargetkan angka pertumbuhan ekonomi pada rentang 5,8 sampai 6,5 persen untuk tahun 2027.

Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi domestik pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen dalam rancangan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027.

“Dengan strategi ekonomi yang tepat dan kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia pada tahun 2027 dapat tumbuh kuat dalam kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa.

Terakhir, pihak RI-Singapura memperkuat ikatan kerja sama di sektor investasi hingga energi hijau.

Pemerintah Indonesia bersama Singapura memperkuat sinergi ekonomi di bidang investasi, pengembangan ekonomi digital, hingga sektor energi yang ramah lingkungan.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, Airlangga memaparkan bahwa kerja sama tersebut diimplementasikan di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) yang menjadi salah satu titik fokus utama kolaborasi ekonomi kedua negara.

Terkini