Waspada Rabies Kucing: Gejala, Risiko Penularan, dan Ciri Klinis

Selasa, 09 Juni 2026 | 10:43:52 WIB
Ilustrasi vaksin rabies pada kucing (Sumber: NET)

JEMBRANA - Seorang warga berinisial NKS (38) dikabarkan meninggal dunia dengan diagnosis dugaan kuat atau suspek rabies setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di RSU Negara.

Pihak rumah sakit melalui Kepala Bidang Pelayanan Medik RSU Negara, dr Gusti Ngurah Putu Adnyana, menjelaskan bahwa pasien tersebut dibawa ke IGD pada Sabtu (23/5/2026) dengan keluhan klinis berupa rasa takut pada air, sangat sensitif terhadap embusan angin, serta mengalami sesak napas.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari pihak keluarga, diketahui bahwa NKS sempat digigit kucing sekitar satu bulan sebelum gejala-gejala tersebut muncul.

Sangat disayangkan, luka bekas gigitan hewan itu tidak segera dibersihkan secara medis dan korban juga tidak memperoleh suntikan vaksin antirabies (VAR).

Dokter yang merawat kemudian menyimpulkan bahwa pasien mengalami inflamasi atau peradangan pada organ otak yang disertai gejala klinis hidrofobia serta aerofobia, di mana tanda-tanda ini sangat identik dengan kasus infeksi rabies.

Meskipun tim medis sudah berupaya memberikan tindakan dan perawatan yang maksimal, kondisi kesehatan pasien terpantau terus menurun hingga dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (24/5/2026) dini hari.

Hewan kucing sendiri dikenal mempunyai kedekatan yang sangat erat dalam kehidupan harian manusia dan populasinya sangat mudah ditemukan di berbagai tempat.

Fenomena penularan ini tentu memicu rasa cemas dan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama bagi para pencinta serta pemilik kucing.

Terkait dengan hal tersebut, timbul pertanyaan mengenai apa saja ciri klinis atau tanda-tanda ketika seekor kucing terinfeksi penyakit rabies?

Merespons fenomena ini, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. drh. Slamet Raharjo, M.P, memaparkan bahwa kucing termasuk sebagai satwa pemakan daging atau karnivora yang memiliki potensi menjadi agen pembawa virus rabies. "Kucing adalah karnivora yang juga Hewan Pembawa Rabies (HPR) yang artinya secara klinis dapat menjadi pembawa dan penular rabies bagi hewan lain dan manusia," kata Slamet ketika dihubungi Kompas.com pada Senin (8/6/2026).

Jika dilihat dari aspek fisiologis, Slamet menjelaskan bahwa kucing yang terjangkit virus rabies cenderung menunjukkan indikasi yang jauh lebih tenang apabila dibandingkan dengan anjing.

Pada hewan anjing, fase perkembangan penyakitnya terbagi secara bertahap meliputi masa inkubasi, fase prodromal, fase eksitasi, hingga fase paralisis yang polanya terlihat sangat kontras dan berbeda jika dibandingkan dengan kasus pada kucing. "Meskipun gejala tidak senyata anjing, kucing tetap dapat menularkan rabies ke hewan lain dan manusia melalui gigitan," kata Slamet.

Secara lebih mendalam, seekor kucing dapat terinfeksi virus rabies dari hewan penular lainnya lewat beberapa media penularan seperti bekas gigitan, luka cakaran, ataupun akibat paparan kontaminasi dari air liur hewan yang sakit. "Di Jembrana, sangat mungkin tertular dari anjing penderita rabies," tambah Slamet.

Mengacu pada data medis mengenai gejala penyakit menular, terdapat deretan tanda klinis yang patut diwaspadai sebagai indikasi bahwa seekor kucing telah terinfeksi rabies, di antaranya adalah:

  • Kondisi kucing yang kelihatan gelisah.
  • Terjadinya perubahan tabiat atau perilaku yang berubah menjadi jauh lebih agresif.
  • Adanya kecenderungan sering menggigit benda-benda yang berada di sekelilingnya.
  • Suhu tubuh atau kondisi yang membuat kucing tampak lebih haus daripada kondisi normal biasanya.
  • Kucing menjadi sering bersembunyi di tempat yang gelap.
  • Memiliki kecenderungan untuk menyendiri dan menjauh.
  • Kondisi fisik luar yang tampak lemas serta tidak bertenaga.
  • Menjadi sangat sensitif ketika terpapar oleh cahaya.
  • Munculnya gejala takut terhadap air atau hidrofobia.
  • Kucing mulai tidak mengenali lagi siapa pemiliknya.
  • Mengalami gangguan pada sistem saraf pusat.
  • Terjadinya kondisi rahang yang terkunci (lock jaw).
  • Serta mengalami tingkat kesulitan yang tinggi untuk sekadar berdiri ataupun berjalan.

Terkini