Rekor Tuan Rumah Piala Dunia, Kota Mexico City Perlahan Tenggelam

Selasa, 09 Juni 2026 | 09:55:02 WIB
Stadion Mexico City.(Sumber:NET)

MEXICO CITY - Wilayah Mexico City sukses mengukir sejarah baru sebagai kota perdana yang dipercaya memegang status tuan rumah ajang Piala Dunia hingga tiga kali.

Bukan sekadar perihal rekam jejak sejarahnya, karakteristik geografis yang dimiliki kawasan ini pun terbilang sangat luar biasa.

Dalam peta sepak bola global, nama Mexico City tentu sudah tidak asing lagi.

Kawasan ini menjadi saksi bisu tempat megabintang sepak bola seperti Pelé mengangkat piala pada tahun 1970 serta momen Diego Maradona melesakkan gol "Tangan Tuhan" yang sangat melegenda di tahun 1986.

Sekarang, menyongsong gelaran Piala Dunia 2026, pusat pemerintahan Meksiko ini bersiap kembali menorehkan tinta emas sebagai satu-satunya kota di dunia yang pernah menghelat kompetisi Piala Dunia sebanyak tiga kali.

Akan tetapi di balik kemeriahan yel-yel suporter di tribun, Mexico City menyimpan cerita pilu.

Berada pada posisi ketinggian melampaui 2.200 meter dari permukaan laut, Mexico City menjelma sebagai salah satu kota dengan tingkat kepadatan tertinggi sekaligus paling eksentrik di dunia.

Kilas balik ke masa 500 tahun silam, para penjelajah asal Spanyol mendirikan kota ini tepat di atas puing-puing wilayah Tenochtitlan, yang merupakan ibu kota megah peradaban suku Aztec yang dahulu berada terapung di atas area Danau Texcoco.

Kondisi geologis warisan masa lalu tersebut menyisakan sebuah realitas yang mengejutkan: akibat struktur tanah yang gembur serta aktivitas penyedotan air tanah secara besar-besaran, Mexico City secara bertahap kian tenggelam.

Hasil tangkapan gambar dari sistem radar milik NASA memperlihatkan level penurunan muka tanah menyentuh angka lebih dari 1,27 cm pada tiap bulannya.

Kondisi tersebut menempatkan metropolitan ini sebagai salah satu ibu kota dengan akselerasi penurunan tanah paling ekstrem di muka bumi.

Sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di dunia, Mexico City terpaksa merelakan cadangan air di dalam tanahnya dikuras habis hingga memicu penurunan permukaan.

Proses pembangunan infrastruktur kota yang bergulir tanpa henti turut andil dalam mempercepat laju amblesnya tanah, sebagaimana dilaporkan oleh CNN.

Gejala penurunan dataran di wilayah Mexico City sejatinya mulai terdokumentasikan sejak era tahun 1920-an.

Semenjak periode tersebut, masyarakat lokal sudah merasakan dampaknya secara langsung, mulai dari kondisi aspal jalanan yang pecah-pecah, posisi bangunan yang menjadi miring, hingga kendala pada fasilitas moda transportasi kereta api.

Potret paling gres dari satelit NISAR, yang merupakan proyek kerja sama bentukan NASA bersama Organisasi Penelitian Luar Angkasa India (ISRO), membeberkan skala keparahan problem geologis ini lewat rincian yang mencengangkan.

Satelit NISAR sendiri dipersiapkan secara khusus guna memetakan deretan dinamika paling rumit di planet Bumi serta mempunyai kapabilitas memantau pergeseran skala kecil seperti halnya penurunan tanah.

Wahana antariksa ini merupakan salah satu perangkat radar paling mutakhir yang pernah diorbitkan ke ruang angkasa.

Di antara periode Oktober 2025 sampai Januari 2026, tepat pada momen musim kering di Mexico City, NISAR merekam data pergeseran tanah di wilayah bawah kota tersebut.

Dari pantauan itu terungkap bahwa sejumlah sektor wilayah kota mengalami penurunan posisi dengan kecepatan berkisar 2 cm per bulan atau menembus 24 cm di setiap tahunnya.

Sektor yang kedapatan mengalami kerusakan paling parah mencakup area Bandara Internasional Benito Juarez, yang berstatus sebagai lapangan terbang utama di kota itu.

Situs historis Monumen Angel of Independence dengan tinggi 34,7 meter, yang didirikan pada tahun 1910 demi memperingati satu abad kemerdekaan negara Meksiko, bahkan terpaksa ditambahkan 14 buah anak tangga pada bagian tapak bawahnya seiring dengan terus merosotnya permukaan tanah di area tersebut.

"Mexico City adalah titik rawan yang sangat dikenal dalam hal penurunan tanah dan citra seperti ini hanya permulaan bagi NISAR," ujar David Bekaert, manajer proyek Institut Penelitian Teknologi Flemish.

Satelit tersebut diklaim mempunyai kemampuan untuk memonitor dinamika geologi lain di dunia seperti pergerakan aliran gletser ataupun fase pertumbuhan vegetasi tanaman, hingga peristiwa bencana alam layaknya aktivitas erupsi gunung berapi.

Gejala amblesnya lapisan tanah di kawasan Mexico City sebenarnya sudah terekam sejak era dekade 1920-an.

Semenjak masa tersebut pula, penduduk setempat terpaksa berkompromi dengan efek nyatanya yang membayangi keseharian, mulai dari permukaan jalan yang terbelah, struktur arsitektur gedung yang tampak condong miring, hingga kendala operasional pada sistem angkutan kereta api.

Kini, visualisasi terbaru dari satelit NISAR, sebuah proyek kemitraan berskala besar antara NASA dan Organisasi Penelitian Luar Angkasa India (ISRO), sukses memaparkan derajat keparahan krisis lingkungan ini dengan tingkat ketepatan yang sangat luar biasa.

Satelit NISAR pada dasarnya dirancang khusus demi membaca fenomena-fenomena paling pelik di permukaan bumi, termasuk memonitor pergerakan tanah yang teramat tipis sekalipun.

Berbekal kemampuan canggih tersebut, satelit ini didapuk sebagai salah satu perangkat radar paling perkasa yang pernah dikirim ke luar angkasa.

Lewat pantauan berkala yang dilangsungkan sepanjang masa kemarau di Mexico City, khususnya dari bulan Oktober 2025 sampai Januari 2026, NISAR mendeteksi aktivitas pergeseran tanah di kawasan urban tersebut.

Data yang dikumpulkan memperlihatkan bahwa beberapa sudut kota mengalami penurunan vertikal sebesar kurang lebih 2 cm pada setiap bulannya, atau setara dengan lebih dari 24 cm dalam jangka waktu setahun.

Di antara kawasan yang mencatatkan dampak paling merusak adalah zona Bandara Internasional Benito Juarez, yang bertindak sebagai gerbang transportasi udara utama bagi kota tersebut.

Contoh ikonis lainnya dapat dijumpai pada bangunan Monumen Angel of Independence.

Menara setinggi 34,7 meter yang dibangun pada tahun 1910 guna memperingati momen seratus tahun kemerdekaan Meksiko ini bahkan mesti direnovasi melalui penambahan 14 undakan tangga baru di bagian bawahnya, demi menyiasati kondisi tanah di sekelilingnya yang kian melosot ke bawah.

"Mexico City adalah titik rawan yang sangat dikenal dalam hal penurunan tanah dan citra seperti ini hanya permulaan bagi NISAR," ungkap David Bekaert, selaku manajer proyek dari Institut Penelitian Teknologi Flemish.

Ia juga menambahkan bahwa ke depannya, satelit canggih ini juga memiliki kapasitas untuk memantau fenomena alam lainnya di bumi, mulai dari pergerakan bongkahan gletser, fase pertumbuhan vegetasi, hingga deteksi bencana alam seperti aktivitas erupsi gunung berapi.

Terkini