Tips Psikolog: 4 Pola Asuh Cegah Perilaku Menyimpang Anak

Senin, 08 Juni 2026 | 09:54:05 WIB
Ilustrasi anak menggandeng tangan.(Sumber:NET)

YOGYAKARTA - Memiliki anak yang tumbuh dengan kepribadian terpuji serta patuh pada aturan sosial tentu menjadi harapan semua orang tua.

Namun pada kenyataannya, ayah dan ibu tidak bisa mengawasi gerak-gerik anak sepenuhnya, terutama saat mereka berada di luar rumah atau ketika mengakses internet dan media sosial.

Orang tua pun kerap dibuat kaget saat mendapati anak melakukan tindakan keliru, seperti mencuri, berjudi, atau pelanggaran norma lainnya.

Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran karena perilaku menyimpang tersebut dapat merusak masa depan anak dan mengganggu ketenteraman lingkungan sekitar.

Lalu, bagaimana langkah yang bisa diambil orang tua untuk membentengi anak dari perilaku menyimpang?

Seorang ahli psikologi dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, menjelaskan bahwa perilaku menyimpang (deviant behavior) tidak terjadi secara tiba-tiba.

“Dalam psikologi, perilaku ini tidak muncul tiba-tiba. Biasanya ada interaksi antara faktor individu, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan,” ujar Ratna saat dihubungi Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, langkah pencegahan harus menitikberatkan pada kedekatan emosional, pengawasan, serta teladan dari orang tua, yang mana hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penelitian.

Berikut adalah empat langkah yang bisa diterapkan oleh orang tua:

1.Membangun kedekatan yang aman dan sehat

Berdasarkan teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth, orang tua disarankan membangun ikatan yang aman (secure attachment) dengan anak.

“Anak yang memiliki hubungan aman dengan orang tua cenderung menginternalisasi nilai-nilai orang tua. Mereka merasa didengar dan diterima, sehingga lebih terbuka saat ada masalah,” jelas Ratna.

Langkah konkret yang bisa dilakukan adalah menyisihkan waktu 15–20 menit setiap hari untuk mengobrol bersama anak tanpa terganggu oleh ponsel, sekaligus menanyakan aktivitas yang mereka lalui.

Orang tua juga diharapkan dapat merespons emosi anak tanpa menghakimi.

“Kalimat seperti ‘Aku paham kamu kesal’ lebih efektif daripada ‘Sudah dibilang jangan!’,” tambahnya.

2.Menerapkan pola asuh otoritatif

Ratna menjelaskan bahwa pola asuh otoritatif adalah kombinasi antara penerapan aturan yang tegas, pemberian alasan di baliknya, namun tetap memberikan kehangatan kepada anak.

"Ini paling protektif terhadap perilaku menyimpang," kata Ratna.

Terdapat perbedaan kontras dalam penerapan sikap otoritatif, otoriter, dan permisif.

Pada sikap otoritatif, orang tua akan lebih fokus memberikan penjelasan, alasan, serta solusi.

Contoh penerapannya adalah sebagai berikut: "Kamu nggak boleh merokok. Bahaya buat paru-paru dan aku khawatir. Kalau ada tekanan dari teman, kami cari cara mengatasinya".

Sebaliknya, sikap otoriter lebih bersifat memaksa dan mengancam dengan hukuman, contohnya: “Pokoknya jangan! Kalau ketahuan nanti akan dihukum.”

Sementara sikap permisif cenderung menunjukkan ketidakpedulian terhadap anak, contohnya: "Perserah kamu deh".

Lebih lanjut, Ratna memaparkan bahwa riset membuktikan remaja dengan orang tua otoritatif memiliki tingkat perilaku menyimpang, pelanggaran aturan, hingga penyalahgunaan narkoba yang lebih rendah dibanding remaja yang tidak diasuh dengan metode tersebut.

3.Melakukan pengawasan dan supervisi

Berdasarkan teori Kontrol Sosial dari Hirschi, disebutkan bahwa perilaku menyimpang dapat terjadi jika ikatan sosial melemah.

"Orang tua dapat memperkuat ikatan itu lewat pengawasan yang wajar dan bukan memata-matai," jelas Ratna.

Caranya adalah dengan mengetahui teman bermain anak, aktivitasnya setelah jam sekolah, hingga lokasi yang dikunjunginya.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah menyepakati aturan mengenai jam malam, pengelolaan uang saku, hingga penggunaan gawai secara bersama-sama.

4.Menjadi teladan yang baik bagi anak

Berdasarkan teori Belajar Sosial dari Bandura, Ratna menjelaskan bahwa anak-anak belajar melalui proses mengamati sekelilingnya.

"Kalau orang tua suka ngomong kasar, melanggar aturan, atau merokok, pesan untuk tidak boleh melakukan hal serupa menjadi tidak kuat," kata Ratna.

Ia menambahkan bahwa anak akan melihat konsekuensi dari tindakan orang tua mereka lalu menirunya.

Meski demikian, tidak ada jaminan yang pasti.

Ratna menegaskan bahwa tidak ada jaminan 100 persen anak terbebas dari perilaku menyimpang.

“Masa remaja adalah fase eksplorasi identitas,” ujarnya.

Namun, ada beberapa tanda yang menunjukkan tingkat risiko yang lebih rendah, antara lain:

Memiliki ikatan emosional dengan keluarga: Anak mau menceritakan masalahnya tanpa takut dimarahi, serta tetap menikmati waktu berkumpul dengan keluarga.

Mempunyai kontrol diri yang baik: Anak mampu menahan diri untuk tidak membeli barang mahal yang tidak penting, serta tetap fokus menyelesaikan tugas sekolah meskipun ada godaan bermain gim atau aktivitas lain yang menyenangkan.

Menginternalisasi nilai kebaikan: Anak menolak ajakan melakukan hal negatif karena sadar tindakan itu salah, bukan hanya karena takut ketahuan atau dihukum.

Hubungan yang sehat dengan teman sebaya: Anak berada dalam lingkungan pertemanan yang positif, memiliki prestasi belajar yang baik, dan tidak terlibat perilaku berbahaya.

Aktif dalam organisasi atau lingkungan positif: Anak berkomitmen mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau komunitas, serta memiliki sosok mentor di luar keluarga.

"Kalau aspek di atas kuat, anak punya buffer saat ada tekanan dari lingkungan. Tapi ingat, remaja juga butuh ruang buat salah dan belajar. Tujuan pencegahan bukan membuat anak takut salah, tapi membuat mereka merasa aman untuk kembali kalau salah," jelas Ratna.

Terkini