SEMARANG - Kota Semarang tercatat mempunyai ratusan bank sampah aktif yang mampu mengolah hingga lebih dari seribu ton sampah setiap tahunnya.
Nilai perputaran ekonomi dari aktivitas tersebut ditaksir menyentuh angka Rp 1,99 miliar.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memaparkan, sampai pada tahun 2025 kemarin, total unit bank sampah yang berdiri telah mencapai 857 titik dengan menjaring sebanyak 15.725 nasabah.
"Hingga tahun 2025, Kota Semarang memiliki 857 bank sampah aktif dengan 15.725 nasabah," kata Agustina, Rabu (3/6/2026).
Lewat inisiasi Program Semarang Wegah Nyampah, langkah penguatan unit bank sampah, ekspansi ekonomi sirkular, sekaligus pemberian edukasi kepada warga, Agustina terus memacu pergeseran kebiasaan dalam mengelola sampah langsung dari tingkat rumah tangga.
"Sampah yang berhasil dikelola mencapai 1.705,7 ton per tahun dengan nilai ekonomi sirkular mencapai Rp 1,99 miliar," katanya.
Untuk periode tahun ini, pemerintah kota memasang target agar jumlah unit bank sampah dapat mendongkrak naik hingga menyentuh 1.486 unit.
"Pada tahun 2026, jumlah bank sampah ditargetkan meningkat menjadi 1.486 unit dengan proyeksi pengelolaan sampah mencapai 2.823,4 ton per tahun," terang Agustina.
Pengelolaan Sampah di Bulusan
Agustina memberikan gambaran, salah satu contoh kesuksesan dalam pengelolaan sampah tersebut dapat dijumpai di kawasan Kelurahan Bulusan.
Proses pengelolaan sampah di wilayah ini tidak sekadar berfokus pada perbaikan kondisi lingkungan semata, melainkan juga berhasil menciptakan potensi bernilai ekonomi.
Agenda ini pun dinilai sanggup mempererat tali gotong royong antarwarga, sekaligus mengikis kebiasaan lama guna mendirikan pola hidup yang berkelanjutan di lingkungan sosial masyarakat.
Kinerja Kelurahan Bulusan ini bahkan memperoleh pujian langsung dari Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat saat menggelar agenda kunjungan kerja pada Selasa (2/6/2026).
Agenda kunjungan itu diagendakan guna meninjau secara langsung proses pemrosesan sampah organik lewat pemanfaatan temuan inovatif Biowash Promic, yang dipelopori oleh Yayasan Peduli Lingkungan Penghijauan Melindungi Bumi dari Polusi.
Temuan inovasi tersebut mengoptimalkan kegunaan bioaktivator yang berbasis mikroorganisme guna memicu proses pembusukan sampah organik agar lebih cepat berganti wujud menjadi media tanam, pupuk organik, ataupun nutrisi tanaman yang aman bagi ekosistem.
Bukan cuma menjadi tempat pemrosesan sampah, lokasi tersebut kini bertransformasi menjadi pusat edukasi bertema lingkungan, gerakan penghijauan, konsep urban farming, hingga sarana pemberdayaan kelompok masyarakat.
Bermula dari pergerakan di lingkup RT 04 RW 04 Kelurahan Bulusan, aksi swadaya ini bertumbuh menjadi teladan nyata dari implementasi ekonomi sirkular yang turut mengikutsertakan warga setempat secara aktif.
Di sela-sela peninjauannya, Jumhur memberikan pandangan bahwa apa yang telah diinisiasi oleh warga Bulusan menjadi bukti konkret jika jalan keluar atas problem sampah dapat diinisiasi dari level terbawah serta menghadirkan dampak positif bagi lingkungan dan finansial warga.
“Dari RT di Kota Semarang melahirkan satu gagasan bahwa ternyata sampah itu menguntungkan dan itulah ekonomi sirkular. Sampah bukan masalah, bahkan bisa menjadi bagian dari peningkatan kegiatan ekonomi,” ujarnya.