Kebakaran Hebat di Kemayoran Hanguskan 304 Bangunan

Rabu, 03 Juni 2026 | 13:50:07 WIB
Kebakaran yang terjadi kawasan permukiman padat penduduk di Kemayoran Gempol belakang Pasar Jiung.(Sumber:NET)

JAKARTA - Peristiwa kebakaran besar yang menghanguskan kawasan permukiman padat penduduk akhirnya berhasil dikendalikan setelah petugas pemadam berjibaku menjinakkan kobaran api selama tujuh jam sampai dini hari.

Saat pagi hari tiba, pemandangan di area terdampak hanya menyisakan tumpukan puing sisa arang berupa abu, seng, serta kayu yang telah menghitam.

Pihak berwenang mendata kerugian materiel berupa ratusan unit rumah tinggal yang ditempati oleh ratusan kepala keluarga sekarang telah rata dengan tanah.

Keadaan ini memaksa ratusan warga yang kehilangan tempat berteduh untuk mengungsi di lokasi penampungan sementara yang disiapkan oleh seorang pengusaha lokal.

"Lalu ada delapan korban mengalami luka-luka, terdiri dari enam perempuan dan dua laki-laki. Korban luka telah mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Hermina," ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, di lokasi pengungsian, Selasa.

Pemerintah daerah bertindak taktis dengan membangun belasan tenda darurat untuk menampung berbagai logistik dan warga yang kehilangan tempat tinggal.

Bantuan makanan siap santap serta pasokan air bersih pun langsung didistribusikan ke posko darurat untuk para korban terdampak.

Masyarakat yang mengalami musibah amat mendambakan adanya uluran tangan dari pihak berwenang agar bisa membangun kembali tempat beralih berteduh mereka.

Seorang warga lanjut usia mengisahkan bahwa seluruh aset bangunan kontrakan miliknya beserta rumah sanak saudaranya kini sudah ludes tak bersisa.

Semua bangunan kepunyaannya saat ini telah berubah menjadi arang setelah diamuk si jago merah.

"Semuanya habis. Ada delapan rumah," ujar Kotnawi usai memeriksa puing-puing sisa rumahnya, Selasa.

Pria yang telah puluhan tahun tinggal di wilayah tersebut menggantungkan roda ekonominya dari hasil berjualan pakaian di pasar yang lokasinya berdampingan dengan wilayah kebakaran.

Ia menegaskan tekad kuatnya untuk merenovasi kembali tempat tinggalnya jika memperoleh sokongan dana atau bahan bangunan dari pemerintah.

"Mau bangun lagi. Mau rehab kalau ada bantuan. Saya sih mohon bantuannya saja kalau bisa gitu, untuk memperbaiki," tutur Kotnawi.

"Namanya kan kami usaha di sini, tinggal di sini. Jadi kan kalau enggak ada tempat tinggal, bingung," jelasnya.

Walau begitu, warga paham sepenuhnya bahwa status lahan yang mereka tempati selama puluhan tahun tersebut merupakan aset milik kementerian negara.

Persoalan kepemilikan lahan itu diakui telah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat yang bermukim di sana.

Warga lainnya pun membenarkan hal serupa terkait status kepemilikan tanah negara tempat bangunan mereka berdiri selama ini.

Ibu rumah tangga itu terpaksa merelakan rumah hasil kerja kerasnya bersama sang suami ikut hangus terbakar pada malam tersebut.

"Itu tempat (rumah) sendiri. Tapi misalkan digusur ya bareng-bareng soalnya kan tanahnya tanah pemerintah. Saya cuma nempelin bangunan," katanya, Selasa.

Terkini