Pelemahan Rupiah: Peluang Ekspor vs Risiko PHK Massal

Selasa, 19 Mei 2026 | 13:43:30 WIB
Ilustrasi Dolar AS.(Sumber:NET)

JAKARTA - Penurunan nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak melulu memberikan dampak negatif bagi perekonomian dalam negeri. 

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menilai bahwa kondisi ini justru bisa menciptakan peluang bagi sektor industri berbasis ekspor dan berpotensi meningkatkan ketersediaan lapangan kerja di sektor-sektor produktif.

Eddy mengamati penurunan kurs rupiah terhadap dolar AS masih menyimpan dampak positif untuk sejumlah sektor ekonomi, khususnya industri yang berorientasi pada pasar ekspor.

Berdasarkan analisisnya, pelemahan nilai tukar memang dapat membebani perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komoditas impor.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut justru menguntungkan bagi perusahaan yang menggunakan modal rupiah tetapi memperoleh pendapatan dalam denominasi dolar AS, seperti perusahaan eksportir.

“Meskipun dapat dipersepsikan ‘turun kelas’ atau ‘kurang diminati’, sebenarnya depresiasi mata uang itu banyak manfaatnya jika negara mampu memanfaatkan momentum tersebut. Misalnya, produk negara itu menjadi lebih kompetitif untuk diekspor ke negara lain,” kata Eddy saat dihubungi Liputan6.com, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, produk buatan dalam negeri dapat menjadi lebih kompetitif jika dibandingkan dengan barang impor yang harganya cenderung melonjak akibat depresiasi rupiah. 

Tidak hanya itu, Eddy juga melihat adanya dampak berantai pada sektor ketenagakerjaan. Menurutnya, peningkatan potensi ekspor dapat mendorong penyerapan tenaga kerja di bidang produktif.

“Lapangan kerja ada kemungkinan meningkat di sektor produktif karena peningkatan potensi ekspor,” ujarnya.

Eddy juga menilai biaya operasional di dalam negeri yang menjadi relatif lebih murah dapat menarik kedatangan modal asing dalam bentuk foreign direct investment (FDI).

“Lebih murahnya biaya beroperasi di dalam negeri menyebabkan derasnya capital inflow dari luar dalam bentuk foreign direct investment sehingga ekonomi bisa tumbuh dan lapangan kerja meningkat,” sambungnya.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa tidak semua sektor bisnis mendapatkan keuntungan dari merosotnya nilai rupiah. Industri yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku impor justru akan merasakan dampak buruknya. 

Menurut Eddy, sektor seperti migas, komoditas pangan impor, mesin, hingga alat berat merupakan bidang yang paling rentan terdampak penurunan nilai rupiah.

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia telah memberikan peringatan mengenai adanya potensi pengurangan karyawan apabila tekanan terhadap dunia usaha terus berlanjut, termasuk yang diakibatkan oleh melemahnya mata uang rupiah.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyebutkan bahwa biaya operasional perusahaan semakin membengkak seiring merosotnya nilai rupiah terhadap dolar AS. 

Berdasarkan keterangannya, kondisi ini dapat berdampak pada penurunan pendapatan perusahaan hingga berujung pada pengurangan karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kami hindari,” kata Sarman kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Ia menegaskan bahwa dunia usaha mendukung penuh langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar beban pada sektor usaha tidak semakin berat.

“Kami mendukung penuh berbagai upaya, usaha, dan langkah pemerintah agar penguatan nilai tukar rupiah ini segera terjadi,” imbuhnya.

Sarman menjelaskan bahwa para pelaku usaha mulai meningkatkan kewaspadaan sejak nilai tukar rupiah menembus angka Rp17.000 per dolar AS. 

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak penurunan rupiah terhadap sektor ketenagakerjaan.

“Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk pemerintah sudah harus segera ditindaklanjuti agar dapat membantu dunia usaha untuk mengantisipasi terjadinya rasionalisasi tenaga kerja,” pungkasnya.

Tags

Terkini