JAKARTA - Perkembangan investasi berbasis keberlanjutan semakin mendapat perhatian di Indonesia. Seiring meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan, berbagai inisiatif pembiayaan mulai diarahkan untuk mendukung proyek-proyek yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Salah satu tantangan utama dalam pengembangan investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) adalah keterbatasan akses pembiayaan, terutama pada sektor-sektor yang memiliki dampak sosial dan lingkungan yang besar. Untuk menjawab tantangan tersebut, model pembiayaan inovatif mulai diperkenalkan guna menjembatani kebutuhan modal sekaligus memperluas partisipasi investor.
Dalam konteks inilah, perusahaan securities crowdfunding PT Dana Aguna Nusantara atau Danamart menghadirkan inisiatif baru melalui peluncuran skema blended finance. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperluas akses investasi berbasis ESG di Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem pembiayaan berkelanjutan.
Melalui pendekatan pembiayaan yang terstruktur, model blended finance memungkinkan kolaborasi antara modal filantropi, investor, dan penerbit proyek dalam satu ekosistem investasi. Skema ini dirancang untuk memperkecil risiko sekaligus meningkatkan daya tarik investasi pada sektor-sektor yang memiliki dampak sosial dan lingkungan.
Peluncuran Skema Blended Finance Di Indonesia
Perusahaan securities crowdfunding atau urun dana PT Dana Aguna Nusantara (Danamart) resmi meluncurkan pilot blended finance pertama di Indonesia. Inisiatif ini menjadi langkah penting dalam mengembangkan model pembiayaan yang menggabungkan berbagai sumber dana untuk mendukung investasi berdampak.
Perusahaan yang berfokus pada segmen Environmental, Social, and Governance (ESG) tersebut menerangkan bahwa langkah ini merupakan tahap awal dalam membangun ekosistem blended finance yang lebih terstruktur dan berkelanjutan di Indonesia.
Melalui model pembiayaan terstruktur tersebut, Danamart berupaya mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam investasi berdampak. Kolaborasi ini mencakup investor, lembaga filantropi, hingga pihak penerbit proyek yang membutuhkan pembiayaan.
CEO Danamart Patrick Gunadi menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan berbagai sumber dana bekerja secara bersama-sama dalam satu mekanisme investasi yang saling melengkapi.
Pendekatan Investasi Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan
Patrick Gunadi menerangkan bahwa pendekatan blended finance dirancang untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan pada sektor-sektor berdampak tinggi yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Sektor-sektor yang menjadi fokus pembiayaan tersebut mencakup bidang kesehatan, akses air bersih, serta pengembangan energi terbarukan. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki dampak besar bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Selain itu, inisiatif tersebut juga diharapkan dapat memberikan manfaat sosial yang lebih luas. Patrick menyampaikan bahwa program ini turut berkontribusi dalam memperluas akses pendidikan serta mendukung masyarakat yang belum terlayani secara optimal oleh sistem pembiayaan konvensional.
“Inisiatif tersebut bukan sekadar donasi, melainkan cara membangun investasi yang bisa berjalan dan berkembang,” ujarnya saat konferensi pers di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026).
Melalui pendekatan tersebut, investasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pembangunan sosial dan lingkungan.
Peran Dana Filantropi Dalam Mengurangi Risiko Investasi
Dalam skema blended finance yang dikembangkan Danamart, dana filantropi memiliki peran penting dalam membantu mengurangi risiko investasi pada tahap awal proyek.
Patrick menjelaskan bahwa dana filantropi digunakan sebagai mekanisme mitigasi risiko sehingga investor memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi untuk ikut berpartisipasi dalam pembiayaan proyek.
Melalui mekanisme tersebut, proyek-proyek yang memiliki dampak sosial dan lingkungan yang besar dapat memperoleh dukungan pembiayaan yang sebelumnya sulit dijangkau melalui skema investasi konvensional.
Patrick menyampaikan bahwa inisiatif ESG yang dijalankan Danamart masih berada pada tahap awal. Meski demikian, beberapa dampak positif sudah mulai terlihat dalam implementasinya di Indonesia.
Dampak tersebut meliputi peningkatan ketahanan pangan, khususnya bagi 7.000 anak-anak. Selain itu, program ini juga berhasil membantu mengurangi sekitar 11.000 ton emisi Karbon Dioksida (CO2).
Di sisi lain, implementasi program tersebut juga berkontribusi dalam penciptaan sekitar 3.000 lapangan kerja serta meningkatkan akses layanan kesehatan bagi 12.000 individu.
Peluang Kolaborasi Untuk Memperluas Pembiayaan ESG
Melalui proyek percontohan tersebut, Danamart menerapkan skema pembiayaan berlapis. Dalam model ini, mitra yayasan berperan sebagai pelindung risiko pada tahap awal investasi.
Patrick menjelaskan bahwa pendekatan tersebut membantu menjaga stabilitas risiko investasi sekaligus membuka peluang bagi lebih banyak investor untuk terlibat dalam proyek-proyek ESG.
Investor yang dapat berpartisipasi dalam skema ini tidak hanya berasal dari kalangan institusi, tetapi juga investor ritel yang ingin terlibat dalam investasi berdampak melalui platform Danamart.
Selain itu, Patrick menerangkan bahwa seluruh penerbitan efek dalam program tersebut dikelola melalui infrastruktur resmi pasar modal Indonesia. Proses ini dilakukan melalui Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) guna memastikan transparansi, tata kelola yang baik, serta perlindungan bagi investor.
Meskipun tren blended finance di tingkat global terus berkembang, Patrick menilai bahwa implementasinya di Indonesia masih berada pada tahap awal. Oleh karena itu, Danamart berupaya mendorong partisipasi yang lebih luas dalam pembiayaan sektor-sektor yang sejalan dengan SDGs.
Ke depan, perusahaan juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas implementasi blended finance di Indonesia. Kerja sama tersebut mencakup lembaga pembangunan internasional, institusi filantropi, hingga investor yang berfokus pada investasi berdampak.
“Kami akan memperluas kolaborasi dengan mitra global untuk meningkatkan skala pembiayaan dan dampak,” ucap Patrick.
Sementara itu, Yayasan Global CEO Indonesia yang berperan sebagai donor atau penjamin dalam skema blended finance Danamart turut memberikan pandangannya terhadap inisiatif tersebut.
Ketua Umum Yayasan Global CEO Indonesia Trisya Suherman menyampaikan bahwa pihaknya ingin menurunkan risiko investasi melalui inisiatif tersebut sekaligus membuka partisipasi yang lebih luas dalam pembiayaan berdampak.
Peluncuran blended finance oleh Danamart diharapkan dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat ekosistem investasi berkelanjutan di Indonesia sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi berbagai sektor yang memiliki dampak sosial dan lingkungan.