Resmi! Pabrik Melamin Pertama RI Dibangun di KEK Gresik

Kamis, 09 April 2026 | 14:20:16 WIB
Resmi! Pabrik Melamin Pertama RI Dibangun di KEK Gresik

JAKARTA - Langkah percepatan hilirisasi industri nasional kembali menunjukkan progres konkret dengan dimulainya pembangunan fasilitas produksi baru di sektor petrokimia.

Proyek ini bukan sekadar ekspansi industri, tetapi juga menjadi simbol transformasi struktur ekonomi Indonesia menuju penguatan nilai tambah di dalam negeri. 

Pemerintah melalui berbagai kebijakan strategis terus mendorong hadirnya investasi berskala besar yang mampu memperkuat daya saing industri nasional, salah satunya melalui pengembangan kawasan industri terintegrasi.

Dalam konteks tersebut, pembangunan pabrik melamin pertama di Indonesia yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik menjadi tonggak penting. 

Proyek yang dikembangkan oleh PT GEABH Joint Technology ini menyedot investasi sekitar US$600 juta atau setara Rp10,2 triliun, sekaligus mempertegas arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor manufaktur berbasis hilirisasi.

Peran Strategis KEK Dalam Mendorong Hilirisasi Industri

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Dewan Nasional KEK, Airlangga Hartarto, menilai proyek ini sebagai bagian penting dalam pengembangan kawasan industri nasional. 

Menurutnya, keberadaan pabrik melamin tersebut akan memperkuat ekosistem industri sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

“Hal ini mencerminkan komitmen kuat kita dalam mempercepat hilirisasi industri dan menciptakan industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

KEK Gresik sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan prioritas nasional. Kawasan ini memiliki peran strategis dalam mendorong industrialisasi, meningkatkan ekspor, serta menciptakan pemerataan pembangunan antarwilayah. 

Dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan kebijakan insentif, KEK menjadi magnet bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Pengembangan proyek ini juga sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan hilirisasi industri sebagai prioritas utama. Dengan demikian, pembangunan pabrik melamin ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi besar transformasi ekonomi nasional.

Integrasi Produksi Dari Hulu Hingga Hilir

Salah satu keunggulan utama dari proyek ini adalah konsep integrasi yang diterapkan dalam proses produksinya. Fasilitas yang dibangun tidak hanya memproduksi melamin sebagai produk akhir, tetapi juga mencakup seluruh rantai produksi dari hulu hingga hilir.

Proses dimulai dari pengolahan gas alam menjadi amonia, yang kemudian diolah lebih lanjut menjadi urea, hingga akhirnya menghasilkan melamin. Pendekatan ini memungkinkan efisiensi produksi yang lebih tinggi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Pada tahap awal pembangunan, kapasitas produksi yang direncanakan meliputi 800 ton per hari (TPD) amonia, 1.500 TPD urea, serta 200 TPD melamin. 

Tahapan selanjutnya akan difokuskan pada penguatan infrastruktur pendukung serta optimalisasi rantai produksi agar dapat beroperasi secara maksimal.

Pabrik ini ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada kuartal II 2027. Dengan kapasitas hingga 120.000 ton per tahun, fasilitas ini digadang-gadang menjadi yang pertama sekaligus terbesar di Indonesia dalam industri melamin.

Dampak Ekonomi Dan Penyerapan Tenaga Kerja

Kehadiran proyek ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian, baik di tingkat regional maupun nasional. 

KEK Gresik telah menunjukkan kinerja yang positif dalam beberapa tahun terakhir, dengan kontribusi besar terhadap investasi dan penyerapan tenaga kerja.

Hingga 2025, realisasi investasi kumulatif KEK nasional mencapai Rp336 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 249.000 orang. Dari jumlah tersebut, KEK Gresik menyumbang sekitar Rp105,4 triliun atau 31% dari total investasi nasional di kawasan ekonomi khusus, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 46.000 orang.

Selain itu, perkembangan kawasan industri di Gresik juga berdampak pada penurunan tingkat pengangguran. Dalam lima tahun terakhir, angka pengangguran di Kabupaten Gresik berhasil ditekan dari 8% menjadi 5,47%. 

Hal ini menunjukkan bahwa investasi industri memiliki efek langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Di tingkat regional, sektor manufaktur memberikan kontribusi sebesar 31,32% terhadap perekonomian Jawa Timur. Angka ini menegaskan bahwa industri pengolahan masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Kontribusi Sektor Manufaktur Terhadap Pertumbuhan Nasional

Airlangga menegaskan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2025, sektor ini berkontribusi sebesar 19,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Pada tahun 2025, sektor manufaktur berkontribusi sebesar 19,07% terhadap PDB Indonesia dan menjadi penggerak utama pertumbuhan di berbagai kawasan industri,” tutur Airlangga.

Dengan adanya proyek pabrik melamin ini, kontribusi sektor manufaktur diharapkan semakin meningkat. Selain memperkuat struktur industri dalam negeri, proyek ini juga membuka peluang ekspor produk bernilai tambah tinggi ke pasar internasional.

Lebih jauh, pengembangan industri berbasis hilirisasi seperti ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah. Dengan mengolah sumber daya alam menjadi produk jadi, Indonesia dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan investor akan menjadi kunci keberhasilan dalam mendorong pertumbuhan sektor manufaktur. 

Dengan strategi yang tepat dan dukungan kebijakan yang konsisten, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat industri berbasis hilirisasi di kawasan.

Terkini