Target Laba Arwana Citramulia Naik 20 % Didukung Produksi dan ASP

Kamis, 09 April 2026 | 14:20:08 WIB
Target Laba Arwana Citramulia Naik 20 % Didukung Produksi dan ASP

JAKARTA - Pergerakan industri keramik nasional pada 2026 menunjukkan dinamika yang semakin kompetitif, terutama di tengah upaya efisiensi dan peningkatan kapasitas produksi.

Dalam lanskap tersebut, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) menyiapkan strategi terukur untuk menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat posisinya di pasar domestik.

Perusahaan menargetkan peningkatan kinerja yang cukup agresif, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. Fokus utama diarahkan pada optimalisasi produksi, penyesuaian portofolio produk, serta peluang kenaikan harga jual rata-rata yang dinilai masih terbuka di tengah permintaan pasar yang stabil.

Direktur Keuangan Arwana Citramulia Rudy Sujanto menjelaskan target tersebut didukung peningkatan produksi sebesar 10% (yoy), dari 66,9 juta meter persegi tahun lalu menjadi 73,8 juta meter persegi tahun ini.

“Dengan demikian, penjualan juga akan meningkat karena output-nya meningkat. Sales-nya kami targetkan meningkat 7% (yoy). Tahun lalu sekitar 70 juta m2, tahun ini kami targetkan 72,8 juta m2,” ujar Rudy.

Optimalisasi Produksi Jadi Kunci Pertumbuhan

Peningkatan produksi menjadi salah satu faktor utama dalam mendukung target kinerja perseroan. Hal ini didorong oleh mulai beroperasinya Plant 4D dengan kapasitas 5,5 juta meter persegi, serta optimalisasi seluruh lini produksi yang ada.

Sebelumnya, perusahaan hanya mengoperasikan 20 lini dari total 22 lini produksi. Dua lini lainnya sempat dihentikan sementara karena memproduksi keramik dinding yang memiliki tingkat penyerapan pasar lebih rendah.

Penghentian tersebut dilakukan karena tingkat penyerapan pasar (selling out ratio) keramik dinding hanya sekitar 70%, yang berpotensi menimbulkan penumpukan stok.

Sebagai langkah strategis, ARNA melakukan perombakan mesin pada lini tersebut dengan mengganti sistem double firing menjadi mesin baru dengan kiln dan bracing line untuk memproduksi keramik lantai yang memiliki permintaan lebih tinggi.

Dengan perubahan tersebut, seluruh lini di Plant 2 kembali beroperasi penuh pada tahun ini. Selain itu, langkah serupa juga dilakukan di Plant 5, di mana satu lini produksi keramik dinding yang sempat dihentikan kini tengah dimodifikasi.

Rudy menyebutkan, satu lini di Plant 5 ditargetkan mulai beroperasi kembali pada Juli atau paling lambat Agustus 2026. Dengan demikian, terdapat tambahan dua lini produksi aktif tahun ini, ditambah kontribusi dari Plant 4D.

Strategi Stok dan Penyesuaian Operasional

Di tengah peningkatan produksi, perusahaan tetap berhati-hati dalam mengelola persediaan. ARNA tidak menargetkan rasio penjualan terhadap produksi mencapai 100%, mengingat kondisi stok saat ini yang tergolong sangat terbatas, khususnya untuk produk keramik lantai.

Bahkan, tingkat perputaran stok untuk produk tertentu berada di bawah tiga hari. Kondisi ini dinilai kurang ideal untuk menjaga stabilitas operasional.

Oleh karena itu, perusahaan berencana meningkatkan persediaan menjadi sekitar lima hingga enam hari guna menciptakan kondisi operasional yang lebih sehat. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kelancaran distribusi sekaligus mengantisipasi lonjakan permintaan secara tiba-tiba.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa ARNA tidak hanya fokus pada pertumbuhan volume, tetapi juga menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan ketersediaan barang di pasar.

Kenaikan Harga Jual Dorong Margin

Dari sisi harga, Arwana Citramulia optimistis rata-rata harga jual (average selling price/ASP) akan naik 9% (yoy) pada 2026. Kenaikan ASP didorong oleh kontribusi produk baru, termasuk keramik porselen dari Plant 4D yang memiliki harga jual lebih tinggi.

Selain itu, Plant 2A kini memproduksi keramik ukuran 60x60 cm untuk segmen menengah, sementara Plant 2C yang sebelumnya tidak beroperasi kini menghasilkan keramik ukuran 50x50 cm rectify dengan nilai jual lebih tinggi.

“Jadi tahun ini kami confident bahwa ASP akan bertumbuh 9%,” kata Rudy.

Namun demikian, dari sisi margin, pertumbuhan diperkirakan masih terbatas. Hal ini seiring dengan kenaikan biaya produksi, terutama harga gas yang menjadi komponen utama dalam industri keramik.

Margin laba bersih tahun ini diperkirakan berada di kisaran 14,1–14,2%, sedikit meningkat dari sekitar 13,7% pada 2024.

“Kami tidak bisa bermimpi mengandai-andai bahwa semester kedua nanti AGIT akan lebih baik daripada semester pertama. Kami akan patok bahwa kuartal kedua gasnya hampir sama dengan Maret 2026 sebagai posisi AGIT terendah. Nanti kalau memang AGIT membaik, ya itu insentif,” jelasnya.

Peluang Pasar Masih Terbuka Lebar

Dari sisi permintaan, pasar keramik domestik masih menunjukkan potensi yang cukup kuat, terutama untuk produk keramik bodi merah yang tetap diminati konsumen.

Kondisi ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan penyesuaian harga secara selektif guna mengoptimalkan kinerja keuangan.

Meski demikian, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menentukan strategi harga agar tetap kompetitif di pasar.

“Salah satu cara optimasi laba, pastinya bila market memungkinkan, kami akan sesuaikan harga jual,” pungkas Rudy.

Dengan kombinasi strategi produksi, efisiensi operasional, serta peluang kenaikan harga jual, Arwana Citramulia optimistis mampu mencapai target pertumbuhan yang telah ditetapkan pada 2026. 

Di tengah tantangan biaya produksi dan dinamika pasar, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan keberlanjutan kinerja keuangan.

Terkini