JAKARTA - Hubungan Indonesia dan Korea Selatan kembali memasuki babak baru. Di tengah dinamika kawasan dan tantangan global yang semakin kompleks, kedua negara sepakat memperkuat arah kerja sama bilateral melalui peningkatan status kemitraan.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa Jakarta dan Seoul tidak hanya ingin menjaga hubungan baik yang telah terjalin selama puluhan tahun, tetapi juga ingin mendorong kolaborasi yang lebih konkret, luas, dan berorientasi masa depan.
Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan resmi mengumumkan penguatan Kemitraan Strategis Khusus menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus. Peningkatan status ini ditujukan untuk mewujudkan pertumbuhan yang inklusif serta kemakmuran bersama bagi kedua negara di masa mendatang.
Kesepakatan tersebut menegaskan bahwa hubungan bilateral Indonesia-Korsel kini diarahkan pada kerja sama yang lebih substantif di berbagai sektor strategis.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung dalam pernyataan bersama Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Republik Korea Selatan Lee Jae Myung.
Dengan fondasi hubungan diplomatik yang telah terjalin sejak 1973, kedua negara kini menempatkan kemitraan mereka pada level yang lebih tinggi, dengan cakupan yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga politik, keamanan, budaya, teknologi, hingga kerja sama regional dan global.
Hubungan Indonesia-Korsel Naik Level Jadi Kemitraan Komprehensif
Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan mengumumkan penguatan Kemitraan Strategis Khusus menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus untuk mewujudkan pertumbuhan yang inklusif dan kemakmuran bersama kedua negara di masa depan.
"Kedua pemimpin mengumumkan peningkatan Kemitraan Strategis Khusus menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus untuk pertumbuhan inklusif dan kemakmuran bersama di masa depan," menurut pernyataan bersama Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Republik Korea Selatan Lee Jae Myung.
Pernyataan bersama kedua pemimpin negara itu disampaikan di portal Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI pada Rabu (8/4), setelah kunjungan kenegaraan Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada 31 Maret hingga 1 April lalu atas undangan Presiden Lee Jae Myung.
Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, Prabowo dan Jae Myung mengumumkan peningkatan Kemitraan Strategis Khusus menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus serta memuji perluasan hubungan bilateral kedua negara di berbagai bidang, termasuk diplomasi dan keamanan, ekonomi, budaya, pertukaran antar masyarakat, serta isu regional dan internasional, sejak terjalinnya hubungan diplomatik pada 1973.
Kedua pemimpin negara itu juga mencatat bahwa kemitraan antara Korsel dan Indonesia telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran regional dan global.
Penegasan ini menunjukkan bahwa hubungan bilateral kedua negara tidak hanya penting bagi kepentingan nasional masing-masing, tetapi juga memiliki arti strategis bagi kawasan yang lebih luas.
Fokus Kerja Sama Lebih Konkret dan Berorientasi Masa Depan
Prabowo dan Lee Jae Myung menegaskan bahwa Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus akan lebih menekankan pada kerja sama konkret dan berorientasi ke masa depan. Cakupan kerja sama tersebut meliputi bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama, baik yang sudah ada maupun yang baru, demi kepentingan kedua negara serta kawasan lebih luas.
Terkait hal itu, keduanya pun bertekad untuk bekerja sama secara erat pada lima pilar kerja sama yang dicapai guna memajukan visi bersama mereka untuk mewujudkan kemitraan lebih kuat, menguntungkan, dan inovatif; sehingga meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di kedua negara.
Kelima pilar kerja sama tersebut antara lain kerja sama politik dan keamanan; kerja sama perdagangan, investasi, dan industri; kerja sama teknologi canggih, transisi energi, dan ekonomi hijau; kerja sama sosial budaya dan pertukaran antar masyarakat; serta kerja sama regional dan global.
Di bidang kerja sama politik dan keamanan, Prabowo dan Jae Myung berjanji untuk lebih meningkatkan pertukaran tingkat tinggi antara kedua negara, mendukung kunjungan pertukaran antar-parlemen, serta memperluas komunikasi dan pertukaran di semua tingkatan dan sektor pemerintahan kedua negara guna memperdalam pemahaman dan kepercayaan bersama.
Langkah ini menunjukkan bahwa fondasi diplomatik dan kepercayaan politik tetap menjadi elemen penting dalam menjaga kesinambungan hubungan Indonesia dan Korea Selatan. Dengan komunikasi yang lebih intensif di berbagai level, kedua negara berharap bisa membangun koordinasi yang lebih erat dalam menghadapi isu bilateral maupun tantangan strategis yang lebih luas.
Ekonomi, Industri, dan Teknologi Jadi Mesin Penggerak Kemitraan
Pada pilar kerja sama perdagangan, investasi dan industri, kedua pemimpin negara itu mengakui bahwa kerja sama ekonomi telah menjadi kekuatan pendorong di balik hubungan yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Korea Selatan.
Mereka pun berjanji untuk lebih memperkuat kerja sama guna mempromosikan kerja sama ekonomi sektor swasta di kedua negara.
Prabowo dan Jae Myung juga berkomitmen mendorong peningkatan investasi dua arah, termasuk investasi berkualitas yang mendukung penciptaan nilai dan berbagi pengetahuan agar saling menguntungkan.
Selain itu, mereka juga berkomitmen memperluas volume perdagangan bilateral sembari menekankan pentingnya menciptakan lingkungan bisnis yang stabil, menguntungkan, dan dapat diprediksi bagi perusahaan.
Kedua pemimpin itu menyatakan komitmen mereka untuk meningkatkan kerja sama di sektor-sektor ekonomi strategis yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan jangka panjang, termasuk manufaktur canggih, otomotif, baja, mesin, semikonduktor, mineral penting dan unsur tanah jarang, pembuatan kapal, dan industri maritim.
Di bidang kerja kama teknologi canggih, transisi energi, dan ekonomi hijau, mereka mengakui bahwa kecerdasan buatan (AI) adalah hak universal yang dimiliki oleh semua orang dan bukan hak istimewa kelompok tertentu.
Dalam pertemuan Prabowo dan Lee Jae Myung, mereka juga mengumumkan "Global AI Universal Basic Society (AI-UBS) Solidarity Initiative", yang dirancang sebagai kerangka kerja di mana hak-hak fundamental setiap individu diwujudkan secara aktif.
Dengan mengintegrasikan ekosistem AI di Indonesia dan Korea Selatan, kedua presiden itu berupaya mengatasi tantangan global di bidang kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, pemerintahan, dan sektor strategis lainnya.
Inisiatif ini memperlihatkan bahwa kerja sama teknologi kedua negara tidak hanya berfokus pada inovasi, tetapi juga pada pemanfaatan teknologi untuk kepentingan publik yang lebih luas.
Pertukaran Budaya dan Peran Regional Kian Diperkuat
Pada pilar kerja sama sosial budaya dan pertukaran antar masyarakat, kedua pemimpin menggarisbawahi pentingnya pertukaran budaya untuk meningkatkan saling pengertian dan persahabatan antara kedua bangsa.
Mereka menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat kerja sama di bidang budaya dan industri kreatif, termasuk pembentukan dan pengoperasian Komite Kerja Sama Industri Kreatif Tingkat Tinggi antara Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata (MCST) Republik Korea dengan Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
Kedua pemimpin juga menegaskan kembali komitmen untuk lebih memperkuat kerja sama di bidang pendidikan untuk membina talenta global yang akan memimpin masyarakat di masa depan.
Penguatan kerja sama budaya dan pendidikan ini menunjukkan bahwa hubungan bilateral tidak hanya dibangun melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui interaksi antar masyarakat yang lebih erat dan berkelanjutan.
Pada pilar kerja sama regional dan global, Prabowo mengapresiasi dukungan teguh Korsel terhadap Sentralitas ASEAN, Visi Komunitas ASEAN 2045 dan Rencana Strategisnya, serta pandangan ASEAN terhadap Indo-Pasifik (AOIP). Dia juga menyambut baik niat Korsel untuk menjadi tuan rumah KTT Peringatan ASEAN-Korea Selatan pada 2029.
Prabowo dan Lee Jae Myung sepakat untuk bekerja sama secara erat untuk memperkuat kerja sama ASEAN-Korea Selatan yang bermakna, substantif, dan saling menguntungkan, serta memperkuat kerja sama regional untuk mengatasi kejahatan transnasional yang menjadi perhatian bersama.
Dengan peningkatan status kemitraan ini, Indonesia dan Korea Selatan menegaskan komitmen untuk membangun hubungan yang lebih kuat, inovatif, dan saling menguntungkan.
Tidak hanya menjadi simbol diplomatik, Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus juga menjadi pijakan baru bagi kedua negara untuk memperluas manfaat kerja sama bagi rakyat, kawasan, dan tatanan global yang lebih stabil.