BPOM Terapkan Nutri-Level, Konsumsi GGL Berlebih Kini Bisa Dikontrol Efektif

Selasa, 07 April 2026 | 15:32:56 WIB
BPOM Terapkan Nutri-Level, Konsumsi GGL Berlebih Kini Bisa Dikontrol Efektif

JAKARTA - BPOM menghadirkan inovasi kebijakan pelabelan gizi untuk mendukung konsumsi pangan sehat masyarakat. 

Sistem Nutri-Level diperkenalkan untuk memberikan panduan sederhana dalam memilih produk olahan. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan risiko penyakit tidak menular yang meningkat di Indonesia.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa Nutri-Level membantu masyarakat mengenali kandungan gula, garam, dan lemak (GGL). Rancangan revisi peraturan mencantumkan Nutri-Level di bagian depan kemasan pangan olahan. Setiap label menunjukkan level kandungan GGL dengan huruf dan warna yang mudah dipahami.

Sistem penanda menggunakan indikator A sampai D disertai warna tertentu. Level A berwarna hijau tua menunjukkan GGL rendah, B hijau muda artinya rendah, C kuning berarti perlu bijak, dan D merah menandakan perlu dibatasi. Indikator ini memudahkan konsumen membandingkan produk dengan cepat.

Panduan Konsumsi Sehat untuk Masyarakat

Nutri-Level bukan larangan untuk mengonsumsi produk tertentu, tetapi panduan untuk konsumsi bijak. Dengan informasi ini, masyarakat bisa membuat keputusan lebih sehat setiap hari. Hal ini diharapkan mempermudah perubahan pola konsumsi yang lebih aman bagi kesehatan.

Label ini akan memudahkan orang membandingkan produk sejenis dalam hal kandungan GGL. Dengan sistem yang transparan, konsumen dapat lebih percaya diri memilih produk yang sesuai kebutuhan. Pendekatan sederhana ini menargetkan semua kelompok umur agar lebih sadar gizi.

BPOM memastikan bahwa pelabelan ini bersifat edukatif, bukan mengintimidasi masyarakat. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman konsumen terhadap informasi nilai gizi. Penerapan Nutri-Level secara bertahap akan membentuk kebiasaan konsumsi yang lebih sehat.

Peluang Bisnis bagi Pelaku Usaha

Taruna menekankan, Nutri-Level juga membuka peluang bagi pelaku usaha. Kebijakan ini memungkinkan produsen menjadi pionir dalam tren pangan olahan sehat. Pelaku usaha dapat menyesuaikan produk agar lebih ramah gizi dan tetap menarik bagi pasar.

Kebijakan ini mendorong inovasi tanpa membatasi produksi dan distribusi pangan olahan. Produsen yang lebih proaktif dapat meraih keuntungan sekaligus membangun citra positif. Penekanan pada tren sehat diharapkan memperluas pangsa pasar dan meningkatkan daya saing produk.

Nutri-Level juga menjadi alat promosi yang edukatif bagi produsen. Konsumen yang peduli kesehatan akan lebih tertarik pada produk berlabel A atau B. Dengan begitu, strategi bisnis sehat sejalan dengan tujuan pemerintah untuk menurunkan penyakit tidak menular.

Proses Penyusunan dan Konsultasi Publik

BPOM menekankan proses penyusunan revisi peraturan mengikuti praktik regulasi baik (GRP). Revisi ini melibatkan konsultasi publik dengan berbagai pemangku kepentingan. Termasuk kementerian/lembaga, organisasi profesi, asosiasi pelaku usaha, dan masyarakat luas.

Tahapan ini memastikan kebijakan bersifat transparan, proporsional, dan dapat diterima semua pihak. Masukan dari publik menjadi bagian penting dalam penyempurnaan peraturan. Dengan demikian, implementasi kebijakan di lapangan lebih realistis dan bermanfaat.

Proses harmonisasi juga diperlukan untuk menyelaraskan substansi dengan regulasi yang berlaku. Hal ini bertujuan agar Nutri-Level dapat diterapkan tanpa tumpang tindih dengan aturan lain. Penyelarasan ini memudahkan pelaku usaha menyesuaikan operasional mereka.

BPOM berkomitmen mendengar masukan pelaku usaha sepanjang masa transisi. Evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan efektivitas kebijakan. Pelaku usaha dipandang sebagai mitra strategis dalam mewujudkan lingkungan pangan lebih sehat.

Implementasi Bertahap dan Fokus Minuman

Pelaksanaan Nutri-Level akan dilakukan secara bertahap agar pelaku usaha memiliki waktu adaptasi. Tahap awal difokuskan pada produk minuman untuk memudahkan pengawasan. Strategi ini diharapkan menjadi model untuk penerapan di kategori pangan olahan lainnya.

Pendekatan bertahap memungkinkan penyesuaian produksi dan distribusi secara optimal. Produsen bisa memodifikasi formula produk untuk memenuhi standar gizi yang ditetapkan. Selain itu, konsumen juga memiliki waktu untuk mengenali dan memahami sistem label baru.

Kebijakan awal yang sukarela memberi fleksibilitas bagi semua pihak. Setelah masa transisi, penerapan wajib akan memperluas cakupan Nutri-Level. Dengan cara ini, pelabelan gizi dapat diterapkan lebih konsisten dan efektif di seluruh Indonesia.

Manfaat Kesehatan dan Evaluasi Kebijakan

Nutri-Level dirancang untuk mendorong pola makan lebih sehat dan menurunkan risiko PTM. Label ini diharapkan membuat masyarakat lebih sadar terhadap kandungan GGL. Kebijakan ini memberikan dampak langsung pada kesadaran gizi dan pola konsumsi.

BPOM akan terus mengevaluasi pelaksanaan Nutri-Level agar tetap relevan dan bermanfaat. Evaluasi ini termasuk melihat tanggapan masyarakat dan pelaku usaha terhadap implementasi. Dengan demikian, perbaikan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Taruna menegaskan bahwa kebijakan ini menciptakan sinergi antara kesehatan publik dan peluang bisnis. Pelaku usaha yang mengikuti tren sehat akan memperkuat posisi di pasar. Sementara masyarakat mendapatkan panduan yang jelas untuk konsumsi pangan yang lebih aman dan bijak.

Terkini