JAKARTA - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai menunjukkan respons positif dari peserta didik di berbagai daerah.
Di Surabaya, Jawa Timur, hari kedua pelaksanaan asesmen ini mendapat perhatian langsung dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang turun meninjau proses ujian.
Dari hasil pemantauan tersebut, pemerintah menilai pelaksanaan TKA berjalan lancar, baik dari sisi kesiapan teknis maupun antusiasme siswa yang mengikuti.
Kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa TKA tidak hanya diterima sebagai instrumen evaluasi, tetapi juga mulai dipandang sebagai bagian penting dalam penguatan mutu pendidikan nasional.
Peninjauan yang dilakukan di SMPN 1 Surabaya memperlihatkan bahwa suasana ujian berlangsung tertib dan kondusif. Menteri Abdul Mu’ti menyebut para siswa tampak bersemangat saat mengikuti ujian, bahkan sebagian besar memberikan respons positif terhadap tingkat kesulitan soal.
Bagi pemerintah, respons tersebut bukan sekadar gambaran teknis pelaksanaan, tetapi juga menjadi indikasi bahwa TKA mampu membangun kepercayaan diri siswa.
Ketika peserta merasa soal dapat dikerjakan dengan baik, hal itu diyakini bisa mendorong motivasi belajar sekaligus membentuk persepsi bahwa evaluasi akademik bukan sesuatu yang menakutkan.
Lebih jauh, TKA kini diposisikan sebagai instrumen yang lebih luas daripada sekadar mengukur kemampuan Matematika dan Bahasa Indonesia. Pemerintah menegaskan bahwa asesmen ini juga mencakup literasi, numerasi, karakter, dan lingkungan belajar.
Dengan pendekatan tersebut, hasil TKA diharapkan tidak hanya menjadi data akademik semata, tetapi juga menjadi dasar evaluasi kebijakan pendidikan baik di tingkat nasional maupun daerah.
Hal ini penting karena kebijakan yang disusun dari hasil asesmen yang terukur akan memberi gambaran lebih utuh tentang kondisi riil pembelajaran di sekolah.
Di sisi lain, TKA juga mulai terintegrasi ke dalam sistem pendidikan nasional. Selain menjadi bagian dari evaluasi mutu, hasil TKA kini mulai diperhitungkan dalam jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), bahkan untuk jenjang SMA telah digunakan sebagai salah satu komponen dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Dengan perkembangan ini, TKA dipandang tidak hanya sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menghadirkan sistem pendidikan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan memberi ruang bagi capaian akademik siswa yang lebih objektif.
Pelaksanaan TKA Hari Kedua Di Surabaya Dinilai Lancar
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) hari kedua di Surabaya, Jawa Timur, Selasa, berjalan lancar.
Penilaian tersebut disampaikan usai Mendikdasmen meninjau langsung pelaksanaan TKA di SMPN 1 Surabaya. Kunjungan ini menjadi bagian dari pemantauan pemerintah terhadap pelaksanaan asesmen yang kini mulai dijalankan di berbagai daerah sebagai bagian dari penguatan sistem evaluasi pendidikan.
“Saya sempat berdialog dengan para siswa, dan mereka terlihat sangat semangat. Bahkan ketika saya tanyakan mengenai soal, mereka menyampaikan bahwa soalnya relatif mudah,” ujar Mendikdasmen.
Respons para siswa tersebut dinilai cukup penting karena mencerminkan bahwa pelaksanaan TKA tidak menimbulkan tekanan berlebihan bagi peserta. Sebaliknya, suasana yang terbentuk justru menunjukkan adanya penerimaan yang baik dari siswa terhadap model evaluasi ini.
Ia menilai respons positif peserta menjadi indikasi bahwa TKA tidak semata berfungsi sebagai alat ukur akademik, tetapi juga mampu memantik semangat belajar siswa.
"Mereka berharap TKA terus dilaksanakan karena dirasakan memberikan manfaat, baik dalam meningkatkan kemampuan akademik maupun sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi," katanya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa TKA mulai dipandang bukan hanya sebagai kewajiban evaluasi, tetapi juga sebagai instrumen yang memberi nilai tambah bagi siswa.
Harapan peserta agar asesmen ini terus dilaksanakan menjadi sinyal bahwa TKA diterima sebagai bagian dari proses pembelajaran yang dianggap bermanfaat.
Kesiapan Sarana Dan Aspek Teknis Dipastikan Optimal
Peninjauan juga mencakup kesiapan sarana dan prasarana, mulai dari ruang ujian hingga laboratorium komputer, yang dipastikan berjalan optimal.
Aspek teknis menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan TKA, terutama karena kelancaran ujian sangat bergantung pada kesiapan fasilitas yang digunakan sekolah. Karena itu, pemantauan terhadap ruang ujian, komputer, dan dukungan teknis lainnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari evaluasi lapangan.
"Penataan ruang, kesiapan komputer, hingga aspek teknis lainnya telah dipersiapkan dengan baik. Saya meyakini TKA menjadi bagian penting dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” tegasnya.
Baca juga: Antisipasi keterbatasan TIK di 3T, Kemendikdasmen siapkan TKA offline
Secara konseptual, TKA tidak hanya mengukur capaian akademik Matematika dan Bahasa Indonesia, tetapi juga mencakup literasi, numerasi, karakter, serta lingkungan belajar.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa TKA dirancang dengan cakupan yang lebih luas dibandingkan ujian akademik konvensional. Pemerintah ingin memastikan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari kemampuan menjawab soal mata pelajaran inti, tetapi juga dari pembentukan karakter dan suasana belajar yang mendukung perkembangan siswa.
Hasil pelaksanaan TKA akan menjadi dasar evaluasi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan di tingkat nasional maupun daerah.
Hasil TKA Jadi Dasar Evaluasi Dan Kebijakan Pendidikan
“Untuk jenjang SMP, soal disusun oleh pemerintah pusat dan provinsi sehingga memungkinkan pengukuran kemampuan siswa di tingkat provinsi, khususnya Jawa Timur. Sementara untuk SD, soal disusun pemerintah kabupaten/kota agar capaian dapat terukur di tingkat daerah,” ujarnya.
Skema penyusunan soal ini menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menyesuaikan model pengukuran dengan kebutuhan masing-masing jenjang. Untuk SMP, pengukuran diarahkan agar bisa memotret capaian di level provinsi, sementara untuk SD penekanannya lebih dekat pada konteks daerah masing-masing.
Secara nasional, pelaksanaan TKA disebut berjalan lancar dan diharapkan menjadi pijakan awal untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri siswa.
Mendikdasmen juga menekankan pentingnya kejujuran sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.
“TKA diharapkan tidak hanya menjadi alat ukur akademik, tetapi juga sarana menanamkan nilai dan membentuk kepribadian siswa,” tuturnya.
Penekanan terhadap kejujuran memperlihatkan bahwa pemerintah tidak ingin TKA dipahami secara sempit sebagai tes nilai semata. Asesmen ini juga diharapkan menjadi ruang untuk membangun integritas siswa, sehingga proses evaluasi turut berkontribusi terhadap pembentukan karakter.
Terkait evaluasi, pemerintah akan melakukan penilaian menyeluruh setelah seluruh rangkaian TKA selesai di semua jenjang pendidikan.
TKA Mulai Terintegrasi Dalam Sistem Pendidikan Nasional
Untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), evaluasi awal menunjukkan hasil yang baik, bahkan TKA telah menjadi salah satu komponen dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Lebih lanjut, TKA kini mulai terintegrasi dalam sistem pendidikan nasional, termasuk dalam seleksi jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
“Jika sebelumnya penilaian akademik hanya berdasarkan rapor, kini ditambah dengan nilai TKA sebagai bagian dari upaya menghadirkan sistem yang lebih inklusif dan berkeadilan,” ujarnya.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa TKA tidak lagi berdiri sendiri sebagai asesmen terpisah, melainkan mulai menjadi bagian dari mekanisme seleksi dan penilaian yang lebih luas. Dengan tambahan nilai TKA, pemerintah ingin memperkaya dasar penilaian agar tidak hanya bergantung pada rapor.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Febrina Kusumawati memastikan pelaksanaan TKA di Kota Pahlawan berlangsung lancar sejak hari pertama.
“Beliau hadir sejak pagi dan berdialog langsung dengan siswa. Terlihat mereka senang dan antusias, bahkan seperti merindukan suasana evaluasi seperti dahulu. Yang menarik, siswa mengikuti TKA tanpa merasa terpaksa,” kata Febri.
Baca juga: Hari pertama TKA SMP, Kemendikdasmen: Sejarah baru integrasi asesmen
Meski demikian, sejumlah masukan tetap muncul, terutama terkait durasi waktu pengerjaan soal yang menjadi bahan refleksi penting.
Febri menambahkan bahwa Menteri Abdul Mu'ti menilai kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi terhadap fokus dan manajemen waktu siswa.
“TKA tidak menentukan kelulusan. Kelulusan tetap menjadi kewenangan sekolah melalui proses pembelajaran. Namun, nilai TKA akan menjadi nilai tambah, khususnya pada jalur prestasi SPMB,” tegasnya.
Kepala SMP Negeri 19 Surabaya Eko Widayani menyebut pelaksanaan perdana TKA disambut positif oleh siswa dengan suasana ujian yang kondusif.
“Siswa menyambut dengan sangat baik. Kami berupaya menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Harapannya, ini menjadi langkah awal memperkuat mutu pendidikan Indonesia,” katanya.