JAKARTA - Industri perbankan digital di Indonesia terus menunjukkan dinamika yang menarik, terutama dalam hal penyaluran kredit di awal tahun 2026.
Di tengah kondisi industri perbankan yang cenderung melambat, justru bank-bank digital mampu mencatatkan pertumbuhan yang lebih agresif. Fenomena ini menandakan bahwa transformasi digital di sektor keuangan tidak hanya berdampak pada layanan, tetapi juga pada ekspansi bisnis yang semakin luas.
Perubahan perilaku masyarakat yang semakin akrab dengan layanan keuangan berbasis digital turut mendorong pertumbuhan ini. Akses yang lebih mudah, proses yang cepat, serta inovasi produk menjadi kunci utama bank digital dalam menarik minat nasabah.
Di sisi lain, kondisi ekonomi yang penuh tantangan membuat strategi penyaluran kredit menjadi semakin penting untuk dijaga keseimbangannya antara ekspansi dan risiko.
Berikut ini ulasan lengkap mengenai pertumbuhan kredit bank digital per Februari 2026 serta siapa saja yang mencatatkan kinerja paling menonjol.
Performa industri perbankan di awal tahun
Bank Indonesia mencatat bahwa kredit industri perbankan secara keseluruhan tumbuh sebesar 9,37% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Februari 2026.
Angka ini sedikit melandai dibandingkan pertumbuhan Januari 2026 yang mencapai 9,96% YoY. Perlambatan ini mencerminkan kondisi industri yang masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi global maupun domestik.
Meski demikian, perlambatan di level industri tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi semua pemain. Bank digital justru tampil lebih agresif dengan pertumbuhan kredit yang jauh melampaui rata-rata industri. Hal ini menunjukkan bahwa model bisnis digital memiliki fleksibilitas dan efisiensi yang mampu mendorong ekspansi lebih cepat.
Selain itu, dukungan teknologi memungkinkan bank digital menjangkau segmen pasar yang sebelumnya kurang terlayani, seperti UMKM dan nasabah ritel dengan kebutuhan kredit yang lebih spesifik. Inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan signifikan di sektor ini.
Bank digital dengan pertumbuhan kredit tertinggi
Sejumlah bank digital mencatatkan pertumbuhan kredit dua digit yang cukup impresif. Bank Jago, misalnya, membukukan pertumbuhan kredit sebesar 28,47% YoY dengan nilai mencapai Rp 25,23 triliun. Angka ini menunjukkan konsistensi bank dalam memperluas penyaluran kredit secara berkelanjutan.
Allo Bank juga tidak kalah bersaing dengan pertumbuhan kredit sebesar 20,3% YoY menjadi Rp 8,38 triliun. Sementara itu, Amar Bank mencatatkan kenaikan sebesar 31,31% YoY dengan total kredit mencapai Rp 4,05 triliun. Ketiga bank ini menunjukkan performa yang solid di tengah kondisi industri yang tidak sepenuhnya stabil.
Namun, pencapaian paling mencolok datang dari Krom Bank yang mencatatkan lonjakan pertumbuhan kredit hingga 102,18% YoY menjadi Rp 9,37 triliun. Angka ini menempatkan Krom Bank sebagai salah satu pemain dengan pertumbuhan tercepat di sektor bank digital saat ini.
Menurut Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan, capaian ini utamanya didorong oleh penyaluran channeling sebagai kontributor utama kredit bank. Strategi ini memungkinkan bank memperluas jangkauan kredit dengan menggandeng mitra, sehingga pertumbuhan bisa terjadi lebih cepat.
Strategi ekspansi dan pengelolaan risiko
Di balik pertumbuhan yang tinggi, bank digital tetap harus memperhatikan kualitas kredit. Anton menyebutkan bahwa pihaknya fokus menjaga penyaluran kredit ke segmen UMKM, konsumsi produktif, serta ritel. Segmen ini dinilai memiliki potensi besar, namun tetap membutuhkan pengelolaan risiko yang cermat.
Ketidakpastian ekonomi global serta pelemahan daya beli domestik menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, bank melakukan berbagai upaya preventif maupun kuratif untuk menjaga kualitas kredit dan mengendalikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
“Terkait penyaluran kredit, Krom Bank optimistis dapat meningkatkan penyaluran kredit secara selektif dan berkualitas, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian guna menjaga kesehatan portofolio perusahaan,” kata Anton.
Strategi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya dikejar dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. Pendekatan yang seimbang ini menjadi penting agar pertumbuhan yang tinggi tidak diikuti oleh peningkatan risiko yang berlebihan.
Bank yang mengalami tekanan dan peluang ke depan
Tidak semua bank digital mencatatkan kinerja positif. Bank Neo Commerce justru mengalami penurunan kredit sebesar 12,11% YoY menjadi Rp 7,23 triliun. Penurunan ini bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari strategi perusahaan untuk lebih fokus pada kualitas kredit.
Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono mengatakan bahwa tahun ini pihaknya memang mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Langkah ini diambil untuk memastikan portofolio tetap sehat di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
“Kami mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujar Eri.
Meski mengalami penurunan, Bank Neo Commerce tetap memiliki strategi untuk mendorong pertumbuhan ke depan. Salah satunya melalui peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) yang direncanakan hadir pada pertengahan tahun.
Produk BNPL ini diharapkan dapat menjadi mesin pertumbuhan baru, sekaligus memperluas akses pembiayaan yang lebih fleksibel bagi nasabah. Selain itu, layanan ini juga dibidik untuk meningkatkan fee based income, sehingga tidak hanya bergantung pada penyaluran kredit.
Dengan berbagai strategi yang diterapkan, prospek bank digital di tahun 2026 masih terlihat menjanjikan. Dukungan teknologi, inovasi produk, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar menjadi faktor utama yang akan menentukan keberhasilan masing-masing bank.
Ke depan, tantangan tetap ada, terutama dari sisi risiko kredit dan kondisi ekonomi global. Namun, dengan pendekatan yang tepat, bank digital berpotensi terus menjadi motor pertumbuhan baru di industri perbankan Indonesia.