Kredit Perbankan Februari 2026 Tumbuh Stabil Di Tengah Tantangan Ekonomi

Senin, 06 April 2026 | 11:55:07 WIB
Kredit Perbankan Februari 2026 Tumbuh Stabil Di Tengah Tantangan Ekonomi

JAKARTA - Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, sektor perbankan nasional justru menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

Fungsi intermediasi yang menjadi tulang punggung industri tetap berjalan dengan baik, ditopang oleh pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana masyarakat yang stabil. Kondisi ini menjadi indikator penting bahwa kepercayaan terhadap sistem keuangan domestik masih terjaga.

Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperlihatkan bahwa hingga Februari 2026, industri perbankan masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif, meskipun laju ekspansinya sedikit melambat dibandingkan awal tahun. 

Namun, perlambatan tersebut tidak mengurangi kualitas kinerja secara keseluruhan yang tetap berada dalam kondisi sehat.

Berikut ini gambaran lengkap mengenai perkembangan kredit perbankan serta indikator penting lainnya yang mencerminkan kondisi industri saat ini.

Kinerja intermediasi tetap tumbuh stabil

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja intermediasi perbankan masih tumbuh positif hingga Februari 2026, dengan profil risiko yang tetap terjaga.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan penyaluran kredit perbankan pada Februari 2026 tumbuh 9,37% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 8.559 triliun.

“Kinerja intermediasi perbankan masih tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga,” ujar Dian.

Meski demikian, pertumbuhan kredit tersebut sedikit melambat dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 9,96% YoY. Perlambatan ini mencerminkan kehati-hatian industri dalam menyalurkan kredit di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.

Jika dilihat lebih dalam, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,72% YoY. Sementara dari sisi debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi sebesar 14,74% YoY.

“Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 20,72%,” jelasnya.

Selain itu, berdasarkan kepemilikan, kredit bank BUMN menjadi yang paling tinggi pertumbuhannya dengan angka 12,78% YoY. Hal ini menunjukkan peran penting bank milik negara dalam mendorong pembiayaan sektor produktif.

Pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid

Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Per Februari 2026, DPK tumbuh 13,18% YoY menjadi Rp 10.102 triliun.

“Dana pihak ketiga tumbuh sebesar 13,18% year-on-year menjadi Rp 10.102 triliun,” kata Dian.

Secara rinci, deposito mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 18,56% YoY. Sementara itu, tabungan tumbuh sebesar 13% YoY dan giro sebesar 8,12% YoY.

Pertumbuhan DPK ini mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat yang masih tinggi terhadap sektor perbankan. Selain itu, peningkatan simpanan juga menjadi sumber likuiditas yang penting untuk mendukung ekspansi kredit ke depan.

Dengan kondisi pendanaan yang solid, bank memiliki ruang yang lebih luas untuk menyalurkan pembiayaan ke berbagai sektor ekonomi. Hal ini menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Likuiditas dan kualitas kredit tetap terjaga

Dari sisi likuiditas, kondisi industri perbankan dinilai masih sangat memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 121,29%, sementara alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,4%.

“Kedua rasio tersebut masih jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%,” imbuhnya.

Selain itu, liquidity coverage ratio (LCR) berada di level tinggi, yakni 195,64%, yang mencerminkan ketahanan likuiditas perbankan dalam menghadapi potensi tekanan jangka pendek.

Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross tercatat sebesar 2,17%, sedangkan NPL net sebesar 0,83%.

“Secara umum kualitas kredit tetap terjaga,” ujar Dian.

Adapun loan at risk (LAR) berada di level 9,24%, sedikit meningkat dibandingkan Januari 2026 sebesar 9,01%. Meskipun ada kenaikan, level ini masih dalam batas yang dapat dikelola oleh industri.

Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) tercatat sebesar 2,37%, sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,49%. Sementara itu, permodalan perbankan tetap kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,83%.

“Permodalan perbankan tetap kuat dan menjadi buffer mitigasi risiko yang memadai di tengah ketidakpastian global,” katanya.

Optimisme industri dan langkah penguatan ke depan

Optimisme terhadap kinerja perbankan juga tercermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SPPO) OJK. Pada triwulan I 2026, indeks orientasi bisnis perbankan (IBP) berada di zona optimistis.

Hal ini menunjukkan bahwa pelaku industri masih memiliki keyakinan terhadap prospek pertumbuhan ke depan, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan global dan domestik.

Dalam upaya memperkuat industri, OJK juga meluncurkan dua publikasi terkait risiko iklim di sektor perbankan, yakni Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA) dan Banking Sustainability Maturity Assessment Report (SMART).

Selain itu, sepanjang triwulan I 2026, OJK telah menerbitkan 12 izin penggabungan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) sebagai bagian dari konsolidasi industri.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat struktur industri perbankan nasional serta menjaga stabilitas sistem keuangan ke depan. Dengan fondasi yang kuat dari sisi likuiditas, permodalan, dan kualitas kredit, industri perbankan Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk terus tumbuh secara berkelanjutan.

Terkini