Merchant QRIS Ciayumajakuning Tembus 914 Ribu Pengguna Hingga Februari 2026

Sabtu, 04 April 2026 | 10:34:41 WIB
Merchant QRIS Ciayumajakuning Tembus 914 Ribu Pengguna Hingga Februari 2026

JAKARTA - Transformasi pembayaran digital di berbagai daerah terus menunjukkan perkembangan signifikan. Salah satu indikatornya terlihat dari meningkatnya jumlah pelaku usaha yang memanfaatkan sistem pembayaran berbasis kode QR untuk mendukung transaksi non-tunai.

Di wilayah Ciayumajakuning yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, penggunaan sistem pembayaran digital melalui QRIS terus meningkat. Perkembangan ini menunjukkan semakin luasnya adopsi teknologi pembayaran modern di kalangan pelaku usaha, mulai dari skala mikro hingga usaha besar.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Cirebon mencatat jumlah merchant atau pelaku usaha yang menggunakan sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Ciayumajakuning mencapai 914,07 ribu pengguna hingga Februari 2026.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon Himawan Putranto mengatakan bahwa peningkatan jumlah merchant tersebut terjadi dalam dua bulan pertama tahun ini.

“Penambahan merchant QRIS selama Januari dan Februari 2026 tercatat sebanyak 37,67 ribu merchant di Ciayumajakuning,” kata Himawan Putranto di Cirebon, Jumat.

Menurut dia, peningkatan jumlah merchant tersebut menunjukkan percepatan adopsi sistem pembayaran digital oleh para pelaku usaha di berbagai sektor ekonomi di wilayah tersebut.

Pertumbuhan Merchant QRIS Di Wilayah Ciayumajakuning

Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa perkembangan merchant QRIS di wilayah Ciayumajakuning terus mengalami peningkatan.

Jumlah merchant yang mencapai lebih dari 914 ribu pengguna hingga Februari 2026 mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan sistem pembayaran digital di kalangan pelaku usaha.

Peningkatan tersebut tidak hanya terjadi pada sektor usaha tertentu, tetapi merata di berbagai bidang usaha, mulai dari perdagangan ritel, kuliner, jasa, hingga sektor layanan publik.

Adopsi teknologi pembayaran digital melalui QRIS dinilai mampu memberikan kemudahan transaksi bagi konsumen sekaligus membantu pelaku usaha dalam mempercepat proses pembayaran.

Selain itu, sistem ini juga dinilai lebih praktis karena memungkinkan pembayaran dilakukan hanya dengan memindai kode QR menggunakan aplikasi pembayaran digital.

Dominasi Usaha Kecil Dalam Transaksi QRIS

Dari sisi jenis usaha, transaksi QRIS di wilayah Ciayumajakuning pada dua bulan pertama tahun 2026 didominasi oleh pelaku Usaha Kecil.

Menurut Himawan Putranto, volume transaksi QRIS untuk kategori Usaha Kecil tercatat mencapai pangsa sebesar 49,28 persen.

“Volume transaksi QRIS pada dua bulan pertama pada tahun ini didominasi oleh Usaha Kecil (UKE) dengan pangsa sebesar 49,28 persen,” katanya.

Selain itu, kontribusi transaksi dari kategori Usaha Menengah tercatat sebesar 19,77 persen terhadap total volume transaksi QRIS di wilayah Ciayumajakuning.

Sementara itu, kategori Usaha Mikro memberikan kontribusi sebesar 19,34 persen terhadap volume transaksi QRIS selama periode tersebut.

Dominasi sektor usaha kecil ini menunjukkan bahwa pelaku usaha skala kecil semakin adaptif dalam memanfaatkan teknologi pembayaran digital untuk mendukung aktivitas bisnis mereka.

Kontribusi Berbagai Sektor Usaha

Selain sektor usaha kecil, berbagai kategori usaha lainnya juga turut memberikan kontribusi terhadap volume transaksi QRIS di wilayah Ciayumajakuning.

Sektor Usaha Besar tercatat menyumbang sekitar 10,58 persen dari total volume transaksi QRIS di wilayah tersebut.

Sementara itu, sektor Badan Layanan Umum atau Public Service Obligation (BLU/PSO) memberikan kontribusi sebesar 0,38 persen terhadap total transaksi QRIS.

Adapun kategori usaha lainnya menyumbang sekitar 0,65 persen terhadap keseluruhan volume transaksi QRIS di wilayah Ciayumajakuning.

Kontribusi dari berbagai sektor usaha tersebut menunjukkan bahwa penggunaan sistem pembayaran digital semakin merata di berbagai lapisan pelaku ekonomi.

Dengan semakin banyaknya pelaku usaha yang memanfaatkan QRIS, transaksi non-tunai di wilayah tersebut juga terus mengalami peningkatan.

Akumulasi Transaksi QRIS Awal Tahun

Secara akumulatif, transaksi pembayaran menggunakan QRIS di wilayah Ciayumajakuning menunjukkan angka yang cukup signifikan pada awal tahun 2026.

Menurut data dari Bank Indonesia, volume transaksi QRIS selama Januari hingga Februari 2026 mencapai 41,88 juta transaksi.

“Adapun nominal transaksi QRIS di Ciayumajakuning pada periode tersebut mencapai Rp3,58 triliun,” ujar Himawan Putranto.

Nilai transaksi tersebut mencerminkan tingginya aktivitas pembayaran digital di wilayah Ciayumajakuning, sekaligus menunjukkan bahwa QRIS semakin menjadi bagian penting dalam ekosistem pembayaran modern.

Peningkatan transaksi ini juga menjadi indikasi bahwa masyarakat semakin terbiasa menggunakan metode pembayaran non-tunai dalam aktivitas sehari-hari.

Dengan pertumbuhan jumlah merchant serta meningkatnya volume transaksi, penggunaan QRIS di wilayah Ciayumajakuning diperkirakan akan terus berkembang seiring dengan semakin luasnya literasi keuangan digital di masyarakat.

Terkini