Bulog Bangun 100 Gudang Baru Demi Perkuat Ketahanan Pangan

Jumat, 03 April 2026 | 09:32:09 WIB
Bulog Bangun 100 Gudang Baru Demi Perkuat Ketahanan Pangan

JAKARTA - Perum Bulog menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem ketahanan pangan nasional melalui pembangunan 100 gudang baru yang tersebar di berbagai daerah.

Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan hasil panen sekaligus memperkuat infrastruktur logistik pangan dari hulu hingga hilir. 

Di tengah tantangan distribusi dan kebutuhan menjaga ketersediaan pangan secara merata, pembangunan gudang baru diposisikan sebagai strategi jangka panjang agar stok pangan nasional tetap aman, stabil, dan mudah dijangkau oleh masyarakat di berbagai wilayah.

Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik gudang, tetapi juga dirancang sebagai bagian dari penguatan sistem logistik nasional yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan. 

Dengan dukungan fasilitas pascapanen yang memadai, pemerintah berharap hasil produksi pangan dapat tersimpan lebih baik, risiko kehilangan hasil panen dapat ditekan, dan distribusi ke wilayah yang membutuhkan bisa dilakukan dengan lebih efisien. 

Karena itu, Bulog memastikan seluruh tahapan program dipersiapkan secara matang agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

Direktur Utama Perum Bulog Agmad Rizal Ramdhani menyatakan pembangunan 100 gudang baru akan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kapasitas penyimpanan pascapanen. 

Pernyataan ini menegaskan bahwa infrastruktur penyimpanan menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga stabilitas pangan, terutama ketika produksi meningkat di masa panen dan perlu dikelola secara optimal agar tidak menimbulkan gangguan pada rantai pasok nasional.

Bulog juga melihat pembangunan gudang baru bukan sekadar penambahan bangunan, melainkan bagian dari pembenahan sistem logistik pangan nasional secara menyeluruh. 

Dengan begitu, langkah ini diharapkan mampu menciptakan sistem penyimpanan dan distribusi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan kebutuhan pangan ke depan.

Bulog Siap Jalankan Amanat Pemerintah Secara Terukur

Rizal memastikan pihaknya siap menjalankan amanat pemerintah dengan pendekatan yang terukur, profesional, dan akuntabel. Komitmen tersebut menjadi landasan utama dalam pelaksanaan program pembangunan gudang agar seluruh proses berjalan sesuai perencanaan dan memberikan manfaat nyata bagi penguatan cadangan pangan nasional. 

Dengan pendekatan yang hati-hati, Bulog ingin memastikan bahwa proyek strategis ini tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga efektif secara operasional.

"Penugasan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sistem logistik dan ketahanan pangan nasional," kata Rizal di Jakarta, Kamis.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Bulog memandang pembangunan gudang baru sebagai bagian dari agenda besar pemerintah untuk memperkuat fondasi pangan nasional. 

Dalam konteks ini, infrastruktur penyimpanan menjadi instrumen penting untuk menjaga hasil panen tetap berkualitas, mempercepat distribusi, dan memastikan pasokan tetap terjaga di berbagai daerah. Hal itu juga sejalan dengan kebutuhan memperkuat cadangan pangan pemerintah dalam jangka panjang.

Bulog juga memastikan seluruh tahapan dipersiapkan secara matang agar pembangunan infrastruktur tersebut benar-benar tepat lokasi, tepat fungsi, dan tepat manfaat bagi masyarakat. 

Dengan penekanan pada ketepatan lokasi dan fungsi, proyek ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan spesifik tiap wilayah, baik di sentra produksi maupun di daerah yang membutuhkan dukungan distribusi lebih kuat.

Tiga Langkah Utama Disiapkan Untuk Proyek Gudang Baru

Lebih lanjut, Rizal mengatakan sebagai tindak lanjut rencana pembangunan infrastruktur tersebut, terdapat tiga langkah utama yang tengah disiapkan BUMN pangan itu. 

Langkah-langkah ini dirancang untuk memastikan bahwa pembangunan tidak dilakukan secara terburu-buru, melainkan melalui proses kajian yang komprehensif agar hasilnya berkelanjutan dan sesuai kebutuhan lapangan.

Pertama, penyusunan studi kelayakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi dan para ahli. Kajian itu mencakup aspek teknis, operasional, serta finansial guna memastikan pembangunan berjalan efektif dan berkelanjutan. 

Keterlibatan berbagai pihak ini penting agar proyek memiliki dasar perencanaan yang kuat dan tidak hanya berorientasi pada target pembangunan semata.

Kedua, penyusunan pertimbangan teknis bersama Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, agar pembangunan gudang dan infrastruktur pascapanen disesuaikan dengan tipologi serta karakteristik wilayah masing-masing. Ketiga, evaluasi kelayakan finansial dan rekomendasi penggunaan dana investasi pemerintah nonpermanen. 

Setelah ketiga unsur tersebut terpenuhi, lanjut Rizal, hasilnya akan dilaporkan kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan untuk memperoleh persetujuan tertulis sebelum pembangunan dimulai.

Dengan tahapan tersebut, Bulog ingin memastikan proyek berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik. Selain itu, mekanisme persetujuan berjenjang juga menunjukkan bahwa pembangunan ini benar-benar ditempatkan sebagai proyek strategis nasional yang membutuhkan akurasi tinggi dalam perencanaan dan pelaksanaan.

Anggaran Rp5 Triliun Dan Sebaran Pembangunan Di Banyak Wilayah

Adapun program pembangunan itu direncanakan tersebar di 92 kabupaten dengan total anggaran sekitar Rp5 triliun, yang terdiri atas sekitar Rp4,4 triliun untuk pembangunan infrastruktur utama dan sekitar Rp560 miliar untuk mekanisasi, otomatisasi, serta sistem teknologi informasi. 

Besarnya nilai investasi tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada modernisasi sistem penyimpanan dan pengelolaan pangan agar lebih efisien dan adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Adapun rencana pembangunan infrastruktur pascapanen itu meliputi 94 unit gudang penyimpanan; enam unit silo gabah; delapan unit silo jagung; 17 unit dryer beras; 17 unit Rice Milling Unit (RMU); delapan unit dryer jagung; dan sembilan unit sentra pengolahan dan fasilitas packaging beras. 

Dalam pelaksanaannya, setiap lokasi akan melalui uji kelayakan teknis seperti soil test, analisis kemiringan lahan, serta kajian akses jalan guna mendukung mobilisasi angkutan logistik.

Rizal menuturkan pembangunan fisik akan dilaksanakan BUMN karya sesuai ketentuan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2026 terkait pembangunan 100 titik infrastruktur pascapanen di seluruh Indonesia. 

Infrastruktur itu akan diprioritaskan di sentra produksi pangan seperti Lampung, Jawa, dan Sulawesi Selatan dengan fasilitas lengkap berupa dryer, RMU, silo, hingga sistem mekanisasi dan otomatisasi modern. 

Sementara itu, di wilayah kepulauan seperti Natuna, Rote, dan Tidore, pembangunan difokuskan pada gudang penyimpanan guna menjaga stabilitas pasokan pangan, khususnya saat kondisi cuaca ekstrem.

Melalui langkah itu, Bulog menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem logistik pangan nasional serta memastikan ketersediaan pangan yang merata dan berkelanjutan dari Sabang sampai Merauke. 

Dengan kombinasi pembangunan gudang, fasilitas pascapanen, dan sistem modernisasi, proyek ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia ke depan.

Terkini