Amalan I'tikaf 10 Hari Terakhir Ramadan Menurut Ustaz Adi Hidayat

Kamis, 12 Maret 2026 | 11:01:33 WIB
Amalan I'tikaf 10 Hari Terakhir Ramadan Menurut Ustaz Adi Hidayat

JAKARTA - Menjelang berakhirnya bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan kualitas ibadahnya. 

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada fase akhir bulan suci adalah iktikaf, yakni berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperdalam spiritualitas sekaligus memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Banyak ulama menjelaskan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang sangat istimewa karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. Oleh karena itu, berbagai amalan dianjurkan untuk dilakukan secara lebih intens, termasuk memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, serta melakukan iktikaf di masjid.

Iktikaf menjadi salah satu amalan yang dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Ustaz Adi Hidayat mengatakan, ibadah ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW sebagai cara untuk meningkatkan fokus spiritual menjelang akhir bulan suci.

"Sesungguhnya sesuatu yang rutin dikerjakan Nabi, tidak hanya beliau anjurkan, tapi juga beliau praktikkan. Salah satunya di bulan Ramadan adalah kegiatan iktikaf," ujarnya.

Alasan Iktikaf Dilakukan Di Akhir Ramadan

Menurut Adi Hidayat, terdapat dua alasan utama mengapa iktikaf sangat dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Pertama berkaitan dengan kondisi spiritual sebagian umat Islam yang biasanya mulai mengalami perubahan fokus menjelang berakhirnya bulan suci.

Ia menjelaskan bahwa pada fase tersebut, sebagian orang mulai disibukkan dengan berbagai urusan duniawi, seperti persiapan mudik, kebutuhan Lebaran, hingga berbagai aktivitas lainnya. Hal ini sering kali membuat intensitas ibadah menjadi berkurang.

"Nabi mencontohkan mengencangkan ikat pinggangnya untuk mulai mengalahkan keinginan dunia. Sepuluh hari ini fokus dulu sampai benar-benar merasa punya Allah," kata Adi Hidayat.

Alasan kedua berkaitan dengan kondisi keimanan umat Islam yang biasanya sedang berada dalam keadaan kuat selama bulan Ramadan. Momentum ini dinilai sangat tepat untuk memperdalam hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Ia mengatakan bahwa iktikaf merupakan bentuk kesungguhan seorang hamba untuk kembali memusatkan perhatian kepada Allah hingga muncul rasa memiliki hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta.

Menurutnya, rasa memiliki Allah tersebut tidak hanya berhenti saat berada di masjid, tetapi diharapkan dapat terbawa hingga kehidupan sehari-hari setelah Ramadan berakhir.

Amalan Yang Dianjurkan Saat Iktikaf

Selama menjalankan iktikaf, terdapat sejumlah amalan yang dianjurkan untuk dilakukan agar waktu yang dihabiskan di masjid dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Adi Hidayat menjelaskan bahwa amalan pertama yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak salat. Menurutnya, salat merupakan sarana utama untuk membangun hubungan spiritual antara seorang hamba dengan Allah SWT.

"Salat itu dari kata silah, artinya tersambung atau terkoneksi. Jadi saat iktikaf, amalan pertama yang diperbanyak adalah salat," ujarnya.

Ia juga menganjurkan agar seseorang memperpanjang sujud ketika salat. Pada momen tersebut, seseorang dapat memanjatkan doa serta mencurahkan berbagai persoalan hidup kepada Allah SWT.

Selain memperbanyak salat, umat Muslim juga dianjurkan untuk menyusun program ibadah selama menjalani iktikaf. Hal ini bertujuan agar waktu yang ada dapat digunakan secara efektif untuk beribadah.

Dengan adanya perencanaan ibadah yang jelas, seseorang dapat mengisi waktu iktikaf dengan berbagai kegiatan positif seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, hingga melakukan refleksi diri.

Bentuk Pelaksanaan Iktikaf Di Masjid

Adi Hidayat juga menjelaskan bahwa iktikaf dapat dilakukan dalam beberapa bentuk sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Ia mengatakan bahwa sebagian orang mungkin dapat menjalankan iktikaf secara penuh selama siang dan malam di masjid. Namun, ada pula yang hanya mampu melaksanakannya pada waktu tertentu, misalnya pada malam hari.

Hal ini biasanya terjadi pada orang yang tetap harus bekerja atau menjalankan aktivitas di siang hari. Dalam kondisi seperti ini, seseorang tetap dapat menjalankan iktikaf pada malam hari setelah menyelesaikan pekerjaannya.

"Nabi memberi kemudahan. Kalau siang masih bekerja, ambil malamnya," kata dia.

Selain itu, ia juga menyarankan agar orang yang sedang menjalankan iktikaf mengurangi aktivitas yang berpotensi mengganggu kekhusyukan ibadah.

Salah satu hal yang sering menjadi gangguan adalah penggunaan telepon genggam yang berlebihan. Oleh karena itu, ia menganjurkan agar penggunaan perangkat tersebut dibatasi selama berada di masjid agar fokus ibadah tetap terjaga.

Iktikaf Sebagai Momentum Evaluasi Diri

Selain memperbanyak ibadah, iktikaf juga dapat menjadi waktu yang sangat baik untuk melakukan introspeksi diri. Dalam suasana yang lebih tenang, seseorang memiliki kesempatan untuk mengevaluasi berbagai aspek kehidupannya.

Adi Hidayat menyarankan agar setiap orang mencoba menilai kembali perannya dalam kehidupan, baik sebagai anak, orang tua, pasangan, maupun dalam lingkungan pekerjaan.

"Coba keluarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait dengan profesi kehidupan kita. Misalnya bagaimana menjadi anak yang baik, suami yang baik, atau ayah yang baik," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa hubungan dengan orang tua merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam kehidupan seseorang.

Menurutnya, apabila seseorang merasa kehidupannya dipenuhi dengan berbagai kesulitan yang tidak kunjung selesai, maka hal pertama yang perlu diperiksa adalah hubungan dengan orang tua.

"Kalau menemukan kesulitan yang tidak pernah selesai, cek hubungan dengan orang tua terlebih dahulu," kata Adi Hidayat.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa iktikaf seharusnya tidak membuat seseorang menjauh dari kehidupan sosial atau tanggung jawab sehari-hari.

Sebaliknya, ibadah ini diharapkan mampu memberikan energi baru bagi seseorang untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik setelah Ramadan berakhir.

"Kalau keluar dari masjid setelah iktikaf, harus lebih semangat menjalani aktivitas. Kalau ada persoalan, selesaikan dan kembalikan kepada Allah," ujarnya.

Dengan menjalankan iktikaf secara sungguh-sungguh, seorang Muslim diharapkan dapat memperoleh ketenangan batin, meningkatkan kualitas ibadah, serta membawa semangat spiritual tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadan.

Terkini