JAKARTA - Industri perbankan Indonesia pada tahun 2025 mengalami kinerja yang cukup beragam. Beberapa bank mencatatkan pertumbuhan yang solid, sementara yang lainnya harus menghadapi tantangan yang memengaruhi kinerja laba mereka.
Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sektor perbankan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp262,18 triliun pada kuartal IV 2025, meningkat 2,74% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan meski masih ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh bank-bank besar.
Di balik pencapaian tersebut, sepuluh bank teratas dengan laba terbesar menunjukkan potensi yang luar biasa dalam menjaga kesehatan fundamental dan profitabilitas mereka.
Berikut adalah pembahasan mendalam mengenai kinerja sepuluh bank terbesar di Indonesia sepanjang 2025 berdasarkan laba bersih.
Kinerja Positif Bank dengan Laba Terbesar di Indonesia
Dalam daftar sepuluh bank dengan laba terbesar di Indonesia pada tahun 2025, PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menempati posisi pertama dengan mencatatkan laba konsolidasian sebesar Rp57,56 triliun.
Realisasi ini menunjukkan kenaikan 4,94% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp54,85 triliun. Kinerja yang baik ini tidak terlepas dari pertumbuhan kredit BCA yang tercatat sebesar 7,53% YoY, mencapai Rp979,69 triliun pada 2025.
Selain itu, BCA juga berhasil meningkatkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10,18% YoY, dengan total DPK mencapai Rp1.249,04 triliun.
Meski demikian, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang berada di posisi kedua dengan raihan laba sebesar Rp57,13 triliun, mengalami penurunan 5,26% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp60,30 triliun. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh faktor internal, yakni koreksi pada segmen mikro.
Namun, BRI tetap menunjukkan kinerja yang solid dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) yang memadai, yakni 91,4%, memberi ruang untuk pertumbuhan yang sehat ke depan.
Pencapaian Laba Konsolidasi yang Signifikan
Selain BCA dan BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan laba yang cukup signifikan dengan laba yang diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp56,3 triliun. Kinerja ini meningkat 0,93% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat Rp55,78 triliun.
Keberhasilan Bank Mandiri dalam mencatatkan laba ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang kuat, yang tercatat sebesar Rp1.895 triliun, meningkat 13,4% YoY.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri juga tumbuh 23,9% YoY, mencapai Rp2.106 triliun, dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6%.
Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan laba konsolidasian sebesar Rp20,11 triliun meskipun mengalami penurunan 7,19% YoY dibandingkan dengan laba yang tercatat pada 2024 sebesar Rp21,66 triliun.
Namun, BNI berhasil meningkatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,94% YoY dengan total kredit yang disalurkan mencapai Rp899,53 triliun. Selain itu, BNI juga menunjukkan penguatan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 29,21% YoY, mencapai Rp1.040,83 triliun.
Tren Positif di Bank Syariah dan Bank Lainnya
Di urutan kelima, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) mencatatkan laba bersih sebesar Rp7,56 triliun, yang meningkat 8,02% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp7,00 triliun.
Kinerja positif ini disebabkan oleh pengelolaan pembiayaan yang sehat dan terarah, serta kontribusi pembiayaan yang sejalan dengan program pemerintah.
Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menempati urutan keenam dengan laba konsolidasian Rp6,93 triliun, meskipun hanya mencatatkan kenaikan tipis 0,53% YoY dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp6,89 triliun.
Pengelolaan Risiko dan Strategi Bank di Tengah Dinamika Ekonomi
Sementara itu, PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp5,05 triliun, meningkat 3,92% YoY dari Rp4,86 triliun di 2024.
Bank ini tetap fokus pada keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengelolaan risiko yang prudent. Kinerja ini dibuktikan dengan penguatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mampu menopang pertumbuhan kinerja OCBC NISP di tahun 2025.
Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, mengungkapkan bahwa kualitas aset yang terjaga dan pengelolaan risiko yang baik menjadi kunci utama dalam memperkuat keberlanjutan kinerja bank ini ke depan.
PT Bank Permata Tbk. (BNLI) juga menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dengan laba bersih yang tercatat sebesar Rp3,58 triliun, naik tipis 0,59% YoY dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Bank Permata menunjukkan ketahanan yang solid meskipun menghadapi berbagai tantangan, dengan kinerja yang berfokus pada pertumbuhan berkelanjutan serta pengelolaan risiko yang hati-hati.
Peningkatan Profitabilitas di Bank Tabungan Negara dan Danamon
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp3,50 triliun pada 2025, meningkat 16,42% YoY dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bank BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis berkat penguatan profitabilitas dan transformasi bisnis yang efisien. Hal ini turut mendukung posisi BTN yang semakin kuat di industri perbankan Indonesia.
Terakhir, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) mencatatkan laba konsolidasian sebesar Rp3,58 triliun, yang meningkat 0,59% YoY dari tahun sebelumnya. Kinerja ini menunjukkan bahwa Bank Danamon tetap berada pada jalur yang benar, dengan fokus pada prioritas strategis yang telah berhasil meningkatkan intermediasi dan profitabilitas mereka.