JAKARTA - Sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pada awal tahun ini.
Data terbaru mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur mencapai 53,8 poin. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir dan menandakan ekspansi industri yang makin kuat.
PMI Februari 2026 Capai Rekor Tertinggi
PMI manufaktur pada Februari 2026 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di 52,6 poin. Hal ini menunjukkan perbaikan kondisi industri yang semakin menguat pada awal tahun. Ekonom Usamah Bhatti menjelaskan capaian ini memberi prospek positif bagi kinerja sektor manufaktur di bulan-bulan mendatang.
Indeks berada di atas ambang batas 50 poin yang memisahkan fase ekspansi dan kontraksi. Dengan kata lain, sektor industri masih berada dalam zona pertumbuhan. Aktivitas produksi dan permintaan di berbagai subsektor manufaktur mengalami peningkatan yang nyata.
Kenaikan PMI juga mencerminkan perusahaan mulai meningkatkan kapasitas produksi. Permintaan yang terus tumbuh mendorong industri untuk menambah tenaga kerja. Aktivitas pembelian bahan baku pun meningkat seiring kebutuhan produksi yang lebih tinggi.
Permintaan dan Produksi Semakin Positif
Bhatti menekankan tren permintaan di sektor manufaktur menunjukkan arah positif. Peningkatan penjualan memicu perusahaan menaikkan tingkat produksi. Langkah ini turut menambah kesempatan kerja serta memperkuat aktivitas rantai pasok industri.
Meski begitu, tekanan harga masih menjadi tantangan yang dihadapi produsen. Kenaikan biaya bahan baku menyebabkan biaya produksi meningkat. Hal ini membuat produsen menyesuaikan harga jual agar tetap menjaga margin keuntungan.
Kondisi tersebut berdampak pada inflasi dari sisi pabrik, meski tingkat inflasi secara keseluruhan masih terkendali. Produsen mencatat kenaikan beban biaya rata-rata. Namun, langkah-langkah efisiensi dan penyesuaian harga tetap diterapkan agar produksi berjalan lancar.
Indeks Kepercayaan Industri Tetap Positif
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Februari 2026 berada di angka 54,02 poin. Nilai ini menunjukkan sebagian besar subsektor industri masih berada di fase ekspansi. Dari 23 subsektor yang dianalisis, 19 subsektor berada di zona pertumbuhan.
Febri Hendri Antoni Arif menambahkan bahwa subsektor ekspansi menyumbang 92,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Hanya empat subsektor yang mengalami kontraksi, tetapi kontribusinya relatif kecil. Hal ini menegaskan optimisme sektor manufaktur tetap terjaga meskipun ada perlambatan sedikit secara bulanan.
Dua subsektor dengan IKI tertinggi adalah industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, serta industri alat angkutan lainnya. Kedua subsektor ini menjadi motor penggerak pertumbuhan industri pengolahan. Kontribusinya signifikan terhadap capaian PMI nasional yang tinggi.
Peningkatan Aktivitas Industri dan Ketenagakerjaan
Perbaikan kondisi sektor manufaktur juga terlihat dari aktivitas tenaga kerja. Perusahaan menambah karyawan seiring peningkatan produksi dan permintaan. Hal ini berdampak positif pada lapangan kerja di berbagai daerah industri.
Selain itu, pembelian bahan baku mengalami kenaikan. Aktivitas rantai pasok pun semakin ramai seiring permintaan produk yang meningkat. Bhatti menekankan bahwa perbaikan kondisi manufaktur akan mendorong prospek pertumbuhan ekonomi lebih luas.
Meski ada tekanan harga, perusahaan tetap optimistis menjaga stabilitas produksi. Penyesuaian harga jual dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli konsumen. Dengan demikian, keseimbangan antara permintaan, produksi, dan harga dapat tercapai secara efektif.
Prospek Positif Manufaktur ke Depan
Capaian PMI tertinggi dalam dua tahun terakhir memberikan sinyal positif bagi sektor manufaktur Indonesia. Aktivitas produksi yang meningkat diikuti permintaan yang kuat. Prospek industri di bulan-bulan mendatang diperkirakan tetap berada dalam zona ekspansi.
Bhatti menekankan, tren ini menjadi indikator bahwa pertumbuhan manufaktur akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Perusahaan didorong untuk terus meningkatkan kapasitas produksi dan inovasi. Pemerintah juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat iklim usaha dan menstimulasi pertumbuhan padat karya.
Dengan koordinasi industri dan pemerintah yang baik, prospek manufaktur Indonesia menunjukkan arah yang positif. Aktivitas produksi, tenaga kerja, dan rantai pasok saling mendukung. Semua faktor ini memastikan sektor manufaktur tetap menjadi penggerak utama ekonomi nasional.