JAKARTA - Proyek lapangan gas abadi yang telah lama mangkrak, Blok Masela, akhirnya memasuki fase yang dinanti-nanti setelah bertahun-tahun mengalami penundaan.
Dalam beberapa bulan mendatang, proyek gas raksasa yang terletak di Maluku ini dipastikan akan segera memasuki tahap groundbreaking, dengan proses percepatan yang dilakukan setelah adanya ancaman untuk membawanya ke Pokja Bottlenecking.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan perkembangan terbaru mengenai proyek ini dan bagaimana berbagai masalah yang menghambatnya kini mulai diselesaikan.
Blok Masela, yang telah menjadi sorotan selama lebih dari dua dekade, kini berada di jalur yang lebih cepat berkat dorongan dan koordinasi antara pemerintah pusat dan berbagai pihak terkait.
“Ada satu ladang besar di Abadi yang sudah 20-an tahun tidak dikerjakan. Saya tadinya mau bawa ke Pokja Bottlenecking supaya masalahnya bisa dieksekusi. Tetapi setelah ancaman itu, mereka sekarang mempercepat prosesnya agar tidak dibawa ke Pokja,” ujar Purbaya.
Akar Masalah dan Percepatan Proyek
Purbaya menjelaskan bahwa salah satu alasan mengapa proyek Blok Masela mengalami keterlambatan adalah adanya berbagai hambatan birokrasi dan teknis.
Meskipun sebelumnya sudah ada rencana besar, berbagai faktor yang terkait dengan pembiayaan, eksplorasi, serta kajian teknis yang belum selesai membuat proyek ini terhenti.
Namun, dengan ancaman untuk membawa masalah ini ke dalam Pokja Bottlenecking sebuah badan yang dibentuk untuk menangani proyek-proyek besar yang mengalami kendala signifikan—pihak terkait akhirnya bergerak lebih cepat.
Dalam rapat kerja tersebut, Purbaya juga menekankan pentingnya percepatan proyek-proyek migas seperti Blok Masela untuk meningkatkan penerimaan negara, khususnya melalui sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang selama ini dipengaruhi oleh minimnya eksplorasi baru di sektor migas.
“Tanpa penemuan ladang minyak dan gas baru, kita tidak bisa menaikkan lifting, dan lifting kita akan turun terus,” tambah Purbaya.
Proyek Gas Abadi yang Dibutuhkan untuk Ketahanan Energi
Blok Masela sendiri diperkirakan memerlukan investasi besar sekitar USD 20,94 miliar (sekitar Rp 341 triliun dengan kurs Rp 16.300 per USD) untuk bisa beroperasi.
Proyek ini mencakup pembangunan kilang LNG (Liquefied Natural Gas) yang ditargetkan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA).
Selain itu, proyek ini juga diharapkan dapat menghasilkan 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa dan 35.000 barel per hari (bph) kondensat.
Proyek ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor energi dan meningkatkan ketahanan energi nasional.
“Kehadiran kilang LNG di Blok Masela ini sangat penting, karena dapat mengurangi ketergantungan pada impor energi sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri,” kata Purbaya,.
Tahapan Proyek dan Persiapan Menuju Operasional
Blok Masela sudah memasuki tahap yang lebih matang setelah studi teknis Carbon Capture Storage (CCS) untuk memastikan kesiapan subsurface atau lapisan bawah permukaan yang menjadi kunci keberhasilan proyek ini.
Dengan studi tersebut yang sudah rampung, proyek ini siap memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED) yang dimulai sejak November 2025.
Proses FEED ini akan memfokuskan pada desain teknis dan perencanaan lebih rinci untuk pembangunan fasilitas yang akan mendukung produksi gas dan LNG.
Seiring dengan perkembangan yang ada, pemerintah menargetkan proyek ini bisa mulai beroperasi pada 2029 mendatang. Meski begitu, proyek ini juga memiliki potensi untuk lebih cepat terealisasi jika seluruh tahapan dan dukungan lancar tanpa adanya kendala.
Sumber daya alam yang tersedia di Blok Masela dipandang sebagai peluang besar untuk mendongkrak produksi energi domestik, sehingga dengan segera beroperasinya proyek ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.
Prospek Ekonomi dan Dampak Jangka Panjang
Blok Masela bukan hanya sekadar proyek migas biasa, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang bagi perekonomian Indonesia. Selain mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, proyek ini diharapkan dapat menyokong sektor industri, menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan pendapatan negara.
Sumber daya yang akan dihasilkan oleh Blok Masela juga dapat mendukung perkembangan industri dalam negeri, mengingat kebutuhan energi yang terus meningkat di Indonesia.
Dengan adanya infrastruktur LNG yang lebih baik, Indonesia dapat meningkatkan ekspor energi serta memperkuat posisi negara sebagai pemain penting dalam pasar energi global.
Proyek ini juga memiliki peran vital dalam meningkatkan daya saing industri Indonesia, mengingat kebutuhan energi yang stabil dan terjangkau sangat penting untuk pengembangan sektor-sektor industri strategis.
Dengan kontribusinya terhadap ketahanan energi, Blok Masela diyakini akan menjadi salah satu proyek unggulan yang memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia dalam jangka panjang.