JAKARTA - Pada awal Februari 2026, harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia kembali mengalami penyesuaian, dengan sejumlah operator SPBU melakukan penurunan tarif untuk produk bensin dan solar non-subsidi.
Perubahan harga ini terjadi seiring dengan evaluasi berkala yang mengikuti perkembangan harga minyak dunia serta nilai tukar mata uang. Pertamina, Shell, BP, dan Vivo menjadi beberapa operator yang melakukan penyesuaian harga tersebut.
Berikut adalah detail mengenai penurunan harga BBM yang mulai berlaku pada 5 Februari 2026 di seluruh Indonesia. Proses penyesuaian harga ini dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang memuat formula harga jual eceran BBM melalui SPBU. Berikut adalah perubahan harga yang signifikan di berbagai jaringan SPBU di Indonesia.
Penurunan Harga BBM oleh Pertamina di Seluruh Indonesia
Pertamina, sebagai salah satu penyedia BBM terbesar di Indonesia, juga ikut menurunkan harga BBM non-subsidi pada awal Februari 2026. Berikut adalah harga terbaru yang berlaku di wilayah Pulau Jawa:
Pertalite (RON 90): Rp 10.000 per liter
Biosolar (CN 48): Rp 6.800 per liter
Pertamax (RON 92): Rp 11.800 per liter
Pertamax Turbo (RON 98): Rp 12.700 per liter
Pertamax Green 95 (RON 95): Rp 12.450 per liter
Dexlite (CN 51): Rp 13.250 per liter
Pertamina Dex (CN 53): Rp 13.500 per liter
Harga BBM Pertamina Seluruh Indonesia:
Sumatera & Sekitarnya:
Pertalite: Rp 10.000 per liter
Pertamax: Rp 12.100 per liter
Pertamax Turbo: Rp 13.000 per liter
Biosolar: Rp 6.800 per liter
Dexlite: Rp 13.550 per liter
Pertamina Dex: Rp 13.800 per liter
Jawa & Bali:
Pertalite: Rp 10.000 per liter
Pertamax: Rp 11.800 per liter
Pertamax Turbo: Rp 12.700 per liter
Pertamax Green 95: Rp 12.450 per liter
Biosolar: Rp 6.800 per liter
Dexlite: Rp 13.250 per liter
Pertamina Dex: Rp 13.500 per liter
Kalimantan:
Pertalite: Rp 10.000 per liter
Pertamax: Rp 12.100 per liter
Pertamax Turbo: Rp 13.000 per liter
Biosolar: Rp 6.800 per liter
Dexlite: Rp 13.550 per liter
Pertamina Dex: Rp 13.800 per liter
Sulawesi:
Pertalite: Rp 10.000 per liter
Pertamax: Rp 12.100 per liter
Pertamax Turbo: Rp 13.000 per liter
Biosolar: Rp 6.800 per liter
Dexlite: Rp 13.550 per liter
Pertamina Dex: Rp 13.800 per liter
Maluku & Papua:
Pertalite: Rp 10.000 per liter
Pertamax: Rp 12.100 per liter
Biosolar: Rp 6.800 per liter
Dexlite: Rp 13.550 per liter
Penyesuaian Harga BBM oleh Shell Indonesia
Shell Indonesia juga turut menurunkan harga BBM pada awal Februari 2026, dengan beberapa produk mengalami penurunan harga mulai dari Rp80 hingga Rp760 per liter. Berikut adalah harga terbaru untuk produk-produk BBM Shell:
Shell Super (RON 92): Rp 12.050 per liter
Shell V-Power (RON 95): Rp 12.500 per liter
Shell V-Power Nitro+ (RON 98): Rp 12.720 per liter
Shell V-Power Diesel (CN 51): Rp 13.600 per liter
Penyesuaian Harga BBM oleh BP-AKR
BP-AKR, jaringan SPBU yang dikenal dengan produk BP-nya, juga melakukan penyesuaian harga pada awal Februari 2026. Penurunan harga di BP Indonesia berkisar antara Rp260 hingga Rp690 per liter, berlaku untuk semua varian utama:
BP 92 (RON 92): Rp 12.050 per liter
BP Ultimate (RON 95): Rp 12.500 per liter
BP Ultimate Diesel (CN 53): Rp 13.600 per liter
Penyesuaian Harga BBM oleh Vivo Indonesia
Vivo, meski memiliki lebih sedikit pilihan varian BBM, juga ikut menurunkan harga di seluruh jaringan SPBU Vivo. Penurunan harga terjadi di rentang antara Rp10 hingga Rp650 per liter:
Revvo 92 (RON 92): Rp 12.050 per liter
Revvo 95 (RON 95): Rp 12.500 per liter
Diesel Primus Plus (CN 51): Rp 13.610 per liter
Dampak Penurunan Harga BBM di Indonesia
Penurunan harga BBM ini menjadi angin segar bagi konsumen yang selama ini terbebani oleh harga bahan bakar yang relatif tinggi. Di sisi lain, langkah penurunan harga ini mencerminkan respons sektor energi terhadap dinamika pasar global dan kebijakan dalam negeri.
Penyesuaian harga yang lebih fleksibel juga memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk memilih jenis bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan kendaraan mereka.
Selain itu, kebijakan penurunan harga ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, serta menjaga keseimbangan antara stabilitas industri migas nasional dan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi inflasi yang tinggi. Adanya perubahan harga yang lebih kompetitif tentu menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi domestik.