Harga CPO Bergerak Dinamis Awal Pekan Seiring Penyesuaian Pasar Global

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:21:46 WIB
Harga CPO Bergerak Dinamis Awal Pekan Seiring Penyesuaian Pasar Global

JAKARTA - Pergerakan harga Crude Palm Oil atau CPO kembali menjadi perhatian pelaku pasar global. 

Setelah libur perdagangan, harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives bergerak melemah. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pasar dalam merespons dinamika permintaan global.

Harga CPO tercatat turun dua hari berturut-turut dan berada di dekat level terendah dalam sepekan. Tekanan muncul seiring dibukanya kembali perdagangan setelah libur. Pelaku pasar mencermati faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan harga.

Pelemahan ini tidak terjadi tanpa sebab yang jelas. Beberapa indikator pasar menunjukkan tekanan dari sisi eksternal. Sentimen global menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga.

Tekanan Bursa Dalian dan Penguatan Ringgit

Tekanan harga CPO dipicu oleh pelemahan minyak nabati di bursa Dalian. Kondisi tersebut memberi dampak langsung pada sentimen perdagangan CPO. Pergerakan ini menambah tekanan pada kontrak berjangka di Malaysia.

Selain itu, penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia turut membebani harga CPO. Penguatan mata uang membuat harga menjadi kurang kompetitif bagi pembeli luar negeri. Situasi ini memperkuat tekanan jual di pasar.

Kombinasi dua faktor tersebut menahan upaya pemulihan harga. Pasar merespons dengan sikap lebih berhati-hati. Harga pun bergerak terbatas dalam tekanan.

Pergerakan Kontrak Berjangka CPO

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan perdagangan, kontrak CPO Februari 2026 turun 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.140 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak CPO Maret 2026 juga melemah 14 Ringgit Malaysia ke level 4.195 Ringgit Malaysia per ton. Penurunan ini mencerminkan tekanan jangka pendek yang berlanjut.

Kontrak CPO April 2026 terkoreksi 14 Ringgit Malaysia menjadi 4.215 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Mei 2026 turun 11 Ringgit Malaysia ke posisi 4.217 Ringgit Malaysia per ton. Tekanan terjadi hampir merata di seluruh seri kontrak.

Kontrak CPO Juni 2026 melemah 9 Ringgit Malaysia menjadi 4.204 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2026 juga turun 9 Ringgit Malaysia ke level 4.185 Ringgit Malaysia per ton. Penurunan ini menunjukkan sentimen pasar yang masih defensif.

Kekhawatiran Permintaan dari China

Sentimen pasar semakin tertekan oleh lemahnya data Purchasing Managers’ Index China. China merupakan salah satu konsumen utama minyak sawit dunia. Pelemahan data tersebut memicu kekhawatiran terhadap permintaan jangka pendek.

Pelaku pasar mencermati dampak perlambatan aktivitas manufaktur China. Kekhawatiran ini tercermin dalam tekanan harga yang berlanjut. Pasar belum melihat katalis kuat untuk pemulihan cepat.

Ketidakpastian ini membuat investor menahan posisi beli. Fokus tertuju pada arah permintaan global. Perkembangan data ekonomi China menjadi perhatian utama.

Impor India dan Kinerja Ekspor Menahan Tekanan

Meski harga melemah, tekanan tertahan oleh menguatnya data impor India. Impor minyak sawit India melonjak 51 persen pada Januari. Angka ini menjadi level tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Lonjakan impor dipicu oleh diskon harga minyak sawit yang lebih dalam dibandingkan minyak kedelai. Kondisi ini mendorong kilang di India meningkatkan pembelian. Faktor ini membantu menahan penurunan harga lebih dalam.

Dari sisi produsen, Badan Pusat Statistik melaporkan ekspor minyak sawit mentah dan olahan Indonesia sepanjang 2025 mencapai 23,61 juta ton. 

Angka tersebut naik 9,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada Januari naik 17,9 persen menjadi 1,46 juta ton dibandingkan bulan sebelumnya.

Terkini