Penurunan Harga BBM Pertamina Memberikan Keringanan Ekonomi bagi Warga

Selasa, 03 Februari 2026 | 11:29:38 WIB
Penurunan Harga BBM Pertamina Memberikan Keringanan Ekonomi bagi Warga

JAKARTA - Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM di awal Februari 2026. 

Lima jenis BBM mengalami penurunan harga di beberapa wilayah. Perubahan ini mencerminkan penyesuaian terhadap tren harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

Di Jawa Barat, Pertamax turun Rp550 per liter. BBM lain seperti Pertamax Green dan Pertamax Turbo juga turun hingga Rp700 per liter. Penurunan ini diharapkan meringankan beban masyarakat yang menggunakan BBM non-subsidi.

Harga Dexlite menurun Rp250 per liter dan Pertamina Dex turun Rp100 per liter. Penyesuaian ini bersifat nasional namun berbeda di setiap provinsi. Penurunan harga tidak memengaruhi BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar.

Perbedaan Harga BBM di Berbagai Wilayah

Harga BBM tidak seragam di seluruh Indonesia. Di Aceh, Pertamax dibanderol Rp12.100 per liter, sedangkan di DKI Jakarta Rp11.800 per liter. Perbedaan harga ini terjadi karena biaya distribusi dan kondisi lokal.

Provinsi-provinsi lain menunjukkan variasi harga serupa. Misalnya, Pertamax di Riau Rp12.400 per liter dan di Jawa Timur Rp11.800 per liter. Variasi ini tetap mempertimbangkan tren harga global dan nilai tukar rupiah.

Wilayah Free Trade Zone juga mencatat harga berbeda. Di Sabang, Pertamax Rp11.100 per liter, sedangkan di Batam Rp11.300 per liter. Penyesuaian harga ini bertujuan menjaga keseimbangan antara distribusi dan konsumsi BBM.

BBM Subsidi dan Non-Subsidi

BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap stabil sejak 2022. Harga Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Stabilitas ini penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan transportasi publik.

Sementara itu, BBM non-subsidi mengalami penyesuaian untuk mencerminkan kondisi pasar. Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Green, Dexlite, dan Pertamina Dex turun harga di berbagai wilayah. Penyesuaian ini memberi kesempatan bagi konsumen BBM non-subsidi untuk mendapatkan keringanan biaya energi.

Harga BBM non-subsidi yang lebih rendah dapat meningkatkan konsumsi. Masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi atau industri skala kecil turut merasakan manfaatnya. Dampak ini diharapkan memberi efek positif pada aktivitas ekonomi.

Alasan Penyesuaian Harga BBM

Penurunan harga BBM non-subsidi disebabkan tren harga minyak dunia yang relatif stabil. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memengaruhi perhitungan harga di dalam negeri. Penyesuaian ini juga menjadi bagian dari kewenangan Pertamina dan pemerintah untuk menjaga keseimbangan pasar.

Kebijakan ini dilakukan secara berkala agar harga BBM mencerminkan kondisi global dan lokal. Stabilitas harga membantu konsumen merencanakan pengeluaran harian dan industri mengatur biaya operasional. Penyesuaian juga memberi sinyal positif bagi investor dan pelaku usaha energi.

Harga BBM yang lebih rendah di beberapa jenis diharapkan dapat mengurangi tekanan inflasi. Hal ini relevan bagi sektor transportasi dan distribusi barang. Dengan demikian, masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari penyesuaian harga ini.

Tips Memantau Harga BBM

Masyarakat dianjurkan mengecek harga BBM secara berkala melalui aplikasi resmi atau SPBU. Harga dapat berbeda tiap provinsi atau SPBU tergantung distribusi dan biaya operasional. Memantau harga membantu perencanaan pengeluaran keluarga dan bisnis.

Selain itu, mengetahui harga terbaru memudahkan perhitungan biaya transportasi dan logistik. Hal ini penting bagi pelaku usaha yang mengandalkan BBM sebagai bahan bakar operasional. Keteraturan update harga BBM memberi manfaat bagi semua lapisan masyarakat.

Dengan penyesuaian harga BBM terbaru, masyarakat dapat mengatur konsumsi bahan bakar lebih efisien. Keringanan harga terutama dirasakan pada BBM non-subsidi. Sementara itu, BBM subsidi tetap stabil untuk mendukung kelompok berpenghasilan rendah dan transportasi publik.

Terkini