JAKARTA - Pemanfaatan energi surya di Nusa Tenggara Barat terus menunjukkan prospek menjanjikan.
Wilayah ini memiliki infrastruktur bendungan yang dinilai strategis untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung. Upaya tersebut sejalan dengan dorongan pemanfaatan energi baru terbarukan secara berkelanjutan.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Nusa Tenggara Barat memetakan potensi bendungan untuk mendukung pengembangan PLTS. Dari total 77 bendungan yang ada, sekitar 20 persen dinilai layak dimanfaatkan. Langkah ini membuka peluang besar bagi penguatan sistem energi daerah.
Pengembangan PLTS terapung dinilai memiliki keunggulan dibanding pembangkit konvensional. Pemanfaatan permukaan air bendungan membuat kebutuhan lahan tambahan menjadi tidak diperlukan. Kondisi tersebut menjadikan proyek dapat segera direalisasikan.
Efisiensi Pengembangan PLTS Terapung
PLTS terapung memungkinkan pembangunan pembangkit tanpa proses pembebasan lahan. Sistem ini memanfaatkan area genangan air yang telah tersedia. Hal tersebut membuat tahapan awal proyek menjadi lebih sederhana.
Keberadaan lahan yang siap pakai berdampak langsung pada efisiensi biaya produksi. Pengembang tidak perlu mengalokasikan anggaran besar untuk pengadaan lahan baru. Dengan demikian, investasi dapat difokuskan pada teknologi dan operasional.
Pengembangan PLTS terapung juga dinilai lebih ramah lingkungan. Area daratan tetap dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain. Sementara itu, permukaan air bendungan memperoleh nilai tambah secara ekonomis.
Bendungan Sebagai Modal Energi Daerah
Nusa Tenggara Barat memiliki total 77 bendungan yang tersebar di berbagai wilayah. Infrastruktur tersebut menjadi modal besar untuk mendorong pengembangan energi terbarukan. Keberadaannya membuka peluang menjadikan daerah ini sebagai pusat EBT kawasan tengah Indonesia.
Salah satu bendungan yang menarik perhatian investor adalah Bendungan Bintang Bano. Bendungan ini berada di Kabupaten Sumbawa Barat dan memiliki kapasitas tampung yang besar. Luas genangannya memungkinkan pengembangan PLTS terapung dalam skala signifikan.
Bendungan Bintang Bano mampu menampung air hingga puluhan juta meter kubik. Selain itu, bendungan ini juga berfungsi mengairi ribuan hektare lahan pertanian. Kombinasi fungsi tersebut menjadikannya aset strategis bagi pembangunan daerah.
Potensi Energi Terbarukan NTB
Potensi energi terbarukan di Nusa Tenggara Barat tergolong sangat besar. Data menunjukkan kapasitas energi bersih daerah ini mencapai lebih dari 13 ribu megawatt. Energi surya menjadi kontributor terbesar dalam potensi tersebut.
Selain tenaga surya, daerah ini juga memiliki potensi energi angin yang signifikan. Potensi tersebut mencapai ribuan megawatt dan tersebar di beberapa wilayah. Kondisi geografis NTB mendukung pemanfaatan sumber energi ini.
Sumber energi terbarukan lainnya juga tersedia dalam jumlah yang tidak sedikit. Bioenergi dan pengolahan sampah kota turut menjadi bagian dari potensi energi bersih daerah. Seluruh potensi ini memperkuat posisi NTB dalam transisi energi nasional.
Intensitas Radiasi Matahari Tinggi
Wilayah Nusa Tenggara Barat memiliki intensitas penyinaran matahari yang tinggi. Rata-rata intensitas penyinaran mencapai lebih dari empat watt per meter persegi per jam. Kondisi ini sangat mendukung pengembangan PLTS.
Pengukuran di salah satu wilayah menunjukkan radiasi energi surya dominan tinggi. Nilai rata-rata radiasi mencapai ratusan watt per meter persegi. Hasil ini memperkuat kelayakan investasi energi surya di daerah tersebut.
Pengukuran jangka panjang juga menunjukkan keunggulan NTB dibanding daerah lain. Intensitas radiasi matahari di wilayah ini tercatat sebagai yang tertinggi di Indonesia. Kabupaten Sumbawa menjadi salah satu wilayah dengan nilai radiasi paling besar.
Arah Pengembangan Energi Berkelanjutan
Selain energi surya, NTB juga memiliki potensi energi terbarukan lainnya. Energi angin, panas bumi, dan biomassa menjadi sumber alternatif yang dapat dikembangkan. Diversifikasi ini penting untuk ketahanan energi daerah.
Pengembangan berbagai sumber energi terbarukan dinilai saling melengkapi. Ketergantungan pada satu jenis energi dapat dikurangi. Hal ini membuat sistem energi menjadi lebih stabil.
Dengan potensi yang dimiliki, NTB memiliki peluang besar menjadi pusat energi bersih. Optimalisasi bendungan untuk PLTS terapung menjadi langkah awal yang strategis. Upaya ini diharapkan mampu mendorong pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau di daerah.