Pemantauan Harga Sembako Jatim Penting untuk Stabilkan Belanja Harian Masyarakat

Rabu, 28 Januari 2026 | 13:51:24 WIB
Pemantauan Harga Sembako Jatim Penting untuk Stabilkan Belanja Harian Masyarakat

JAKARTA - Harga sembako di Jawa Timur menunjukkan dinamika yang berbeda-beda hari ini. 

Beberapa komoditas mengalami kenaikan, seperti cabai keriting, cabai besar, cabai rawit, dan minyak goreng premium. Sementara itu, daging sapi, daging ayam kampung, telur, dan bawang merah justru mengalami penurunan harga.

Memantau perkembangan harga sembako menjadi penting bagi rumah tangga. Informasi harga harian membantu masyarakat mengatur anggaran agar tidak berlebihan. Hal ini juga berfungsi menjaga kestabilan pengeluaran di tengah fluktuasi harga.

Sembako, atau sembilan bahan pokok, menjadi kebutuhan dasar setiap keluarga. Komoditas ini mencakup beras, gula pasir, minyak goreng, mentega, daging sapi, daging ayam, telur, susu, bawang merah, bawang putih, gas elpiji, minyak tanah, dan garam. 

Di samping itu, cabai menjadi bahan dapur penting yang turut memengaruhi pengeluaran sehari-hari.

Perkembangan Harga Sembako Hari Ini

Beras premium berada pada harga Rp 14.854 per kilogram, sedangkan beras medium Rp 12.893 per kilogram. Minyak goreng curah dibanderol Rp 18.630 per liter, dan minyak goreng kemasan premium naik menjadi Rp 20.564 per liter. 

Harga cabai merah keriting tercatat Rp 27.668 per kilogram, cabai merah besar Rp 26.353 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp 50.864 per kilogram.

Daging sapi turun menjadi Rp 119.207 per kilogram, daging ayam ras Rp 35.906 per kilogram, dan daging ayam kampung Rp 68.574 per kilogram. 

Telur ayam ras berada di Rp 27.417 per kilogram, sedangkan telur ayam kampung turun menjadi Rp 45.576 per kilogram. Bawang merah tercatat Rp 33.339 per kilogram dan bawang putih Rp 32.735 per kilogram.

Selain itu, harga susu kental manis merek Bendera Rp 12.658 per 370 gram, Indomilk Rp 12.621 per 370 gram, susu bubuk Bendera Rp 41.640 per 400 gram, dan Indomilk Rp 41.094 per 400 gram. Gas elpiji stabil di Rp 19.861 per tabung. Garam bata Rp 1.782 dan garam halus Rp 9.378 per kilogram.

Faktor Penyebab Perubahan Harga

Perubahan harga sembako dipengaruhi banyak faktor. Permintaan yang meningkat dengan penawaran tetap cenderung mendorong harga naik. Sebaliknya, kelebihan pasokan membuat harga turun secara alami.

Cuaca dan bencana alam juga memengaruhi produksi pertanian. Kekurangan pasokan akibat cuaca ekstrem membuat beberapa bahan pokok lebih mahal. Kebijakan pemerintah, seperti impor, subsidi, atau pajak, turut menentukan harga akhir di pasaran.

Biaya produksi yang meningkat, termasuk pupuk, bahan bakar, dan upah pekerja, berkontribusi pada kenaikan harga. Fluktuasi nilai tukar mata uang juga berdampak, terutama pada bahan pokok impor. Inflasi dan kondisi ekonomi yang tidak stabil menambah tekanan pada harga sembako.

Dampak pada Rumah Tangga

Perubahan harga sembako langsung memengaruhi belanja rumah tangga. Masyarakat perlu menyesuaikan anggaran agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi. Pemantauan harga harian menjadi strategi penting agar pengeluaran tidak membengkak.

Harga yang berbeda di setiap pasar menuntut kewaspadaan konsumen. Membandingkan harga dan mencari alternatif dapat membantu menekan pengeluaran. Dengan informasi yang akurat, rumah tangga bisa membeli bahan pokok sesuai kebutuhan.

Konsistensi pemantauan harga sembako membantu masyarakat merencanakan belanja jangka pendek dan panjang. Strategi ini penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan harian dan kemampuan finansial. Rumah tangga yang cermat akan lebih siap menghadapi fluktuasi harga.

Strategi Mengelola Belanja

Masyarakat dianjurkan memprioritaskan bahan pokok yang paling dibutuhkan. Pembelian cabai, minyak goreng, dan daging bisa disesuaikan dengan kebutuhan harian. Sementara itu, komoditas yang stabil dapat dibeli dalam jumlah lebih banyak untuk mengurangi frekuensi belanja.

Memanfaatkan informasi harga rata-rata menjadi panduan penting. Hal ini membantu menyiapkan anggaran yang realistis. Dengan strategi tepat, belanja rumah tangga tetap efisien tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.

Kesadaran akan fluktuasi harga mendorong masyarakat lebih bijak dalam mengelola pengeluaran. Pemilihan pasar, perbandingan harga, dan pembelian terencana menjadi kunci menjaga kestabilan finansial. Langkah ini juga mengurangi risiko pengeluaran berlebihan saat harga bahan pokok naik.

Terkini